Pendidikan kejuruan memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru melalui jiwa kewirausahaan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu bentuk pendidikan kejuruan di Indonesia diarahkan untuk membekali siswa dengan keterampilan vokasional, kemampuan adaptasi, serta kreativitas yang relevan dengan tuntutan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Dalam konteks ini, mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKKWU) menjadi salah satu instrumen penting untuk menumbuhkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kewirausahaan pada siswa.
PKKWU dirancang agar siswa mampu memahami konsep dasar kewirausahaan, merancang ide bisnis, memproduksi barang atau jasa, hingga memasarkan hasil karyanya secara efektif. Kurikulum pembelajaran ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi siswa untuk berlatih menghadapi dinamika pasar yang kompetitif, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kreatif dan inovatif. Lebih jauh lagi, pembelajaran PKKWU juga diorientasikan pada pembentukan mental wirausaha yang berani mengambil risiko, tangguh, dan mampu memanfaatkan peluang. Di SMK Negeri 10 Semarang, mata pelajaran PKKWU menjadi salah satu bagian penting dari kurikulum sekolah. Pembelajaran dilaksanakan dengan memadukan teori dan praktik, mulai dari pengenalan konsep kewirausahaan, perencanaan usaha, hingga simulasi penjualan produk. Secara umum, siswa menunjukkan kreativitas yang tinggi dalam menciptakan ide-ide usaha, baik berupa produk fisik maupun jasa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kreativitas tersebut sering kali terhambat ketika dihadapkan pada tantangan nyata dunia usaha, seperti keterbatasan modal, ketatnya persaingan pasar, perubahan tren konsumen, serta minimnya pengalaman langsung dalam mengelola bisnis secara berkelanjutan.
Pembelajaran PKKWU di SMK Negeri 10 Semarang dirancang untuk membekali siswa dengan kompetensi perencanaan usaha, strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, dan keterampilan produksi. Analisis menunjukkan bahwa konten pembelajaran masih didominasi oleh teori, sementara materi terkait tren bisnis digital, seperti e-commerce, pemasaran melalui media sosial, dan strategi digital branding, belum mendapatkan porsi yang memadai. Kondisi ini berpotensi membuat siswa kurang siap menghadapi perubahan pola bisnis modern yang kini sangat mengandalkan teknologi. Di era di mana transaksi daring menjadi bagian dari rutinitas ekonomi, minimnya pembahasan tentang pemasaran digital dapat menciptakan kesenjangan kompetensi antara lulusan dengan kebutuhan nyata dunia usaha.
Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru umumnya memadukan ceramah dengan diskusi kelompok, serta diselingi praktik usaha. Meskipun praktik tersebut memberi kesempatan siswa untuk mengaplikasikan teori, pelaksanaannya sering kali bersifat simulasi dan tidak benar-benar menyentuh pasar sesungguhnya. Misalnya, kegiatan produksi dan penjualan hanya berlangsung di lingkungan sekolah atau dalam konteks pameran internal, tanpa uji langsung terhadap konsumen di luar. Model project-based learning sudah diperkenalkan, tetapi implementasinya belum maksimal karena keterbatasan modal, waktu, dan akses terhadap mitra bisnis. Hal ini membuat proses pembelajaran kehilangan elemen real market challenge yang sebenarnya penting untuk membentuk mental wirausaha tangguh.
Kompetensi guru PKKWU juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran. Guru yang memiliki latar belakang pengalaman bisnis cenderung mampu memberikan studi kasus yang konkret, membagikan strategi praktis, dan memotivasi siswa dengan wawasan lapangan. Namun, guru yang latar belakangnya murni akademis sering kali lebih terfokus pada penyampaian materi teoretis dan prosedural, sehingga kurang memberikan gambaran nyata tentang dinamika dunia usaha. Perbedaan ini memengaruhi variasi kualitas pembelajaran antar kelas, yang pada akhirnya berdampak pada kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan pasar.
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran PKKWU tergolong cukup tinggi pada tahap awal, terutama saat mereka diminta merancang dan membuat produk. Banyak siswa yang menunjukkan kreativitas dalam menciptakan ide usaha yang unik. Keberlanjutan usaha setelah proyek selesai masih menjadi masalah. Sebagian besar ide bisnis berhenti setelah tahap presentasi atau pameran sekolah, tanpa kelanjutan ke tahap pemasaran jangka panjang. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara semangat berkreasi di kelas dengan kemampuan mempertahankan dan mengembangkan usaha dalam realitas pasar yang kompetitif.
Pembelajaran PKKWU di SMK Negeri 10 Semarang telah berhasil menumbuhkan kreativitas siswa dalam merancang ide usaha dan memproduksi produk atau jasa. Namun, proses pembelajaran masih didominasi oleh materi teoretis dan simulasi internal, sehingga belum sepenuhnya mempersiapkan siswa menghadapi tantangan nyata dunia usaha. Minimnya pembahasan tren bisnis digital, keterbatasan modal, waktu, serta akses mitra bisnis menjadi kendala utama dalam penerapan pembelajaran berbasis pasar nyata. Variasi kompetensi guru juga memengaruhi kualitas pembelajaran, di mana guru dengan pengalaman bisnis cenderung lebih efektif memberikan wawasan praktis. Meskipun keterlibatan siswa tinggi pada tahap awal, keberlanjutan usaha mereka masih rendah, menunjukkan adanya kesenjangan antara kreativitas yang dibangun di kelas dengan kemampuan mempertahankan usaha di pasar yang kompetitif.
“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Muhammad Ilham Maulana, Mahasiswa Lantip 5 Unnes
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar