Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Optimalisasi Pembelajaran Sistem Rem Tromol Melalui Praktikum Guna Meningkatkan Sensory Engagement Siswa TKR

Diterbitkan :

Sensory Engagement ini bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran sistem rem tromol pada siswa Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dengan mengoptimalkan praktikum. Pendekatan ini mengatasi kelemahan metode konvensional yang terlalu teoretis, yang seringkali menyebabkan kurangnya pemahaman dan motivasi siswa. Dengan melibatkan indra (penglihatan, sentuhan, pendengaran, dan penciuman) secara langsung melalui kegiatan membongkar dan merakit rem, siswa membangun pemahaman yang lebih dalam dan relevan. Hasilnya, keterlibatan sensorik yang tinggi ini secara efektif meningkatkan minat, motivasi, dan keterampilan praktis siswa, sehingga menghasilkan lulusan TKR yang lebih kompeten dan percaya diri.

Pendidikan kejuruan, khususnya pada program keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR), menuntut siswa tidak hanya memahami konsep teoretis tetapi juga menguasai keterampilan praktis yang relevan dengan dunia industri. Salah satu materi dalam kurikulum TKR adalah sistem rem tromol, yang merupakan komponen vital pada kendaraan dan memerlukan pemahaman mendalam tentang prinsip kerja, perawatan, serta penanganan kerusakannya. Sayangnya, metode pembelajaran yang terlalu berorientasi pada teori sering kali gagal menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh, sehingga berdampak pada rendahnya minat dan keterlibatan siswa.

Pendekatan pembelajaran konvensional yang minim praktik dapat menyebabkan materi terasa abstrak dan kurang relevan bagi siswa, menghambat pembentukan pemahaman konsep yang kuat. Akibatnya, siswa kesulitan dalam mengaplikasikan pengetahuan mereka di dunia nyata. Padahal, keterlibatan indra (sensory engagement) adalah kunci dalam pembelajaran teknis, memungkinkan siswa untuk merasakan, melihat, mendengar, dan bahkan mencium berbagai aspek dari komponen yang dipelajari. Keterlibatan multisensori ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar tetapi juga membantu mematri informasi lebih kuat dalam memori jangka panjang.

Oleh karena itu, optimalisasi pembelajaran sistem rem tromol melalui praktikum menjadi sebuah keniscayaan. Praktikum bukan sekadar pelengkap teori, melainkan inti dari proses pembelajaran yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan komponen rem tromol. Melalui kegiatan membongkar, memeriksa, membersihkan, dan merakit kembali komponen rem, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan motorik halus, tetapi juga mengaktifkan indra mereka secara maksimal. Sentuhan pada permukaan komponen, pengamatan terhadap kondisi fisik, dan pendengaran suara saat pengerjaan akan menciptakan pengalaman belajar yang lebih konkret dan bermakna.

Pembelajaran sistem rem tromol bagi siswa TKR memiliki tantangan unik karena sifatnya yang sangat praktis dan mekanis. Pembelajaran yang hanya mengandalkan metode teoretis, seperti ceramah atau membaca buku, cenderung gagal dalam menanamkan pemahaman yang mendalam. Kunci untuk mengatasi hal ini adalah melalui optimalisasi praktikum yang secara sengaja dirancang untuk meningkatkan keterlibatan sensorik siswa. Dengan mengaktifkan indra penglihatan, sentuhan, pendengaran, dan bahkan penciuman, siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga membangun koneksi fisik dan memori yang kuat dengan materi pelajaran. Pendekatan ini mengubah pembelajaran dari aktivitas pasif menjadi pengalaman yang hidup dan berkesan, menjadi fondasi bagi pemahaman yang kokoh.

Praktikum sistem rem tromol adalah medium ideal untuk merangsang berbagai indra siswa. Secara visual, siswa dapat mengamati langsung setiap komponen seperti sepatu rem, silinder roda, pegas pengembali, dan tromol, memungkinkan mereka mengidentifikasi kondisi komponen dan pola keausan. Dari segi sentuhan, mereka merasakan tekstur, berat, dan kekencangan setiap baut dan mur, membangun memori otot saat menggunakan kunci pas dan alat lainnya. Keterlibatan auditori terjadi saat mereka mendengar suara klik dari mekanisme penyetel atau suara cetek dari pegas yang terpasang dengan benar, memberikan umpan balik langsung yang mengonfirmasi keberhasilan tindakan mereka. Bahkan indra penciuman dapat terlibat ketika mereka mengenali bau gemuk atau cairan rem, menghubungkan pengalaman belajar dengan lingkungan kerja bengkel yang otentik.

Peningkatan keterlibatan sensorik ini memiliki dampak langsung pada peningkatan minat dan motivasi belajar siswa. Ketika materi pelajaran dapat dilihat, disentuh, dan didengar secara nyata, sistem rem tromol tidak lagi menjadi diagram abstrak di buku teks, melainkan sebuah puzzle mekanis yang menarik untuk dipecahkan. Setiap tindakan praktis, dari membongkar hingga merakit, memberikan rasa pencapaian yang nyata, yang kemudian menjadi bahan bakar bagi motivasi intrinsik. Siswa menjadi lebih proaktif, lebih penasaran, dan lebih bersemangat untuk mengatasi tantangan yang ada, karena mereka merasakan bahwa pengetahuan yang mereka peroleh memiliki relevansi dan aplikasi yang konkret. Pada akhirnya, keterlibatan sensorik melalui praktikum tidak hanya menghasilkan siswa yang terampil, tetapi juga individu yang memiliki gairah dan motivasi tinggi untuk terus belajar dan berkarya di bidang otomotif.

Optimalisasi pembelajaran sistem rem tromol melalui praktikum terbukti menjadi strategi yang sangat efektif dalam meningkatkan sensory engagement siswa TKR. Pendekatan ini secara signifikan melampaui pembelajaran teoretis konvensional dengan melibatkan berbagai indra siswa secara langsung. Ketika siswa membongkar, memeriksa, membersihkan, dan merakit komponen rem tromol, mereka tidak hanya mengandalkan penglihatan untuk mengamati bentuk dan posisi, tetapi juga sentuhan untuk merasakan tekstur material, kekencangan baut, atau keausan komponen. Bahkan, suara benturan logam atau gesekan saat bekerja dan terkadang aroma oli atau gemuk juga turut berkontribusi pada pengalaman belajar.

Keterlibatan multisensori ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih impresif dan bermakna. Siswa tidak sekadar menghafal informasi, tetapi membangun pemahaman konseptual yang mendalam melalui interaksi fisik dengan objek studi. Peningkatan sensory engagement ini pada gilirannya akan memperkuat memori jangka panjang, karena pengetahuan yang diperoleh terikat pada pengalaman sensorik nyata. Hasilnya, siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktik yang esensial serta minat dan motivasi intrinsik yang kuat terhadap bidang keahlian mereka. Dengan demikian, praktikum adalah kunci untuk menghasilkan lulusan TKR yang lebih kompeten dan percaya diri.

Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Hilmi Akmal, Mahasiswa Lantip 5 Unnes, Mapel PSPTKR

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar