Semarang – Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi Kepala Sekolah SMK Gelombang II dan Guru SMK Gelombang III di Jawa Tengah resmi dibuka pada Minggu, 31 Agustus 2025. Kegiatan yang berlangsung di SMK Negeri 6 Kota Semarang, Jl. Sidodadi Barat No. 8 Semarang, ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk perwakilan dari SMK Negeri 10 Semarang yang mengirimkan empat guru, yakni Muhammad Yunan Setiawan, Anis Indri Hastuti, Susanti, dan Dian Primayanto.
Pembukaan acara dilakukan oleh Pengawas Pembina Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Dr. Ahlis Qoidah Noor, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa setiap praktik pembelajaran di sekolah harus berpijak pada Tujuan Pendidikan Nasional. “Pendidikan bukan hanya tentang mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk karakter, sikap, dan keterampilan agar anak-anak kita siap menghadapi masa depan,” ujar Dr. Ahlis.
Ia menambahkan, pelaksanaan program pelatihan ini sejalan dengan prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang tengah menggenjot kualitas pendidikan vokasi. Program ini diarahkan agar sekolah menengah kejuruan lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja. “Gubernur Jawa Tengah memberi perhatian besar pada pendidikan vokasi. SMK harus menjadi pionir dalam menjalin kemitraan dengan dunia industri, khususnya Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Melalui kemitraan ini, lulusan SMK akan lebih siap terserap di dunia usaha dan industri,” tuturnya.
Selain keterampilan teknis, Dr. Ahlis menegaskan pentingnya karakter dan daya saing global bagi lulusan SMK. Ia menilai visi sekolah vokasi tidak cukup hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga pribadi yang berdaya juang tinggi dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman. “SMK bukan hanya mencetak tukang, melainkan mencetak manusia unggul yang produktif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan dunia industri,” kata Dr. Ahlis.
Dalam arahannya, ia juga mendorong kepala sekolah dan guru untuk merancang kegiatan belajar mengajar dengan merujuk pada Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), serta tujuan sekolah. Dengan landasan tersebut, proses pembelajaran diharapkan lebih terukur, terarah, dan selaras dengan kebijakan pendidikan nasional maupun daerah.
Kegiatan pelatihan ini tak hanya memberi ruang refleksi, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi-inovasi pembelajaran mendalam. Peserta diajak menggali strategi baru yang dapat diterapkan di kelas agar pembelajaran lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui pendekatan ini, guru didorong untuk menghadirkan pengalaman belajar yang tidak sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses mendidik yang memerdekakan murid.
Anis Indri Hastuti, salah satu guru peserta pelatihan, mengaku pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. “Pembelajaran mendalam memberi kita pemahaman bahwa tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menuntun murid agar berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Dengan kerangka yang jelas, guru bisa lebih mudah merancang pembelajaran yang holistik dan sesuai kebutuhan murid,” ungkapnya.
Melalui pelatihan yang diikuti kepala sekolah dan guru SMK dari berbagai daerah di Jawa Tengah ini, diharapkan lahir praktik baik yang dapat memperkuat peran SMK sebagai pencetak generasi emas Indonesia. Pendidikan vokasi tidak lagi dipandang sebatas jalur alternatif, tetapi sebagai jalur utama yang mampu melahirkan lulusan berkualitas, siap kerja, sekaligus siap menghadapi tantangan global.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, S.Pd, Ketua Pokja Pusat Keunggulan SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar