Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Pembelajaran Membuat Video Vlog Siswa SMK Menggugah Semangat Siswa Berekspresi

Diterbitkan :

Vlog adalah singkatan dari Video Blog atau Video Log. Secara sederhana, vlog adalah bentuk ekspresi diri, jurnal, atau penyampaian informasi melalui format video yang diunggah ke platform berbagi video seperti YouTube, Instagram, atau TikTok. Berbeda dengan video biasa yang mungkin dibuat untuk tujuan yang lebih umum (misalnya iklan atau film), vlog memiliki ciri khas personal dan komunikatif, sering kali menggunakan gaya bahasa santai seperti sedang berbicara langsung dengan teman.

Di tengah gempuran arus informasi digital, ruang kelas konvensional tak lagi cukup untuk menarik perhatian dan menumbuhkan semangat belajar siswa, terutama di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang identik dengan praktik dan keterampilan. Generasi Z yang kini mendominasi bangku SMK adalah generasi visual yang akrab dengan konten cepat, interaktif, dan personal.  Dunia pendidikan perlu beradaptasi. Memanfaatkan fenomena Video Vlog (video blog) sebagai media pembelajaran inovatif telah terbukti menjadi strategi jitu. Bukan sekadar tren hiburan, penggunaan vlog dalam tugas proyek dan presentasi mampu mentransformasi kejenuhan belajar menjadi energi kreatif yang meledak-ledak, sekaligus secara efektif menggugah semangat belajar siswa SMK untuk aktif berekspresi dan mendalami kompetensi keahlian mereka dengan cara yang relevan dan menyenangkan.

Hal fundamental yang mendorong siswa SMK untuk aktif berekspresi dan mendalami kompetensi keahlian mereka dengan cara yang relevan dan menyenangkan. Hal-hal ini berfokus pada perubahan metode pembelajaran dari pasif menjadi aktif, praktis, dan terhubung dengan dunia nyata meliputi: (1) Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning – PjBL). Siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi mengaplikasikannya untuk menciptakan produk nyata (misalnya: membuat vlog promosi, merancang aplikasi sederhana, membuat purwarupa mesin).  PjBL mendorong siswa untuk bertanya, meriset, dan memecahkan masalah secara kolaboratif, yang merupakan keterampilan inti di dunia kerja. Di samping itu juga mendalami kompetensi: Proyek menuntut siswa menggunakan dan mengasah seluruh kompetensi keahlian yang mereka pelajari (misalnya: vlog jurusan Otomotif menuntut pemahaman teknis mesin sekaligus kemampuan komunikasi visual); (2) Integrasi Teknologi Digital dan Media Kreatif, penggunaan alat-alat yang akrab dengan Gen Z, seperti pembuatan video, desain grafis, media sosial, dan platform interaktif (Quizizz, Kahoot!), menjadikan pembelajaran tidak monoton. Siswa didorong untuk menguasai software dan hardware yang relevan dengan industri 4.0, seperti editing video, cloud computing, atau perangkat IoT (Internet of Things). Sangat relevan dan menyenangkan bila berkreasi menggunakan media digital seperti vlog secara langsung memberikan ruang ekspresi yang luas dan instan, sehingga meningkatkan engagement mereka; (3) Pemberian Ruang Eksplorasi dan Umpan Balik Positif.  Siswa diberi kebebasan memilih topik dan metode penyajian (misalnya, tema vlog boleh sangat personal terkait jurusan) untuk memicu orisinalitas dan kreativitas. Hal tersebut menjadikan siswa sebagai subjek yang aktif yang menciptakan, bukan sekadar menerima informasi.

Di era digital yang serba cepat ini, media sosial dan platform berbagi video seperti YouTube telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai lembaga pendidikan yang fokus pada keterampilan praktis, memiliki peluang besar untuk memanfaatkan tren ini melalui pembelajaran membuat video vlog. Kegiatan ini tidak hanya relevan dengan dunia industri kreatif, tetapi juga sangat efektif dalam menggugah semangat siswa berekspresi dan mengembangkan berbagai keterampilan penting di abad ke-21.

Vlog sebagai jembatan ekspresi diri siswa SMK. Vlog (video blog) pada dasarnya adalah konten video yang berisi opini, cerita, atau kegiatan harian. Bagi siswa SMK, vlog dapat menjadi sarana yang kuat untuk: (1) mengembangkan Rasa Percaya Diri: Siswa didorong untuk tampil di depan kamera, berbicara dengan jelas, dan menyampaikan ide. Hal ini secara langsung melatih keterampilan presentasi dan keberanian publik yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. (2) Mengekspresikan Kreativitas Tanpa Batas: Siswa bebas menentukan topik, mulai dari ulasan praktik jurusan, tutorial keterampilan kejuruan, liputan kegiatan sekolah, hingga opini tentang isu-isu terkini. Mereka harus merencanakan alur, mengambil gambar dengan sudut yang menarik, dan menyunting video agar memiliki kualitas visual dan narasi yang memukau. (3) Meningkatkan Keterampilan Digital dan Teknis: Proses pembuatan vlog mencakup brainstorming ide, penulisan naskah, pengambilan gambar (menggunakan ponsel atau kamera), penguasaan aplikasi penyuntingan video (editing software), hingga tahap pengunggahan dan promosi. Keterampilan teknis ini sangat relevan dengan berbagai kompetensi keahlian di SMK.

Ciri-Ciri Utama Vlog berupa format video yang disajikan dalam bentuk rekaman visual dan audio. Isi konten sering kali berfokus pada kehidupan, pengalaman, opini, atau aktivitas sehari-hari si pembuat (vlogger). Gaya Bahasa komunikatif menggunakan bahasa yang santai, jelas, dan seolah-olah berinteraksi langsung dengan penonton. Selain itu, vlog mengandung gagasan utama. Meskipun santai, setiap vlog harus memiliki ide atau pesan inti yang ingin disampaikan. Kualitas Audio-Visual dengan pencahayaan, kualitas gambar, dan suara yang jernih sangat mendukung penyampaian pesan.

Adapun langkah-langkah praktis pembelajaran Vlog yang dapat kita ketahui. untuk memastikan keberhasilan program ini, guru dapat memandu siswa melalui tahapan berikut: (1) Perencanaan (Pre-Production): Siswa menentukan ide, target audiens, tujuan, dan membuat naskah/alur cerita (storyboard). (2) Persiapan Alat: Memanfaatkan alat yang tersedia (cukup dengan ponsel berkamera baik), tripod sederhana, dan mikrofon jika memungkinkan. (3) Produksi (Shooting): Siswa memperhatikan kualitas pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan kejernihan suara saat merekam. (4) Penyuntingan (Post-Production): Menggunakan aplikasi penyuntingan yang mudah diakses (misalnya di ponsel) untuk memotong, menambahkan musik latar, teks, dan efek visual. (5) Publikasi dan Promosi: Mengunggah video ke platform publik (YouTube/media sosial) dan mempromosikannya. Tahap ini juga mencakup membuat judul dan thumbnail yang menarik. (6) Evaluasi: Siswa dan guru memberikan umpan balik (feedback) berdasarkan rubrik penilaian, mencakup aspek teknis, konten, dan kemampuan presentasi.

Tantangan  Siswa membuat video vlog untuk menggali informasi Membuat video vlog bukan sekadar merekam diri sendiri di depan kamera. Ketika tujuannya adalah menggali dan menyampaikan informasi secara akurat dan menarik, siswa dihadapkan pada sejumlah tantangan, terutama dalam aspek riset, produksi, dan penyajian.

Tantangan dalam produksi vlog informatif bagi siswa SMK tidak hanya muncul dari aspek teknis pembuatan video, tetapi juga dari proses riset, pengelolaan informasi, serta keterampilan komunikasi. Seiring tingginya arus informasi di internet, salah satu hambatan terbesar adalah kemampuan dalam memverifikasi sumber. Banyak siswa mengalami kesulitan membedakan antara informasi faktual dan berita palsu atau opini bias yang beredar di berbagai platform digital. Dalam konteks pembuatan vlog informatif, akurasi menjadi kunci utama, sehingga kemampuan memilah kebenaran informasi harus benar-benar diasah. Selain itu, kedalaman informasi yang dibutuhkan sering kali sulit diperoleh karena akses terhadap literatur ilmiah, data industri, atau wawancara dengan ahli tidak selalu tersedia bagi siswa. Tantangan ini menuntut kemandirian riset sekaligus kesadaran untuk menggunakan sumber yang kredibel dan relevan dengan bidang kejuruan. Aspek penting lainnya adalah kemampuan menghindari plagiarisme, baik dalam bentuk teks maupun visual. Siswa harus mampu mengolah kembali informasi dengan bahasa mereka sendiri agar konten tetap autentik dan memiliki nilai originalitas.

Di luar tantangan riset, proses teknis produksi vlog juga memerlukan sejumlah keterampilan yang tidak dimiliki semua siswa. Hanya mengandalkan ponsel tidak menjamin kualitas audio dan visual yang baik. Menghasilkan video dengan suara jelas, pencahayaan memadai, dan pengambilan gambar stabil membutuhkan pengetahuan dasar teknis yang sering kali belum dikuasai sepenuhnya. Ditambah lagi, kemampuan menggunakan perangkat lunak penyuntingan menjadi salah satu tantangan tersendiri. Penyuntingan bukan sekadar memotong klip, tetapi juga menambahkan teks, grafik, efek visual, dan musik agar konten informatif dapat tersaji secara menarik dan mudah dipahami. Tidak sedikit siswa yang kesulitan membuat informasi kompleks tampak sederhana melalui teknik visual. Keterbatasan peralatan juga menjadi salah satu kendala besar. Tidak semua sekolah menyediakan mikrofon eksternal, lampu tambahan, atau kamera berkualitas, sehingga produksi sering mengandalkan alat seadanya yang berpotensi memengaruhi kualitas hasil akhir vlog.

Di sisi lain, kemampuan penyajian dan komunikasi juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan sebuah vlog informatif. Menyusun alur cerita yang jelas dan menarik bukan perkara mudah. Informasi padat harus diolah menjadi narasi yang runtut, dimulai dari pembukaan yang mampu menarik perhatian, isi yang terstruktur, hingga penutup yang memberikan ajakan atau pesan kuat. Tantangan semakin besar ketika siswa harus tampil berbicara di depan kamera. Banyak yang merasa canggung, gugup, atau kurang percaya diri, sehingga memengaruhi keberanian, artikulasi, dan intonasi saat menyampaikan informasi. Hal ini dapat mengurangi kekuatan pesan yang ingin disampaikan. Bagi siswa SMK, tantangan lain adalah menyederhanakan istilah teknis yang kompleks agar dapat dimengerti oleh penonton awam. Proses menjelaskan konsep kejuruan, seperti teknik mesin atau rekayasa perangkat lunak, membutuhkan keterampilan bahasa visual dan verbal yang tidak hanya informatif tetapi juga mudah dicerna tanpa menghilangkan esensi teknisnya. Semua tantangan ini menunjukkan bahwa pembuatan vlog informatif bukan sekadar tugas kreatif, tetapi proses pembelajaran menyeluruh yang melibatkan riset, kemampuan teknis, dan keterampilan komunikasi.

Tantangan tersebut dapat diatasi dengan beberapa strategi. Strategi Mengatasi Tantangan untuk membantu siswa mengatasi tantangan ini, guru dapat memberikan pelatihan yang fokus pada literasi digital kritis (memilih sumber kredibel), teknik wawancara untuk mendapatkan data primer, dan lokakarya editing video sederhana yang menekankan pada penceritaan yang kuat. Dengan bimbingan yang tepat, tantangan-tantangan ini akan berubah menjadi peluang emas bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan riset, teknis, dan komunikasi yang esensial di masa depan.

Dengan demikian Pembelajaran membuat vlog adalah metode yang tepat untuk siswa SMK di era revolusi industri 4.0. Lebih dari sekadar tugas sekolah, kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk bebas berekspresi, menyalurkan energi kreatif, dan menguasai keterampilan hardskill (teknis videografi dan editing) maupun softskill (komunikasi, kepercayaan diri, dan kerja sama tim). Dengan membuat vlog, siswa SMK tidak hanya belajar, tetapi juga berkarya dan memublikasikan potensi diri mereka ke dunia.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Digna Palupi, S.Pd., M.Pd., Guru Mapel Bahasa Indonesia

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar