Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Afirmasi Positif sebagai Pemicu Kognitif dalam Pembelajaran Eksponen

Diterbitkan :

Pembelajaran matematika telah bertransformasi melampaui sekadar rumus dan angka. Di SMK Negeri 10 Semarang, pendekatan yang lebih humanis dan inklusif diterapkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Salah satu strategi inovatif yang diterapkan adalah afirmasi positif sebelum pembelajaran dimulai. Pendekatan ini bertujuan mempersiapkan siswa secara mental dan merangsang kemampuan kognitif mereka, khususnya dalam mempelajari materi yang kompleks seperti eksponen. Dengan menciptakan suasana belajar yang positif, siswa menjadi lebih siap untuk menghadapi tantangan akademik dengan percaya diri dan antusiasme.

Materi eksponen sering kali menjadi hambatan bagi siswa karena sifatnya yang abstrak dan aturan operasinya yang kompleks. Konsep bilangan berpangkat menuntut pemahaman mendalam tentang hubungan antara angka, pangkat, dan pola perhitungan yang tidak selalu mudah dipahami. Untuk mengatasi tantangan ini, guru di SMKN 10 Semarang mengintegrasikan afirmasi positif melalui aktivitas seperti permainan matematika ringan, ice breaking kolaboratif, dan yel-yel penyemangat. Aktivitas ini terbukti meningkatkan konsentrasi, motivasi, dan kemampuan siswa untuk memahami eksponen secara lebih logis dan menyenangkan, menjadikan pembelajaran lebih hidup dan interaktif.

Afirmasi positif diwujudkan melalui serangkaian kegiatan yang dirancang untuk membangun suasana belajar yang kondusif. Sebelum pelajaran dimulai, siswa diajak bermain permainan matematika sederhana, seperti tebak-tebakan logika matematika atau kuis cepat tentang operasi eksponen, untuk merangsang pemikiran kritis. Ice breaking kolaboratif juga diterapkan untuk membangun kerja sama antar siswa dan mengurangi ketegangan.  Selain itu, yel-yel motivasi seperti “Matematika hari ini? Easy Peasy Lemon Squeeze!” diserukan bersama di awal pembelajaran sebagai bentuk afirmasi positif yang sederhana namun penuh makna. Kalimat ini tidak hanya menciptakan suasana ceria dan menyatukan energi kelas, tetapi juga ditanamkan sebagai sugesti bahwa matematika bukanlah momok yang sulit. Harapannya, melalui pengulangan afirmasi ini secara konsisten, siswa membentuk pola pikir bahwa belajar matematika dapat menjadi aktivitas yang mudah, menyenangkan, dan tidak menegangkan atau dengan kata lain, easy peasy lemon squeezy di setiap pertemuan berikutnya.

Dalam penerapannya di kelas, pendekatan ini dimulai dengan aktivitas seperti “Tantangan Eksponen”, di mana siswa dikelompokkan secara acak untuk menghitung bilangan berpangkat berdasarkan petunjuk yang diberikan. Permainan ini tidak hanya melatih keterampilan berhitung, tetapi juga mendorong kreativitas dan komunikasi dalam kelompok. Setelah itu, yel-yel penyemangat membantu siswa memandang eksponen sebagai konsep yang dapat dikuasai, bukan aturan kaku. Hasilnya, siswa menjadi lebih aktif bertanya, berani mencoba soal-soal eksploratif, dan mampu memahami eksponen sebagai alat berhitung yang logis dan dapat diterapkan dalam konteks nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Pendekatan afirmasi positif ini menghasilkan dampak positif yang signifikan. Berdasarkan pengamatan di SMKN 10 Semarang, lebih banyak siswa yang mampu menjelaskan konsep bilangan berpangkat dengan bahasa mereka sendiri, menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam. Siswa juga menjadi lebih percaya diri dalam menyelesaikan soal-soal eksploratif dan berbagi proses berpikir mereka di depan kelas. Suasana kelas menjadi lebih dinamis, dengan tingkat distraksi yang minim dan partisipasi yang meningkat. Lebih penting lagi, afirmasi positif menumbuhkan motivasi belajar jangka panjang, membantu siswa melihat matematika sebagai tantangan yang menyenangkan, bukan beban.

Pendekatan ini menjadi bukti bahwa suasana awal pembelajaran sangat menentukan kualitas proses dan hasil belajar. Di SMKN 10 Semarang, afirmasi positif telah menjadi jembatan antara kesiapan mental dan penguasaan materi matematika, tidak hanya untuk eksponen tetapi juga berpotensi untuk topik lain. Dengan menanamkan kepercayaan diri, semangat, dan kegembiraan, pendekatan ini menciptakan pembelajaran matematika yang inklusif dan memberdayakan. SMKN 10 Semarang berkomitmen untuk terus mengembangkan strategi inovatif ini, dengan visi mencetak generasi pembelajar yang kompeten dan percaya diri. “Ciptakan Suasana Positif, Bangkitkan Potensi Tanpa Batas”

 

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Lutfi Handayani, Mahasiswa Lantip 5 Unnes, Mapel Matematika

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar