Dalam dunia pendidikan modern, keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, canggihnya fasilitas, atau lengkapnya sarana pembelajaran. Lebih dari itu, kekuatan sejati sebuah institusi pendidikan terletak pada manusia di dalamnya: guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah yang bekerja dengan visi yang sama. Di SMK Negeri 10 Semarang, kesadaran ini telah mengakar kuat. Sekolah ini tidak hanya menyiapkan peserta didik untuk dunia kerja, tetapi juga menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) internal yang tangguh, adaptif, dan berkarakter. Menariknya, pengalaman sekolah ini dalam mengelola SDM kini telah dibagikan ke sekolah-sekolah lain, dalam upaya meningkatkan kapabilitas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di lingkungan pendidikan vokasi. Istilah kerennya, kegiatan ini dikenal sebagai capacity building atau peningkatan kapabilitas GTK—sebuah langkah strategis untuk memperkuat fondasi pendidikan melalui manusia yang menggerakkannya.
Mengapa SDM menjadi penentu keberhasilan sekolah? Jawabannya sederhana namun mendasar: semua fungsi sekolah dijalankan oleh manusia. Fasilitas, kurikulum, dan program hanya akan bermakna jika dikelola oleh SDM yang berkualitas. Sekolah yang gagal berkembang, sering kali bukan karena kurangnya dana atau sarana, melainkan karena pengelolaan SDM yang tidak tepat. Di sinilah tesis utama artikel ini berdiri: bahwa kemajuan sekolah berbanding lurus dengan kualitas pengelolaan manusianya.
SDM adalah fondasi utama sekolah. Setiap sistem, kebijakan, dan inovasi pendidikan pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Guru menjadi ujung tombak pembelajaran, tenaga kependidikan memastikan roda administrasi dan manajemen berputar dengan baik, sementara pimpinan sekolah berperan sebagai pengarah visi dan strategi. Ketiganya saling terkait, membentuk satu ekosistem yang menentukan keberhasilan lembaga. Banyak contoh menunjukkan bahwa sekolah dengan fasilitas terbatas tetapi memiliki SDM unggul, tetap mampu mencetak prestasi luar biasa. Di sisi lain, sekolah dengan sarana mewah pun bisa stagnan jika dikelola oleh SDM yang tidak memiliki semangat belajar dan inovasi.
Salah satu dilema klasik dalam pengelolaan SDM di sekolah adalah soal pemilihan GTK: antara kompetensi dan loyalitas. Idealnya, tentu saja setiap pimpinan sekolah menginginkan tenaga pendidik dan kependidikan yang kompeten sekaligus loyal. Namun dalam praktiknya, keseimbangan ini tidak selalu mudah dicapai. GTK dengan kompetensi tinggi kadang sulit diajak bekerja sama dalam sistem yang sudah ada, sementara yang loyal belum tentu memiliki keterampilan sesuai kebutuhan. Di sinilah pentingnya kebijakan yang bijak. Loyalitas adalah modal jangka panjang. GTK yang loyal terhadap visi sekolah bisa dikembangkan melalui pelatihan, mentoring, dan pembinaan berkelanjutan. Sementara itu, kompetensi tanpa loyalitas bisa berbahaya bagi stabilitas organisasi. Pimpinan sekolah perlu berhati-hati dalam rekrutmen dan pengelolaan SDM agar tidak terjebak pada bias personal. Hindari rekrutmen berbasis kedekatan pribadi tanpa seleksi objektif, karena hal itu justru menurunkan kredibilitas manajemen dan merugikan sekolah dalam jangka panjang.
Proses rekrutmen yang ideal harus bersifat ilmiah dan profesional. Setiap langkah perlu dilakukan dengan sistematis. Tahapan pertama adalah analisis jabatan—menentukan secara jelas peran dan tanggung jawab yang dibutuhkan oleh sekolah. Selanjutnya dilakukan perencanaan SDM, yaitu menentukan jumlah dan jenis tenaga kerja yang diperlukan. Setelah itu, rekrutmen harus dilakukan secara terbuka dan transparan, agar semua pihak memiliki kesempatan yang sama. Pada tahap seleksi, instrumen yang digunakan tidak boleh asal-asalan. Tes dan wawancara sebaiknya dirancang untuk mengukur kompetensi, loyalitas, mental kerja, dan etos kerja calon GTK. Semua hasil seleksi seharusnya berbasis data, bukan relasi. Dengan pendekatan ilmiah seperti ini, sekolah dapat membangun tim kerja yang kuat dan solid, bukan sekadar kumpulan individu yang kebetulan bekerja di tempat yang sama.
Namun, pekerjaan tidak berhenti pada tahap rekrutmen. Tantangan berikutnya adalah retensi SDM—bagaimana mempertahankan guru dan tenaga kependidikan yang sudah berkualitas agar tetap bertahan dan berkembang bersama sekolah. Untuk itu, teori kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan oleh Abraham Maslow bisa dijadikan panduan. Manusia tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencari rasa aman, penghargaan, dan makna. Sekolah perlu memastikan bahwa para GTK merasa aman secara finansial dan psikologis, dihargai atas prestasi dan kontribusinya, serta memiliki rasa memiliki terhadap lembaga tempat mereka bekerja. Strategi retensi yang efektif meliputi kompensasi yang layak dan adil, peluang promosi jabatan yang jelas, lingkungan kerja yang nyaman dan manusiawi, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance). Ketika kebutuhan-kebutuhan ini terpenuhi, loyalitas akan tumbuh dengan sendirinya, dan motivasi kerja pun meningkat.
Paradigma lama yang memandang SDM sebagai biaya (cost center) sudah tidak relevan lagi. Dalam paradigma baru manajemen pendidikan, SDM harus dipandang sebagai aset (human capital). Guru dan tenaga kependidikan bukan sekadar alat pelaksana kebijakan, melainkan mitra strategis yang turut menentukan arah kemajuan sekolah. Investasi dalam pelatihan dan pengembangan SDM bukanlah pengeluaran yang sia-sia, melainkan investasi jangka panjang yang akan memberi hasil berlipat. Ketika GTK berkembang, kualitas pendidikan akan meningkat. Ketika pendidikan meningkat, kepercayaan masyarakat terhadap sekolah pun menguat. Dan ketika kepercayaan itu tumbuh, keberlanjutan lembaga akan terjaga secara alami.
Pengalaman SMK Negeri 10 Semarang menjadi bukti nyata bagaimana pengelolaan SDM yang strategis mampu membawa perubahan signifikan. Sekolah ini menyadari bahwa membangun kualitas manusia tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh visi jangka panjang, konsistensi, dan budaya organisasi yang mendukung pembelajaran berkelanjutan. Melalui berbagai kegiatan capacity building, diklat di Balai Besar, dan magang guru di industri, SMK Negeri 10 Semarang berhasil menularkan semangat profesionalisme kepada sekolah-sekolah lain. Tidak hanya mengelola SDM untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi pusat rujukan dalam pengembangan kapasitas GTK di sekolah.
Kepemimpinan yang kuat juga menjadi faktor penting. Pemimpin sekolah yang visioner mampu melihat potensi setiap individu dan menempatkannya pada posisi yang tepat. Mereka tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menjadi teladan dan fasilitator. Dalam konteks ini, hubungan antara pimpinan dan GTK bukan hubungan atasan-bawahan semata, melainkan hubungan kolaboratif yang saling menguatkan. Pimpinan memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi, sementara guru menunjukkan komitmen untuk terus belajar dan meningkatkan diri. Hubungan yang sehat seperti ini melahirkan budaya kerja yang positif dan berorientasi pada hasil.
Lebih jauh lagi, pengelolaan SDM yang efektif dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi sekolah. Di tengah persaingan antar lembaga pendidikan, faktor manusia menjadi pembeda utama. Sekolah yang berhasil membangun tim kerja yang solid dan berintegritas akan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman, termasuk terhadap tantangan digitalisasi, kurikulum baru, maupun dinamika sosial. Guru-guru yang terbiasa berpikir kritis dan berkolaborasi akan lebih siap menghadapi perubahan, sementara tenaga kependidikan yang profesional akan memastikan seluruh sistem berjalan dengan efisien.
Pada akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu tujuan: meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sekolah yang mampu membangun dirinya sendiri. SMK Negeri 10 Semarang telah membuktikan bahwa ketika manusia di dalamnya dibangun dengan benar, sekolah akan tumbuh menjadi lembaga yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, perlu diingat bahwa pengelolaan SDM bukanlah sekadar urusan administrasi, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan sekolah. Kepala sekolah perlu menata ulang cara pandang terhadap guru dan tenaga kependidikan—bukan sebagai beban, melainkan sebagai mitra dan aset berharga. Investasi terbaik dalam pendidikan adalah investasi pada manusia. Seperti kata bijak yang relevan dengan semangat ini: “Bangunlah manusia, maka sekolah akan membangun dirinya sendiri.”
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang.

Mantaaabb’s . . .
Mantabb luar biasa Pak Ardan. Sangat menginspirasi👍👍
Pimpinan yang banyak menginspirasi, mantab pak Ardan 👍👍👍
Luar biasa, sangat menginspirasi 👍
Beri Komentar