Semarang-Senin, 24 November 2025 menjadi salah satu hari paling istimewa bagi seluruh warga SMK Negeri 10 Semarang. Sejak pagi, halaman sekolah telah dipenuhi siswa, guru, dan tamu undangan yang datang untuk mengikuti peringatan Hari Guru sekaligus puncak acara Bulan Bahasa 2025. Bukan sekadar seremoni tahunan, kegiatan ini menjadi momen penghormatan bagi para pendidik sekaligus perayaan kreativitas seluruh warga sekolah. Acara yang dimulai pukul 06.30 itu diawali dengan pembukaan dan gelar karya yang menampilkan beragam hasil kreativitas siswa. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah serta pembacaan puisi Hari Guru yang berhasil menyatukan suasana haru dan kebanggaan di antara hadirin.
Suasana semakin semarak karena acara dipandu oleh dua guru berkostum tokoh punakawan Gareng dan Bagong, yakni Beni Legowo dan Andi Triacahyono. Kehadiran keduanya menghadirkan nuansa budaya sekaligus humor segar yang membuat para peserta antusias sejak awal. Panggung pun semakin hidup ketika para guru dari berbagai jurusan, mulai dari TP, Manlog, TKR, TBKR, TSM, TPK, RPL, hingga tim manajemen, tampil menunjukkan bakat mereka. Berbagai penampilan, mulai dari drama, musik, hingga tarian modern, menggambarkan betapa para guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mampu menghibur dan menginspirasi. Panitia turut membagikan door prize untuk menambah kemeriahan acara.
Memasuki sesi kedua, kegiatan berlanjut dengan talk show pendidikan bersama founder platform istagram Jangan Jadi Guru, Rizqy Rahmat Hani, M.Pd. Diskusi ini menghadirkan perspektif baru mengenai dunia pendidikan, tantangan guru masa kini, serta pentingnya adaptasi terhadap kebutuhan generasi muda. Moderator talk show, Arimurti Asmoro, mengatakan bahwa momen ini menjadi ruang refleksi bagi seluruh guru. “Kami menyadari bahwa Hari Guru Nasional dan puncak Bulan Bahasa ini memberikan momentum bagi kami untuk betul-betul menghargai dan melanjutkan tugas guru yang sangat mulia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pesan utama dalam talk show tersebut sangat relevan. “Jangan jadi guru kalau hanya untuk mengejar tugas atau mencari uang. Jadilah guru yang menjadi sahabat murid, yang mampu mendampingi mereka mencapai masa depan yang lebih baik,” katanya.
Tak hanya guru, jajaran manajemen pun ikut menunjukkan kreativitas. Salah satunya adalah Helmi Yuhdana, Waka Kesiswaan SMK Negeri 10 Semarang yang tampil dalam tarian modern. Seusai penampilan, ia menyampaikan rasa bangga dapat menjadi bagian dari perayaan ini. “Saya merasa bangga dan senang karena kegiatan hari ini sangat meriah dan berkolaborasi dengan semua jurusan,” ujarnya. Helmi berharap kegiatan serupa dapat dikemas lebih besar lagi di masa mendatang. “Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih meriah, lebih sukses, dan lebih megah,” tambahnya.
Partisipasi siswa pun tidak kalah antusias. Salah satu siswi, Jihan, menyampaikan bahwa acara tahun ini jauh lebih berkesan dibanding tahun sebelumnya. “Event tahun ini lebih asik, lebih meriah, dan paling seru saat guru-guru jurusan tampil,” katanya. Ia mengaku sangat terkesan dengan penampilan jurusan Teknik Pemesinan (TP). “Mereka kelihatan banget effort-nya. Bahkan kursi-kursi yang dipakai guru TP itu kreatif banget,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain talk show dan penampilan seni, kegiatan juga diramaikan dengan fashion show guru, apresiasi GTK, serta penampilan dari tenaga kependidikan TU dan PPSU. Jurusan NKN turut menambah suasana sastra dengan membawakan musikalisasi puisi yang memperkuat tema Bulan Bahasa.
Peringatan Hari Guru dan puncak Bulan Bahasa di SMK Negeri 10 Semarang tahun ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang bagi seluruh warga sekolah untuk meneguhkan peran guru sekaligus menguatkan budaya literasi. Melalui paduan budaya, kreativitas, dan edukasi, sekolah ini berharap dapat membentuk generasi muda yang kreatif, inovatif, cerdas, berbudaya, dan bermoral.
Guru hebat, Indonesia kuat.
Penulis : Hanifah Aqmarina Fiddhah, siswa kelas XI TP 1 SMK Negeri 10 Semarang.

Beri Komentar