Coding hingga hari ini masih menjadi topik yang menimbulkan dilema di kalangan siswa. Di satu sisi, mereka menyadari bahwa keterampilan ini sangat penting di era digital, bahkan menjadi kunci untuk menembus dunia industri teknologi yang terus berkembang. Namun, di sisi lain, coding kerap dianggap sebagai sesuatu yang rumit, membingungkan, dan penuh dengan tantangan teknis. Kompleksitas sintaks, logika pemrograman yang berlapis-lapis, serta pendekatan pembelajaran yang sering kali terlalu teoritis membuat banyak siswa merasa cepat kewalahan. Akibatnya, motivasi untuk belajar coding pun menurun drastis. Mereka menganggap pemrograman sebagai dunia yang terlalu kaku, penuh aturan, dan hanya bisa dikuasai oleh segelintir orang yang “jenius”.
Padahal, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Coding bukanlah keterampilan yang hanya bisa dikuasai oleh mereka yang punya bakat khusus. Justru, coding adalah kompetensi yang dapat dipelajari siapa saja selama didukung dengan strategi pembelajaran yang tepat, berkesinambungan, serta berbasis praktik nyata. Dunia kerja masa kini membutuhkan tenaga terampil yang mampu berpikir logis, memecahkan masalah, dan menguasai bahasa pemrograman. Keterampilan coding kini tidak hanya menjadi milik para software engineer atau programmer profesional, melainkan telah merambah ke berbagai bidang, mulai dari data science, desain web, kecerdasan buatan, hingga analisis bisnis. Dengan kata lain, coding adalah literasi baru abad ke-21 yang wajib dikuasai oleh generasi muda.
Sayangnya, metode pembelajaran konvensional yang masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah belum sepenuhnya mendukung kebutuhan ini. Cara mengajar yang terlalu pasif, satu arah, dan didominasi ceramah guru sering kali membuat siswa kehilangan kesempatan untuk bereksperimen. Pemahaman mendalam di bidang pemrograman seharusnya dibentuk melalui praktik langsung, trial and error, serta pengalaman menghadapi error yang nyata. Namun, ruang untuk hal ini masih terbatas. Siswa jarang diberi kesempatan mengelola proyek nyata, melatih logika secara mandiri, atau mencoba pendekatan baru dalam penyelesaian masalah.
Untuk menjawab tantangan ini, dibutuhkan media dan sumber belajar yang lebih interaktif, kontekstual, serta mampu mendorong keterlibatan aktif siswa, baik secara kognitif maupun praktikal. Salah satu solusi potensial adalah freeCodeCamp, sebuah platform pembelajaran coding berbasis open source yang menawarkan pengalaman belajar berbeda. Tidak seperti buku teks atau modul teori biasa, freeCodeCamp menyajikan pembelajaran coding dalam bentuk interaktif, berbasis latihan langsung, serta dirancang dengan pendekatan project-based learning. Di sini, siswa bisa belajar berbagai bahasa pemrograman populer seperti HTML, CSS, JavaScript, hingga Python dengan cara yang praktis.
Keunggulan utama freeCodeCamp adalah desainnya yang mendorong siswa untuk belajar melalui praktik, bukan sekadar hafalan. Setiap modul pembelajaran tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga langsung mengajak siswa menuliskan kode, menjalankan program, lalu mengamati hasilnya. Lebih menarik lagi, platform ini menyediakan tantangan berbasis proyek, di mana siswa harus membangun aplikasi atau website sederhana sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan begitu, setiap pengetahuan yang diperoleh akan langsung terhubung dengan pengalaman nyata. Setiap modul yang diselesaikan pun menghasilkan sertifikat, yang tidak hanya berfungsi sebagai bukti kompetensi, tetapi juga sebagai motivasi tambahan bagi siswa untuk terus melanjutkan perjalanan belajarnya.
Namun, platform secanggih apa pun tidak akan optimal tanpa adanya keterampilan belajar yang baik dari siswa. Di sinilah Self-Regulated Learning (SRL) atau pembelajaran yang diatur sendiri memainkan peranan penting. Konsep SRL menekankan bahwa siswa harus mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri. Dalam model ini, guru bukan lagi satu-satunya pusat informasi, melainkan lebih berperan sebagai fasilitator yang mendampingi dan mengarahkan. Siswa lah yang memegang kendali penuh terhadap proses belajar mereka: mulai dari menentukan target belajar, mengatur waktu, memilih strategi, hingga mengoreksi kesalahan sendiri.
Kombinasi antara freeCodeCamp dan SRL menciptakan kolaborasi yang sangat kuat. freeCodeCamp memberikan sarana interaktif berbasis proyek yang kaya dengan pengalaman praktis, sementara SRL membekali siswa dengan kemampuan untuk mengelola proses belajar tersebut secara mandiri dan terstruktur. Bagi siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), kolaborasi ini menghadirkan peluang emas untuk belajar coding secara lebih efektif, fleksibel, dan sesuai dengan gaya belajar masing-masing individu. Mereka tidak hanya belajar “bagaimana menulis kode”, tetapi juga belajar bagaimana mengelola diri, waktu, dan strategi dalam menghadapi tantangan pemrograman.
Sebagai guru di SMK Negeri 10 Semarang, saya mencoba menerapkan pendekatan ini dalam proses pembelajaran coding. Eksperimen dilakukan dengan menjadikan freeCodeCamp sebagai media utama pembelajaran pemrograman web. Di sisi lain, model Self-Regulated Learning diterapkan sebagai pendekatan pedagogis yang membimbing siswa untuk mengatur perjalanan belajarnya sendiri. Dalam praktiknya, siswa diarahkan untuk memulai dengan modul-modul dasar seperti Responsive Web Design, kemudian berlanjut ke modul lanjutan seperti JavaScript Algorithms and Data Structures. Guru berperan sebagai fasilitator yang merancang alur pembelajaran, memberikan arahan, sekaligus menantang siswa untuk menyelesaikan proyek-proyek tertentu.
Proses belajar berlangsung secara bertahap dan mandiri. Siswa diberi target untuk menyelesaikan sejumlah modul dalam periode tertentu, lalu diminta mendemonstrasikan hasil belajarnya melalui proyek kecil. Setiap kali mereka berhasil menyelesaikan modul, mereka mendapatkan sertifikat dari freeCodeCamp. Sertifikat ini tidak hanya menjadi bukti pencapaian, tetapi juga menjadi motivasi internal untuk terus melangkah ke tahap berikutnya. Tidak jarang, beberapa siswa menunjukkan antusiasme luar biasa hingga tampak “kecanduan” menyelesaikan tantangan-tantangan pemrograman. Mereka bahkan melanjutkan latihan di luar jam sekolah karena merasa tertantang dan penasaran untuk menyelesaikan level berikutnya.
Hasil observasi selama penerapan metode ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Jika sebelumnya kelas coding cenderung pasif dengan siswa yang hanya menunggu instruksi guru, kini suasana berubah lebih hidup. Siswa lebih aktif bertanya, berdiskusi, bahkan saling membantu memecahkan error yang ditemui. Suasana kolaboratif terbentuk secara alami, karena mereka sadar bahwa coding bukan sekadar tentang “siapa yang paling pintar”, melainkan tentang proses berulang belajar dari kesalahan.
Selain itu, kemampuan teknis siswa juga meningkat. Mereka tidak hanya memahami konsep dasar coding, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam bentuk nyata. Beberapa siswa berhasil membuat website sederhana, aplikasi kalkulator, hingga sistem interaktif kecil yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Proyek-proyek semacam ini menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek yang ditawarkan freeCodeCamp memang efektif untuk menumbuhkan keterampilan praktis sekaligus membangun kepercayaan diri siswa.
Lebih jauh lagi, pendekatan ini juga membentuk sikap belajar mandiri yang sangat relevan dengan dunia kerja modern. Industri teknologi saat ini membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya pintar secara teknis, tetapi juga mampu belajar cepat, beradaptasi, dan bekerja secara mandiri. Melalui Self-Regulated Learning, siswa dilatih untuk memiliki disiplin diri, keterampilan mengatur waktu, serta keberanian menghadapi tantangan tanpa selalu menunggu arahan. Kemampuan seperti inilah yang akan membedakan mereka di dunia kerja nanti.
Inisiatif penerapan freeCodeCamp yang dipadukan dengan Self-Regulated Learning di SMK Negeri 10 Semarang membuktikan bahwa transformasi digital dalam pendidikan bukan sekadar jargon. Dengan strategi yang tepat, siswa mampu belajar coding secara lebih efektif, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pendekatan ini juga dapat menjadi contoh praktik baik bagi sekolah kejuruan lain di Indonesia dalam mengimplementasikan pembelajaran digital yang adaptif dan kontekstual.
Pada akhirnya, coding bukanlah momok yang menakutkan. Dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, keterampilan ini justru dapat menjadi arena menyenangkan untuk berkreasi, bereksperimen, dan mengasah logika berpikir. freeCodeCamp menghadirkan sarana interaktif yang membuat belajar coding lebih nyata, sementara Self-Regulated Learning memberikan bekal kemandirian untuk mengelola perjalanan belajar. Sinergi keduanya menjadikan coding tidak lagi sulit, melainkan tantangan menarik yang bisa ditaklukkan oleh siapa saja.
Jika pendidikan kita ingin melahirkan generasi yang siap menghadapi revolusi industri 4.0 dan era digital, maka inisiatif seperti ini perlu diperluas. Guru-guru di seluruh Indonesia dapat menjadikan kombinasi freeCodeCamp dan Self-Regulated Learning sebagai inspirasi untuk menghadirkan pembelajaran coding yang lebih interaktif, fleksibel, dan sesuai kebutuhan siswa. Dengan cara ini, kita bisa menyiapkan generasi muda yang tidak hanya mahir menulis kode, tetapi juga memiliki karakter tangguh, mandiri, dan siap bersaing di panggung global.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Hana Aeni Mustahibah, Mahasiswa Lantip 5 UNNES, Mapel Web Front End
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar