Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki peranan strategis dalam mempersiapkan tenaga kerja terampil yang mampu bersaing di dunia industri. Namun, dalam perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis, SMK memiliki tantangan besar untuk memastikan bahwa siswanya tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi kemampuan untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan yang cepat. SMK Negeri 10 Semarang sebagai salah satu sekolah dengan berbagai jurusan keahlian, memiliki potensi luar biasa dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu berinovasi dalam bidangnya masing-masing. Salah satu cara untuk menggali potensi siswa SMK adalah dengan memberikan kebebasan kepada siswa dalam berinovasi. Melalui kebebasan ini, siswa diharap mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui kreativitas serta mampu menemukan solusi-solusi baru yang dapat diterapkan dalam berbagai sektor. Artikel ini akan mengulas bagaimana pemberian kebebasan dalam berinovasi dapat menggali potensi siswa SMK, dengan studi kasus pada SMKN 10 Semarang yang memiliki Sembilan jurusan keahlian.
SMK adalah lembaga pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri. Di SMK, siswa diharapkan tidak hanya mendapatkan pengetahuan dasar, tetapi juga mendapatkan keterampilan praktis yang langsung dapat diterapkan di dunia kerja. Salah satu aspek penting dalam pendidikan SMK adalah kemampuan berinovasi. Menurut Luecke (2003:2) Inovasi merupakan suatu proses untuk mewujudkan, mengkombinasikan, atau mematangkan suatu pengetahuan atau gagasan ide yang kemudian disesuaikan guna mendapat nilai baru suatu proses dan jasa. Kemampuan untuk berinovasi bagi anak SMk yaitu kreatif and mampu menciptakan solusi baru yang dapat meningkatkan kualitas atau efisiensi dalam bidang tertentu. Dengan memberikan kebebasan dalam berinovasi, siswa dapat mengembangkan ide-ide baru yang tidak hanya berguna untuk mereka secara pribadi tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat atau industri.
Siswa SMK memiliki berbagai potensi yang dapat digali jika diberi ruang untuk berinovasi. Misalnya di SMK N 10 Semarang yang memiliki sembilan kompetensi keahlian, diantaranya Konstruksi Kapal Baja (KKB), Manajemen Logistik (MANLOG), Perawatan Bodi Otomotif (PBO), Teknik Pemesinan Kapal (TPK), Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM), Nautika Kapal Niaga (NKN), Rekayasa Perangkat Lunak dan Game (RPLG), dan Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam (TPFL). Setiap kompetensi keahlian mempersiapkan siswa untuk menguasai bidang tertentu yang memiliki relevansi tinggi dengan perkembangan industri sekarang ini. Dengan adanya kebebasan untuk berinovasi, siswa diharapkan mampu menciptakan terobosan baru di bidang mereka masing-masing. Misalnya, siswa jurusan Konstruksi Kapal Baja (KKB) dapat berinovasi dalam merancang kapal dengan desain yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sedangkan siswa Rekayasa Perangkat Lunak dan Game (RPLG) bisa mengembangkan aplikasi atau game yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai edukatif sosial.
Pemberian kebebasan dalam berinovasi bagi siswa SMK bukan berarti membiarkan siswa tanpa panduan atau batasan, tetapi dengan memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kreatif dan melakukan banyak eksperimen. Kebebasan ini dapat diterapkan dengan berbagai cara. Misalnya dengan memberikan proyek mandiri dan kolaboratif, fasilitas dan infrastruktur pendukung, dan mentoring dan pembimbingan.
Proyek mandiri dan kolaboratif dapat diberikan dengan memberikan tugas proyek yang memungkinkan siswa untuk bekerja secara mandiri atau kelompok untuk mengembangakan ide-ide kreatif mereka. Kolaborasi antar jurusan dapat menjadi salah satu contoh untuk meningkatkan kreativitas mereka. misalnya, siswa jurusan Manajemen Logistik dan Rekayasa Perangkat Lunak dapat bekerja sama untuk menciptakan solusi logistic berbasis teknologi informasi.
Menyediakan fasilitas yang memadai seperti laboratorium teknik, ruang komputer, serta peralatan dan material yang relevan dengan jurusan dapat mempermudah siswa untuk mengekspresikan ide-ide inovatif mereka. Setiap sekolah kejuruan perlu memastikan bahwa setiap jurusan memiliki akses ke peralatan yang diperlukan untuk eksperimen dan inovasi.
Pengawasan dan pembimbingan dari guru atau praktisi industri juga penting dalam mendorong siswa untuk berinovasi. Pembimbing dibutuhkan untuk memberikan arahan yang tepat sehingga ide-ide siswa dapat diwujudkan dengan cara yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri.
Manfaat yang diperoleh dari pemberian kebebasan dalam berinovasi bagi siswa SMK yaitu meningkatkan keterampilan kreatif dan problem solving, meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri, menghadirkan solusi baru untuk industri, dan menyiapkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja. Meski pemberian kebebasan dalam berinovasi memiliki banyak manfaat, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi fasilitas maupun SDM. SMK N 10 telah menjalin kemitraan dengan industri di berbagai sektor sesuai dengan bidang keahlian. Misalnya SMK N 10 Semarang bekerja sama dengan PT. Bulog Kanwil Jawa tengah pada tahun 2024. Jalinan kemitraan tersebut terus dikembangkan dan diperluas. Selain itu, ada juga tantangan dalam hal pengelolaan waktu dan evaluasi. Inovasi membutuhkan waktu, dan untuk memastikan bahwa hasil yang dicapai sesuai dengan standar pendidikan perlu adanya sistem evaluasi yang baik. Guru atau pembimbing harus dapat menilai hasil inovasi siswa secara objektif, bukan hanya berdasarkan seberapa banyak ide baru yang dihasilkan, tetapi juga seberapa besar dampak inovasi tersebut terhadap industri atau masyarakat.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Fajar Puji Charisma, S.S., Mahasiswa PPL PPG Unissula
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar