Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Peningkatan Keterampilan Dasar Bola Voli Siswa Kelas X SMK Melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Permainan

Diterbitkan :

Pendidikan jasmani di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sering kali dipandang sebelah mata, seolah-olah hanya menjadi pengisi jadwal yang penting ada dalam kurikulum. Padahal, jika dilihat lebih dalam, mata pelajaran ini sesungguhnya merupakan fondasi penting untuk pengembangan fisik, mental, dan karakter siswa. Olahraga tidak hanya membuat tubuh sehat dan bugar, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, kerja sama, sportivitas, serta daya juang yang sangat relevan bagi kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja di masa depan. Dalam konteks olahraga bola voli, penguasaan keterampilan dasar seperti servis, passing bawah, dan passing atas adalah kunci untuk bisa bermain dengan baik sekaligus menikmati permainan dengan sepenuh hati. Tanpa penguasaan teknik-teknik fundamental ini, permainan bola voli bisa terasa membingungkan, kurang menyenangkan, bahkan mematahkan semangat siswa untuk terlibat lebih aktif di lapangan.

Fenomena yang sering ditemui di kelas X SMK adalah banyak siswa yang masih bergulat dengan teknik dasar bola voli. Misalnya, ketika melakukan servis, bola yang dipukul kerap tidak menyeberang melewati net atau justru melenceng keluar lapangan. Saat mencoba passing bawah, sering kali posisi tangan belum benar sehingga arah bola tidak terkontrol. Begitu pula dengan passing atas yang memerlukan koordinasi mata, tangan, dan langkah kaki, banyak siswa merasa kesulitan hingga akhirnya menyerah lebih cepat daripada terus berlatih. Situasi semacam ini tentu menimbulkan tantangan besar bagi guru pendidikan jasmani. Jika hanya mengandalkan metode konvensional berupa instruksi verbal atau demonstrasi berulang kali, siswa cenderung cepat merasa bosan. Akibatnya, motivasi mereka untuk mencoba, apalagi untuk memperbaiki kesalahan, semakin menurun.

Di sinilah muncul kebutuhan untuk menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih segar, dinamis, dan sesuai dengan karakter siswa SMK yang cenderung aktif dan menyukai tantangan. Pendekatan pembelajaran berbasis permainan hadir sebagai solusi inovatif yang menjanjikan. Alih-alih hanya mempraktikkan gerakan secara mekanis melalui drill yang monoton, pendekatan ini mengintegrasikan unsur-unsur permainan ke dalam proses belajar. Suasana belajar yang tercipta menjadi lebih interaktif, kompetitif secara sehat, dan yang terpenting: menyenangkan. Siswa tidak lagi merasa seperti sedang “dilatih” atau “dipaksa” mengulang gerakan tertentu, melainkan merasa sedang bermain sebuah permainan yang seru.

Bayangkan, alih-alih melakukan drill passing yang biasanya membuat siswa cepat lelah dan kehilangan fokus, guru mengubahnya menjadi permainan “passing target.” Dalam permainan ini, siswa ditantang untuk mempassing bola ke area tertentu yang telah ditandai di lapangan untuk mencetak poin. Setiap keberhasilan disambut dengan sorakan teman-teman sekelas, menciptakan suasana riuh yang membakar semangat. Atau, siswa diajak bermain pertandingan mini dengan aturan yang disederhanakan khusus untuk melatih passing bawah. Misalnya, setiap tim hanya boleh mengoper bola menggunakan passing bawah, dan poin baru bisa didapat jika operan berlangsung tiga kali sebelum bola menyeberang net. Dengan variasi seperti ini, keterampilan dasar yang awalnya terasa sulit dan kaku, kini dipraktikkan dalam suasana kompetisi kecil yang memotivasi.

Tidak berhenti di situ, pendekatan berbasis permainan juga membuka ruang bagi kreativitas guru untuk terus berinovasi. Guru dapat merancang berbagai bentuk permainan yang menekankan teknik tertentu, misalnya permainan “service challenge” di mana siswa diminta melakukan servis ke area target tertentu untuk mendapatkan skor tambahan. Atau permainan “bola berantai” di mana setiap siswa harus memastikan operan dilakukan dengan teknik yang benar sebelum bola bisa diberikan ke rekan satu tim. Semua variasi tersebut tidak hanya melatih keterampilan motorik siswa, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir strategis, konsentrasi, serta kerja sama tim.

Hasil penerapan pendekatan berbasis permainan ini terbukti sangat menggembirakan. Dari berbagai pengamatan dan evaluasi di lapangan, terlihat adanya peningkatan signifikan pada penguasaan keterampilan dasar bola voli siswa kelas X SMK. Mereka menjadi lebih cekatan saat melakukan servis, lebih akurat dalam passing bawah, dan lebih percaya diri ketika mencoba passing atas. Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga pada aspek afektif dan motivasional. Siswa yang sebelumnya enggan terlibat dalam latihan kini menunjukkan antusiasme tinggi, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah ketika melakukan kesalahan.

Suasana belajar yang menyenangkan berperan besar dalam perubahan ini. Dengan format permainan, setiap kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses permainan, bukan kegagalan. Hal ini membuat siswa tidak merasa takut untuk mencoba berulang kali. Mereka terdorong untuk memperbaiki diri secara alami karena ingin memenangkan permainan atau setidaknya berkontribusi bagi tim. Rasa kebersamaan pun tumbuh lebih kuat, karena setiap individu menyadari bahwa keberhasilan tim bergantung pada kontribusi masing-masing anggota. Dari sinilah nilai sportivitas, kerja sama, dan tanggung jawab kolektif terbentuk dengan sendirinya.

Selain meningkatkan keterampilan teknis dan motivasi, pendekatan berbasis permainan juga mendukung pengembangan karakter siswa. Dalam permainan, selalu ada aturan yang harus dipatuhi. Siswa belajar disiplin dengan mengikuti aturan tersebut, belajar jujur dengan tidak melakukan pelanggaran, dan belajar menerima kemenangan maupun kekalahan dengan lapang dada. Mereka juga belajar untuk saling menghargai, baik kepada rekan setim maupun lawan. Nilai-nilai karakter inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan lebih luas dari pendidikan jasmani, melampaui sekadar aspek fisik.

Bagi guru pendidikan jasmani di SMK, keberhasilan pendekatan ini membawa pelajaran berharga. Inovasi dalam metode pembelajaran ternyata mampu mengubah wajah kelas olahraga secara drastis. Dari yang awalnya cenderung membosankan dan kurang diminati, kini berubah menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu. Guru tidak lagi sekadar bertindak sebagai instruktur yang memberikan perintah, tetapi menjadi fasilitator yang merancang pengalaman belajar bermakna. Dengan kreativitas guru, pembelajaran olahraga dapat menjelma menjadi ruang eksplorasi yang menyenangkan, sekaligus efektif dalam mencapai tujuan kurikulum.

Pendidikan jasmani, melalui pendekatan berbasis permainan, juga membuktikan dirinya relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda saat ini hidup dalam budaya yang serba cepat, kompetitif, dan penuh stimulasi. Mereka membutuhkan metode belajar yang sesuai dengan ritme kehidupan mereka, yaitu aktif, menantang, dan menyenangkan. Dengan permainan sebagai medium, pembelajaran olahraga tidak lagi berjarak dengan dunia siswa, melainkan menjadi bagian dari pengalaman yang akrab dan membekas.

Pada akhirnya, keberhasilan pendekatan berbasis permainan dalam pembelajaran bola voli di SMK menegaskan bahwa inovasi adalah kunci. Guru pendidikan jasmani tidak perlu terjebak pada pola lama yang monoton. Dengan keberanian untuk mencoba hal baru, guru dapat menciptakan suasana belajar yang lebih hidup, meningkatkan keterampilan siswa, membangkitkan motivasi, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter yang berharga.

Oleh karena itu, sangat direkomendasikan bagi guru pendidikan jasmani di SMK untuk terus mengeksplorasi dan mengimplementasikan pendekatan berbasis permainan ini dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, kita tidak hanya mencetak generasi siswa SMK yang terampil dalam olahraga bola voli, tetapi juga membentuk individu yang sehat, berkarakter kuat, memiliki semangat kolaborasi, dan siap menghadapi tantangan kehidupan dengan penuh percaya diri. Pendidikan jasmani akhirnya benar-benar hadir sebagai bagian integral dari pendidikan, bukan sekadar pengisi jadwal, melainkan ruang pembentukan manusia seutuhnya.

“Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Ahmad Tegar Fauzan, Mahasiswa Lantip 5 Unnes

Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar