Pancasila, sebagai dasar negara Republik Indonesia, telah menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sejak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, pemahaman yang mendalam dan penerapan yang konsisten terhadap nilai-nilai Pancasila seringkali menjadi tantangan yang kompleks. Untuk mengatasi permasalahan ini, telah muncul berbagai metode pembelajaran yang bertujuan untuk memahami dan menerapkan Pancasila dalam konteks kehidupan sehari-hari. Salah satu metode yang menarik adalah metode “2 Stay 3 Stray.” Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan metode pembelajaran ini dan bagaimana ia dapat digunakan untuk mendalami penerapan Pancasila dalam kehidupan berbangsa.
Pendahuluan. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia terdiri dari lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Meskipun Pancasila telah menjadi ideologi negara, pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai ini dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari seringkali menjadi kabur. Metode “2 Stay 3 Stray” adalah salah satu pendekatan yang dapat membantu individu dan masyarakat secara kolektif untuk lebih memahami dan menerapkan Pancasila dalam konteks berbangsa.
Pengertian Metode “2 Stay 3 Stray”. Metode “2 Stay 3 Stray” adalah metode pembelajaran yang mengedepankan dua komponen utama, yaitu “2 Stay” dan “3 Stray.” Pendekatan ini mendorong peserta untuk mempertahankan dua nilai atau konsep kunci yang relevan dengan topik pembelajaran (dalam konteks ini, Pancasila) dan mengeksplorasi tiga nilai atau konsep lain yang tidak langsung terkait, tetapi dapat memberikan wawasan yang lebih luas. Metode ini berakar pada prinsip bahwa belajar lebih efektif ketika individu secara aktif terlibat dalam menjelajahi berbagai aspek suatu topik, daripada hanya fokus pada poin-poin yang sudah dikenal.
2 Stay: Mempertahankan Nilai-Nilai Pancasila yang Relevan. Dalam konteks metode “2 Stay 3 Stray” untuk memahami penerapan Pancasila, “2 Stay” mengacu pada dua nilai atau konsep utama yang relevan dengan Pancasila yang harus dipahami dan diterapkan secara konsisten. Dua nilai ini dapat dipilih berdasarkan konteks tertentu atau prioritas pembelajaran. Sebagai contoh, kita dapat memilih “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” sebagai dua nilai yang harus dipertahankan.
Ketuhanan Yang Maha Esa: Nilai pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mencerminkan pentingnya agama dalam kehidupan berbangsa. Dalam konteks “2 Stay,” individu harus memahami betapa pentingnya menjaga dan menghormati keberagaman agama di Indonesia serta menjadikannya sebagai dasar moral dalam tindakan sehari-hari.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Nilai kedua, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengingatkan kita akan perlunya memastikan bahwa kekayaan dan sumber daya negara didistribusikan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat Indonesia. Ini mengharuskan individu untuk mengenali ketidaksetaraan yang mungkin ada dan berusaha memperbaikinya melalui tindakan nyata.
Dua nilai ini adalah landasan yang kuat untuk memahami dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mencerminkan nilai-nilai yang mendasari cita-cita negara Indonesia dalam menghormati pluralitas dan menciptakan masyarakat yang adil.
3 Stray: Mengeksplorasi Nilai-Nilai Tambahan. Sementara “2 Stay” mewakili nilai-nilai inti yang harus dipahami dan diterapkan, “3 Stray” mewakili tiga nilai tambahan yang tidak langsung terkait dengan dua nilai inti, tetapi dapat memberikan wawasan yang lebih luas tentang Pancasila dan penerapannya dalam konteks berbangsa. Tiga nilai tambahan ini harus dieksplorasi dan dipahami dengan cermat. Dalam konteks pembelajaran penerapan Pancasila, kita dapat memilih nilai-nilai berikut:
Persatuan Indonesia: Nilai ini menekankan pentingnya kesatuan bangsa Indonesia di tengah keragaman budaya dan suku bangsa. Mengeksplorasi nilai ini dapat membantu individu memahami bagaimana Pancasila mendorong persatuan dalam keberagaman.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menggarisbawahi perlunya berperilaku adil dan beradab dalam interaksi sosial. Ini mengacu pada perlunya menghormati hak asasi manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan: Nilai ini menekankan pentingnya partisipasi rakyat dalam pembuatan keputusan negara. Mengeksplorasi nilai ini akan membantu individu memahami mekanisme demokrasi dan peran masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Mengeksplorasi tiga nilai tambahan ini membantu individu memahami Pancasila secara lebih komprehensif dan melihat bagaimana nilai-nilai tersebut berinteraksi satu sama lain dalam membentuk dasar negara Indonesia.
Implementasi Metode “2 Stay 3 Stray”. Setelah memahami konsep “2 Stay 3 Stray,” penting untuk memahami bagaimana metode ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran penerapan Pancasila dalam konteks berbangsa. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mengaplikasikan metode ini:
Pemilihan Nilai-Nilai Inti (2 Stay): Identifikasi dua nilai inti dari Pancasila yang ingin dipahami dan diterapkan. Misalnya, “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
Pemilihan Nilai Tambahan (3 Stray): Pilih tiga nilai tambahan yang relevan dengan Pancasila, tetapi tidak langsung terkait dengan dua nilai inti yang telah dipilih. Misalnya, “Persatuan Indonesia,” “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” dan “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.”
Menggali Nilai-Nilai Tambahan: Ajak peserta untuk mendalami dan menggali nilai-nilai tambahan yang telah dipilih. Ini dapat melibatkan diskusi, studi kasus, penelitian, dan aktivitas praktis lainnya.
Kaitkan dengan Nilai Inti: Selanjutnya, peserta harus mencoba menghubungkan nilai-nilai tambahan yang telah dieksplorasi dengan dua nilai inti yang telah ditetapkan sebelumnya. Ini membantu mereka melihat bagaimana semua nilai-nilai Pancasila saling terkait dan mendukung satu sama lain.
Penerapan dalam Konteks Berbangsa: Peserta harus diarahkan untuk merenungkan bagaimana mereka dapat menerapkan pemahaman tentang Pancasila ini dalam kehidupan sehari-hari dan dalam konteks berbangsa. Mereka dapat merancang tindakan konkret yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Evaluasi dan Refleksi: Akhirnya, evaluasi dan refleksi terhadap pembelajaran harus dilakukan. Peserta harus ditantang untuk mengukur sejauh mana mereka telah memahami dan menerapkan Pancasila dalam hidup mereka, dan bagaimana pembelajaran ini memengaruhi pandangan dan tindakan mereka.
Ciptakan Inovasi, Tebarkan Manfaat”
“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”
Penulis: Yusuf Trisnawan,S.Pd., Guru Mapel PPKn
Penyunting: Tim Humas dan Literasi

Beri Komentar