Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang unik karena dibangun dengan unsur-unsur puitika seperti diksi, asosiasi, majas, imaji, rima, dan irama (Marwati & Waskitaningtyas, 2021). Unsur-unsur tersebut berpadu untuk menciptakan keindahan sekaligus kekuatan makna dalam setiap larik puisi. Tidak seperti bentuk tulisan lainnya yang cenderung lugas, puisi justru mengandalkan kepekaan rasa dan penafsiran. Puisi menuntut pemahaman lebih dalam karena sarat makna dan sering kali menggunakan bahasa kiasan seperti majas, simbol, serta metafora. Oleh sebab itu, memahami puisi tidak cukup hanya dengan membaca permukaannya saja, melainkan juga perlu mengamati bagaimana bahasa digunakan secara kreatif dan mendalam untuk menyampaikan pesan dan emosi penyair. Dalam pembelajaran sastra di sekolah, memahami puisi menjadi tantangan tersendiri bagi siswa. Tidak sedikit dari mereka yang merasa kesulitan menafsirkan puisi karena strukturnya yang padat dan maknanya yang terrsirat.
Namun, di balik tantangan tersebut, puisi menyimpan banyak keindahan dan nilai-nilai yang dapat memperkaya kepekaan dan pemikiran siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menemukan cara pembelajaran yang dapat membuka pintu pemahaman siswa terhadap puisi. Di kelas XI TSM 1, salah satu cara yang digunakan adalah dengan menerapkan model Problem-Based Learning (PBL). PBL sendiri merupakan sebuah strategi pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas belajar melalui pemecahan masalah nyata (Ardianti, Sujarwanto, & Surahman, 2021).
PBL menjadi angin segar dalam pembelajaran puisi. Dalam metode ini, guru tidak langsung menjelaskan teori atau unsur-unsur puisi di awal. Sebaliknya, siswa diajak masuk ke dalam teks puisi terlebih dahulu, mengamati, menafsirkan, lalu mencoba menemukan sendiri elemen-elemen pembangunnya. Mereka bekerja dalam kelompok untuk membahas puisi yang disajikan, mencari tema, amanat, diksi yang digunakan, gaya bahasa, rima, dan struktur fisiknya. Proses ini menjadikan puisi sebagai “masalah” yang harus dipecahkan melalui diskusi, analisis, dan penalaran bersama.
Kegiatan ini memberi ruang kepada siswa untuk menjadi aktif, bukan hanya sebagai penerima materi. Mereka didorong untuk mengungkapkan pemikiran, menghargai pendapat orang lain, dan mempertimbangkan berbagai interpretasi yang muncul. PBL menciptakan suasana belajar yang dinamis, di mana siswa belajar dari pengalaman, bukan sekadar dari penjelasan guru. Bahkan siswa yang sebelumnya cenderung diam, mulai terlibat karena merasa memiliki peran dalam kelompok.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga melatih keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Saat mendiskusikan puisi, siswa terbiasa menyampaikan pendapat dengan argumen yang logis dan saling mendukung satu sama lain. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi dan membantu siswa menggali makna lebih dalam. Dengan begitu, pembelajaran menjadi lebih humanis, menyenangkan, dan bermakna. Seperti yang dijelaskan oleh Ardianti dkk. (2021), PBL tidak hanya mengembangkan pengetahuan konseptual, tetapi juga keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi.
Salah satu pengalaman menarik dari penerapan PBL ini terjadi ketika siswa diminta menganalisis puisi Cahaya Ilmu. Masing-masing kelompok memiliki penafsiran berbeda terhadap makna puisi, dan perbedaan ini justru memicu diskusi yang kaya dan mendalam. Dari situ, mereka belajar bahwa puisi tidak selalu memiliki satu makna tunggal, melainkan bisa dimaknai beragam tergantung sudut pandangnya. Inilah nilai lebih dari pembelajaran berbasis masalah memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi dan mengalami langsung proses berpikir kritis.
Pembelajaran puisi tidak harus terasa kaku atau sulit dipahami. Dengan menggunakan strategi Problem-Based Learning (PBL), siswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran dan lebih mudah memahami unsur-unsur pembangun puisi. Di kelas XI TSM 1, pendekatan ini membantu siswa untuk mendiskusikan puisi secara bersama-sama, mencari makna di balik kata-kata, serta menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari. Mereka tidak hanya mengenal unsur-unsur seperti diksi, rima, dan majas, tetapi juga belajar memahami bagaimana unsur tersebut bekerja dalam membangun makna. Strategi PBL ini dapat menjadi salah satu alternatif yang baik untuk diterapkan dalam pembelajaran puisi karena mampu mendorong keterlibatan siswa dan memudahkan mereka dalam memahami teks sastra dengan cara yang lebih kontekstual dan bermakna.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Dyah Wiyati Kusumaningtyas, S.Pd., Mahasiswa PPL PPG Unissula
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar