Dalam beberapa tahun terakhir, arah kebijakan pendidikan nasional Indonesia mengalami perubahan signifikan melalui penerapan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan pengembangan kompetensi peserta didik secara utuh, tidak hanya pada penguasaan konten, tetapi juga pada kemampuan bernalar, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan tantangan global. Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris di jenjang SMA dan SMK, khususnya kelas XI dan XII, kurikulum nasional menargetkan capaian kemampuan bahasa siswa berada pada level B1 hingga B2 berdasarkan kerangka Common European Framework of Reference for Languages atau CEFR. Target ini tercermin secara eksplisit maupun implisit dalam berbagai bentuk evaluasi standar seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Ujian Sekolah, Tes Kemampuan Akademik (TKA), hingga seleksi masuk perguruan tinggi yang semakin menuntut kemampuan literasi bahasa Inggris yang memadai.
Capaian level B1–B2 bukanlah sekadar simbol atau angka dalam dokumen kurikulum. Kompetensi bahasa Inggris pada level tersebut menjadi prasyarat penting bagi keberhasilan akademik siswa, baik dalam memahami teks bacaan ilmiah, mengikuti instruksi akademik, maupun mengekspresikan gagasan secara lisan dan tertulis. Lebih jauh lagi, kemampuan ini juga berperan sebagai bekal kesiapan menghadapi dunia global yang menuntut komunikasi lintas budaya, akses terhadap sumber pengetahuan internasional, serta daya saing di dunia kerja dan pendidikan tinggi. Tanpa penguasaan bahasa Inggris yang memadai, siswa berisiko tertinggal dalam memanfaatkan peluang belajar dan berkembang di era globalisasi.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara target kurikulum dan kemampuan aktual peserta didik. Banyak siswa SMA dan SMK masih tertahan pada level A1 hingga A2, level dasar dalam kerangka CEFR, yang jauh dari harapan capaian B1–B2. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan sekaligus tantangan serius bagi guru, sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan. Ketika tuntutan evaluasi nasional dan seleksi akademik terus meningkat, sementara fondasi kemampuan bahasa siswa belum kokoh, proses pembelajaran berpotensi menjadi tidak efektif dan menimbulkan tekanan psikologis bagi peserta didik.
Untuk memahami kesenjangan tersebut, penting terlebih dahulu menelaah capaian kompetensi yang diharapkan pada level B1 dan B2. Pada level B1 atau intermediate, siswa diharapkan mampu memahami poin-poin utama dari teks yang jelas dan menggunakan bahasa standar, khususnya pada topik yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari seperti sekolah, pekerjaan, dan aktivitas sosial. Siswa juga diharapkan mampu menghadapi situasi umum yang mungkin muncul saat bepergian ke negara berbahasa Inggris, menulis teks sederhana namun koheren tentang topik yang dikenal, serta berinteraksi dengan cukup lancar dalam percakapan rutin tanpa terlalu banyak jeda atau ketergantungan pada bantuan pihak lain.
Sementara itu, pada level B2 atau upper intermediate, tuntutan kompetensi menjadi lebih kompleks. Siswa diharapkan mampu memahami gagasan utama dan detail dari teks yang lebih panjang dan kompleks, termasuk teks faktual maupun sastra, serta mengikuti argumen yang disajikan secara logis. Kemampuan berinteraksi secara spontan dan lancar menjadi ciri utama level ini, sehingga komunikasi dengan penutur asli dapat berlangsung tanpa ketegangan berarti. Selain itu, siswa mampu menyusun teks yang jelas, terperinci, dan terstruktur dengan baik tentang berbagai topik, serta mengemukakan pendapat disertai alasan yang relevan. Kompetensi inilah yang secara langsung berkaitan dengan tuntutan akademik di perguruan tinggi.
Relevansi level B1–B2 semakin nyata ketika dikaitkan dengan format dan karakteristik tes akademik bahasa Inggris, khususnya TKA. Soal-soal TKA Bahasa Inggris umumnya menuntut kemampuan reading comprehension yang mendalam, pemahaman grammar in context, serta penguasaan vocabulary in use yang tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam wacana. Tanpa penguasaan kosakata yang memadai pada level B1–B2, siswa akan kesulitan memahami maksud soal, menangkap nuansa makna, dan memilih jawaban yang tepat, meskipun secara tata bahasa dasar mereka mungkin telah mempelajarinya.
Salah satu tantangan utama yang menjadi akar kesenjangan kemampuan bahasa Inggris siswa adalah lemahnya penguasaan kosakata. Fakta lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa masih berada pada level A1–A2, yang ditandai dengan keterbatasan kosakata aktif dan pasif. Dampak dari kondisi ini sangat terasa dalam proses pembelajaran dan evaluasi. Siswa mengalami kesulitan memahami soal ujian yang menggunakan teks otentik atau semiotentik, tidak mampu mengungkapkan ide secara lisan maupun tulisan dengan jelas, serta menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada penerjemah digital untuk menyelesaikan tugas-tugas bahasa Inggris.
Ketergantungan berlebihan pada penerjemah digital, meskipun tampak membantu dalam jangka pendek, justru berpotensi menghambat perkembangan kompetensi bahasa jangka panjang. Siswa cenderung mengandalkan terjemahan instan tanpa benar-benar memproses makna kata dan struktur kalimat. Akibatnya, kemampuan memahami dan menggunakan bahasa secara mandiri tidak berkembang secara optimal. Dalam konteks ujian yang menuntut kecepatan dan ketepatan, kebiasaan ini menjadi hambatan serius.
Berbagai faktor dapat diidentifikasi sebagai penyebab umum lemahnya penguasaan kosakata siswa. Minimnya paparan bahasa Inggris di luar kelas menjadi faktor dominan, terutama bagi siswa yang tidak memiliki akses terhadap lingkungan atau media berbahasa Inggris. Selain itu, praktik pembelajaran yang terlalu fokus pada penguasaan tata bahasa secara terpisah, tanpa diimbangi dengan pengembangan kosakata aktif, membuat siswa memahami aturan tetapi tidak memiliki bahan bahasa untuk digunakan. Keterbatasan akses terhadap sumber belajar tambahan yang menarik dan relevan juga memperparah kondisi ini.
Menghadapi tantangan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang praktis, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah drilling kosakata level B1 melalui platform digital, khususnya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Quizlet. Platform ini menawarkan berbagai fitur yang mendukung pembelajaran kosakata secara efektif dan fleksibel. Melalui flashcards interaktif, siswa dapat menghafal dan mengenali makna kata secara bertahap, baik melalui teks maupun audio, sehingga melibatkan lebih dari satu indera dalam proses belajar.
Selain itu, fitur permainan pembelajaran seperti Match dan Gravity menghadirkan unsur gamifikasi yang mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. Proses drilling yang sebelumnya dianggap monoton dapat berubah menjadi aktivitas yang menantang dan menyenangkan. Penerapan prinsip spaced repetition dalam Quizlet juga berperan penting dalam memperkuat ingatan jangka panjang siswa, karena kosakata akan diulang pada interval waktu tertentu sesuai dengan tingkat penguasaan masing-masing individu.
Keunggulan lain dari pemanfaatan platform digital ini adalah aksesibilitasnya yang tinggi. Dengan dukungan perangkat ponsel, siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja, sehingga menjadi solusi bagi keterbatasan perangkat komputer atau fasilitas laboratorium bahasa di sekolah. Fleksibilitas ini memungkinkan pembelajaran kosakata tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan belajar mandiri siswa.
Agar penguasaan kosakata tidak bersifat mekanis, integrasi kontekstual menjadi langkah penting. Kosakata yang dipelajari perlu digunakan dalam dialog, cerita pendek, atau artikel sederhana agar siswa memahami makna dan penggunaannya dalam konteks nyata. Penggunaan vocabulary journals atau word maps dapat membantu siswa memperdalam pemahaman dengan mengaitkan kata baru dengan sinonim, antonim, contoh kalimat, dan asosiasi makna lainnya. Keterlibatan aktif siswa semakin diperkuat ketika mereka diminta membuat set Quizlet sendiri berdasarkan teks atau topik yang sedang dipelajari.
Melalui strategi ini, hasil yang diperoleh menunjukkan perubahan yang signifikan. Siswa mulai mengenali dan menggunakan kosakata level B1 dalam konteks akademik maupun sosial. Kepercayaan diri mereka meningkat ketika membaca teks ujian dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, karena mereka tidak lagi merasa asing dengan sebagian besar kosakata yang ditemui. Ketergantungan pada penerjemah digital pun berangsur berkurang seiring dengan meningkatnya kemampuan memahami teks secara langsung.
Peningkatan penguasaan kosakata juga berdampak positif pada skor tes formatif dan sumatif. Siswa lebih mampu menjawab soal reading comprehension dengan tepat, memahami instruksi soal, serta menyusun jawaban tertulis yang lebih koheren. Lebih dari sekadar peningkatan nilai, penguasaan kosakata level B1 ini menjadi fondasi yang kuat bagi siswa untuk melangkah menuju level B2, terutama dalam mengembangkan ekspresi tertulis dan lisan yang lebih kompleks dan argumentatif.
Dari sudut pandang reflektif, strategi drilling kosakata berbasis teknologi ini memiliki nilai pedagogis yang tinggi. Pendekatan ini selaras dengan prinsip student-centered learning, karena menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar, serta mendukung penerapan blended learning yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka dan daring. Dalam jangka panjang, strategi ini berpotensi meningkatkan motivasi dan kemandirian belajar siswa, karena mereka merasakan langsung manfaat dari upaya belajar yang dilakukan.
Pada akhirnya, pesan inspiratif yang dapat ditarik adalah bahwa transformasi pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar dan kompleks. Langkah sederhana seperti drilling kosakata dengan dukungan teknologi digital dapat memberikan dampak signifikan terhadap capaian kompetensi bahasa Inggris siswa. Dengan fondasi kosakata yang kuat, target kurikulum nasional untuk mencapai level B1–B2 bukan lagi sekadar wacana, melainkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai secara bertahap.
Penulis : Susanti, S.Pd, Guru Bahasa Inggris SMK Negeri 10 Semarang

Mantaaabb’s . . . .
Alhamdulillah luar biasa
Luar biasa .
Artikel yang luar biasa 👍👍👍
👍👍👍👍👍
Sangat setuju dengan ulasan ini! Seringkali hambatan utama siswa mencapai kompetensi B2 bukan pada tata bahasa, melainkan keterbatasan diksi untuk mengekspresikan opini yang kompleks. Pendekatan sistematis dalam memperkaya kosakata yang relevan dengan konteks CEFR akan sangat membantu pengajar dalam merancang kurikulum yang lebih tepat sasaran
Beri Komentar