Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan Melalui Pemahaman Prosedur Pemeriksaan Arus Dan Tegangan Sistem Pengisian

Diterbitkan :

Sistem pengisian merupakan bagian penting dalam sistem kelistrikan kendaraan ringan yang berfungsi menjaga ketersediaan energi listrik agar seluruh komponen yang memerlukan listrik tetap bekerja optimal. Pada kendaraan modern, hampir seluruh sistem pendukungnya bergantung pada kelistrikan, mulai dari sistem penerangan, pengapian, sistem injeksi, hingga sistem hiburan dan keamanan. Karena itulah, pemeliharaan dan pemeriksaan sistem pengisian, khususnya arus dan tegangan, menjadi kompetensi esensial yang wajib dikuasai oleh siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), terutama di kelas akhir.

Sistem pengisian pada kendaraan biasanya terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu alternator, regulator tegangan, dan baterai. Alternator bekerja sebagai pembangkit listrik ketika mesin hidup, sedangkan regulator bertugas mengatur besar kecilnya tegangan yang masuk ke baterai agar tidak terjadi overcharge. Pemeriksaan arus dan tegangan dalam sistem ini menjadi langkah awal yang penting untuk menentukan kondisi kerja sistem pengisian. Dengan kata lain, memahami prosedur pemeriksaan arus dan tegangan bukan hanya tentang kemampuan menggunakan alat ukur, tetapi juga kemampuan menganalisis hasil dan menentukan tindakan perbaikan yang tepat.

Dalam proses pembelajaran mata pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan, peserta didik tidak cukup hanya diajarkan teori tentang arus dan tegangan, melainkan harus dilatih untuk melakukan pemeriksaan sistem pengisian secara langsung di kendaraan praktik. Kegiatan ini dapat dimulai dengan memahami diagram rangkaian sistem pengisian, mengidentifikasi letak dan fungsi masing-masing komponen, serta mengetahui cara kerja dari sistem pengisian mulai dari saat kunci kontak diputar hingga alternator menghasilkan arus listrik dan menyalurkannya ke baterai.

Sebelum pemeriksaan dilakukan, siswa terlebih dahulu diarahkan untuk mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan, antara lain multimeter digital atau analog, clamp meter (untuk mengukur arus), dan perlengkapan keselamatan kerja. Pemeriksaan tegangan sistem pengisian biasanya dilakukan pada terminal baterai dalam kondisi mesin mati dan menyala. Dalam kondisi mesin mati, tegangan baterai normal berkisar antara 12,4 hingga 12,8 volt. Setelah mesin menyala dan putaran mesin stabil, tegangan yang baik dari sistem pengisian harus berada pada kisaran 13,8 hingga 14,5 volt. Nilai tegangan di bawah 13,5 volt mengindikasikan sistem pengisian yang lemah, sedangkan tegangan di atas 14,8 volt dapat menunjukkan regulator tegangan yang bermasalah.

Untuk mengukur arus pengisian, siswa diajarkan cara menggunakan clamp meter pada kabel utama dari alternator ke baterai. Arus pengisian yang sehat akan bervariasi tergantung pada beban dan kondisi baterai, namun biasanya berada dalam kisaran 10–30 ampere pada kondisi baterai lemah. Jika arus pengisian tidak sesuai, maka pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan, seperti memeriksa koneksi kabel, kondisi alternator, dan keausan pada komponen internal seperti brush dan bearing.

Pemeriksaan arus dan tegangan dilakukan pada variabel putaran mesin dan variabel beban kelistrikan kendaraan. Variabel putaran mesin dapat dikondisikan pada putaran stasioner, putaran sedang dan putaran tinggi dan hasil pengukuran seharusnya menunjukkan nilai tegangan dan arus yang sesuai dengan spesifikasinya. Variabel beban kelistrikan dikondisikan pada saat kelistrikan tanpa beban dan pada saat kelistrikan beban penuh dengan hasil pengukuran tegangan dan arus yang sesuai dengan spesifikasinya. Hasil pengukuran tegangan tidak boleh over charging atau under charging.

Pembelajaran pemeriksaan sistem pengisian yang baik harus melibatkan pengamatan gejala atau keluhan pada kendaraan. Siswa diajak untuk menganalisis kasus seperti baterai cepat habis, lampu indikator baterai menyala saat mesin hidup, atau alat elektronik tidak berfungsi dengan baik. Dari gejala-gejala tersebut, siswa melakukan diagnosis awal sebelum melanjutkan ke proses pengukuran. Proses berpikir ini melatih siswa untuk memahami bahwa setiap gangguan pada sistem kendaraan selalu memiliki penyebab yang bisa dianalisis secara logis.

Dalam pembelajaran ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan berbasis masalah. Melalui pendekatan tersebut, siswa dilatih untuk memecahkan persoalan yang muncul di lapangan secara sistematis. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu mengarahkan proses berpikir siswa, bukan sebagai pemberi jawaban. Siswa didorong untuk mengembangkan hipotesis, melakukan pengukuran, membandingkan hasil dengan spesifikasi standar, kemudian menentukan tindakan korektif yang tepat. Pendekatan ini sangat efektif untuk membentuk karakter siswa yang mandiri, kritis, dan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik.

Selain keterampilan teknis, dalam proses pembelajaran ini siswa juga diajarkan pentingnya penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP). Dalam dunia kerja, semua proses pemeriksaan dan perbaikan harus mengikuti prosedur yang baku demi menjamin keselamatan dan kualitas kerja. Siswa dibiasakan untuk menggunakan alat ukur dengan benar, mematuhi protokol keselamatan kerja, serta mendokumentasikan hasil pemeriksaan dengan sistematis. Dengan demikian, ketika mereka terjun ke industri otomotif, siswa sudah memiliki kebiasaan kerja yang profesional dan siap berkompetisi di dunia kerja nyata.

Refleksi dari pembelajaran ini menunjukkan bahwa melalui penguasaan prosedur pemeriksaan arus dan tegangan sistem pengisian, siswa tidak hanya mampu mendiagnosa gangguan dengan tepat, tetapi juga mampu melakukan perbaikan dengan efisien dan aman. Mereka juga belajar untuk bekerja secara tim, menyusun strategi pemeriksaan, dan mengembangkan komunikasi teknis dalam menyampaikan hasil analisis. Keterampilan ini menjadi nilai tambah yang sangat penting bagi siswa SMK di tengah persaingan dunia industri yang menuntut keahlian praktis dan ketepatan kerja.

Melalui penguatan kompetensi ini, siswa kelas XII TKRO diharapkan dapat menjadi lulusan yang tidak hanya memahami teori kelistrikan otomotif, tetapi juga memiliki kemampuan teknis dalam pemeriksaan sistem pengisian kendaraan ringan. Dengan menguasai prosedur ini, mereka akan mampu menghadapi berbagai permasalahan kelistrikan secara langsung, dan menyelesaikannya dengan metode kerja yang sistematis dan sesuai standar. Pembelajaran semacam ini penting untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan realitas kebutuhan industri, serta memperkuat posisi SMK sebagai institusi pendidikan vokasional yang mencetak tenaga kerja siap pakai.

Dengan terus mengembangkan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan pemecahan masalah, serta melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, maka kualitas lulusan SMK akan meningkat dan mampu memberikan kontribusi nyata di dunia kerja. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk terus merancang pembelajaran yang relevan, kontekstual, dan menantang, sehingga mampu membentuk lulusan yang kompeten dan adaptif terhadap perubahan zaman, khususnya di bidang otomotif yang terus berkembang pesat.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Wiler Upik, S.Pd., Guru Produktif Teknik Kendaraan Ringan

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

3 Komentar

arimurti asmoro
Kamis, 9 Okt 2025

Pemahaman tentang pemeliharaan kelistrikan mobil yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesempatan belajar di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju

Balas
Nindar
Kamis, 9 Okt 2025

Bermanfaat,,mantap

Balas
Antar subandana
Jumat, 10 Okt 2025

Sangat inovatif sehingga materi pembelajaran mudah dipahami

Balas

Beri Komentar