Semarang – Universitas Ngudi Waluyo menggelar seminar bertajuk Deep Learning dengan tema “Universitas Ngudi Waluyo Berdampak: Implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam” pada Rabu (20/8/2025) di Aula H.M. Iskak Soepardi. Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, antara lain Rektor Universitas Ngudi Waluyo Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., perwakilan Kemendikdasmen Dr. Enang Ahmadi, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Bidang Pemberdayaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Kustri Saptono, S.Si., M.Pd.
Seminar yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.45 WIB ini dihadiri oleh dosen, guru, kepala sekolah, dan mahasiswa. Diskusi berfokus pada bagaimana pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah di Jawa Tengah.
Dalam paparannya, Rektor Universitas Ngudi Waluyo, Prof. Subyantoro, menekankan pentingnya pembelajaran mendalam untuk menjawab tantangan rendahnya skor literasi siswa Indonesia di tingkat internasional. Ia sekaligus meluncurkan aplikasi “Literasikan”, sebuah platform digital yang dirancang untuk mengukur kecepatan membaca efektif siswa dari tingkat SD hingga SMA.
“Skor PISA menunjukkan kemampuan literasi siswa Indonesia masih tertinggal. Kami ingin menjawab persoalan itu dengan meluncurkan aplikasi Literasikan. Platform ini mampu mengukur kecepatan membaca efektif, memberikan analisis mendalam, serta rekomendasi personal untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa,” kata Prof. Subyantoro.
Aplikasi Literasikan dapat diakses melalui laman https://literasikan.unw.ac.id/. Menurut Prof. Subyantoro, inovasi ini tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga strategi untuk membentuk budaya membaca yang lebih kritis dan berkesinambungan. “Kami berharap Literasikan dapat menjadi solusi nyata dalam meningkatkan keterampilan literasi generasi muda, sekaligus mendukung kebijakan nasional di bidang pendidikan,” tambahnya.
Sementara itu, Dr. Enang Ahmadi dari Kemendikdasmen memaparkan konsep dasar deep learning yang ia sebut sebagai pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Menurutnya, pendekatan ini menekankan pada penguatan pemahaman konseptual siswa sekaligus pengembangan keterampilan berpikir kritis dan komunikasi.
“Pembelajaran mendalam bukan hanya soal menguasai materi, tetapi bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah. Dengan demikian, mereka tidak hanya tahu, tetapi juga mampu menerapkan apa yang dipelajari,” jelas Enang.
Ia juga menjabarkan strategi implementasi deep learning yang mencakup kurikulum dinamis dan responsif, asesmen berbasis proses, ekosistem belajar yang kolaboratif, serta peran aktif guru dan kepala sekolah sebagai penggerak. “Tujuan akhirnya adalah membentuk profil pelajar Pancasila yang kritis, kreatif, beriman, sehat, mandiri, dan komunikatif,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kustri Saptono yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah menyoroti pentingnya penerapan deep learning di sekolah-sekolah. Ia menegaskan bahwa pendekatan ini akan mengeliminasi stigma schooling without learning atau sekolah tanpa belajar.
“Kita tidak boleh lagi membiarkan anak-anak datang ke sekolah hanya untuk menggugurkan kewajiban. Sekolah harus memastikan ada pembelajaran bermakna. Karena itu, kami mengajak guru dan kepala sekolah untuk menerapkan pembelajaran mendalam sesuai konteks masing-masing satuan pendidikan,” ujar Kustri.
Seminar ini juga menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan agar berani melakukan transformasi pembelajaran. Dengan kolaborasi universitas, pemerintah, dan sekolah, diharapkan pendekatan deep learning dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan.
“Pendidikan harus berorientasi pada pembentukan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, mereka siap menghadapi tantangan zaman sekaligus menjadi insan yang memuliakan kehidupan,” tutup Dr. Enang Ahmadi.
Melalui seminar ini, Universitas Ngudi Waluyo tidak hanya menegaskan posisinya sebagai kampus yang berdampak, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. Kehadiran aplikasi Literasikan dan komitmen penerapan pembelajaran mendalam menjadi bukti konkret bahwa transformasi pendidikan bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata menuju Indonesia yang lebih literat dan berdaya saing.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, S.Pd, Ketua Pokja Pusat keunggulan SMK Negeri 10 Semarang

Mantaaabbb’s . . .
Beri Komentar