Semarang, 13 November 2025 — Suasana penuh semangat dan antusiasme menyelimuti aula Perpustakaan SMA Kolese Loyola Semarang pada Kamis siang saat pelaksanaan On the Job Training (OJT) 3 Pembelajaran Mendalam Kelas F Guru SMA Kota Semarang resmi dibuka. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam program Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) yang diinisiasi untuk memperkuat kompetensi guru dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.
Kepala SMA Kolese Loyola Semarang, Pater Ferdinandus Tuhujati Setyoadi, S.J., M.Hum, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan apresiasi dan harapan besar terhadap para peserta OJT 3. “Selamat datang di SMA Kolese Loyola untuk OJT 3 Pelatihan Pembelajaran Mendalam. Dalam OJT 3 ini, prinsip-prinsip pembelajaran mendalam — berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan — diharapkan dapat benar-benar dihayati. Pembelajaran berkesadaran menjadikan murid sadar akan belajar, pembelajaran bermakna mengaitkan materi dengan praktik kehidupan sehari-hari, dan akhirnya pembelajaran menggembirakan akan menumbuhkan semangat belajar yang tulus,” ujarnya.
Kegiatan OJT 3 ini difasilitasi oleh tiga fasilitator PM BBGTK Jawa Tengah, yakni Ardan Sirodjuddin dari SMK Negeri 10 Semarang, Rochimudin dari SMA Negeri 9 Semarang, dan Fanny Firman Syah dari SMA Negeri 1 Semarang. Ketiganya membimbing peserta untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam dalam praktik kelas, sekaligus menumbuhkan budaya refleksi dan kolaborasi antar guru.
Salah satu guru model, Gemilau Ragil Prasetyo dari SMA Kolese Loyola Semarang, menuturkan bahwa OJT 3 memberikan pengalaman berharga dalam mengimplementasikan PM di kelasnya. “OJT III membuat saya lebih memahami bagaimana pembelajaran mendalam diimplementasikan dalam mata pelajaran Agama Katolik. Keterampilan kolaborasi antar guru dan antar mata pelajaran, komunikasi dengan siswa, dan idealisme sebagai guru yang menguasai PM benar-benar ditempa dalam proses diklat kali ini,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Sebagai guru model, saya merasa bersyukur mendapat kesempatan ini. Saya mendapatkan apresiasi sekaligus kritik membangun dari rekan-rekan guru lain. Itu membuat saya terdorong untuk menemukan inovasi pembelajaran yang lebih inspiratif dan bermakna bagi murid.”
Kesan positif juga disampaikan oleh Wahyu Ning Dewi Kumalaretna dari SMA Negeri 4 Semarang, yang turut berperan sebagai guru model dalam kegiatan ini. “Saya merasa senang sekali karena bisa mendapatkan masukan dan umpan balik dari rekan sesama pelatihan saat melakukan praktik pembelajaran,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi dan perbaikan rancangan pembelajaran berikutnya. “Setelah rangkaian kegiatan ini selesai, saya berharap komunitas kelas 4F terus menjadi wadah berbagi praktik baik sesama rekan pelatihan agar praktik pembelajaran mendalam semakin matang,” tambahnya penuh harap.
Hal senada disampaikan oleh Drajad D. Putranto dari SMA Negeri 13 Semarang, yang menilai OJT 3 sebagai pengalaman yang sangat berkesan. “Saya merasa beruntung bisa berkunjung ke sekolah lain, seperti SMA Sultan Agung 1 dan Kolese Loyola Semarang. Dari kunjungan itu, saya bisa mengamati dan belajar dari praktik mengajar guru lain,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa pengalaman ini membangkitkan semangat baru. “Dengan aktivitas OJT 3 ini, saya menjadi semakin tergerak untuk selalu berkreasi, berinovasi, dan merefleksi pembelajaran yang saya lakukan,” ujarnya dengan antusias.
Sementara itu, Puji Iman Nursuhud dari SMA Islam Hidayatullah Semarang juga mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran kegiatan tersebut. “Alhamdulillah pelaksanaan OJT 3 lancar dan sukses. Untuk kelompok kecil kelas 3, kegiatan dilaksanakan di SMA Negeri 4 Semarang. Kami sebagai peserta menjadi observer di kelas, khususnya pada pembelajaran matematika yang dikolaborasikan dengan sejarah, geografi, dan ekonomi,” jelasnya. Ia menambahkan, “Berkat pelatihan PM ini, saya semakin memahami bagaimana merumuskan rencana pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik murid dan konteks kehidupan nyata.”
Kegiatan OJT 3 ini tidak hanya menjadi ajang penerapan teori pembelajaran mendalam, tetapi juga memperkuat solidaritas dan budaya refleksi di kalangan guru. Para peserta belajar bahwa pembelajaran bukan sekadar penyampaian materi, melainkan proses sadar untuk menuntun murid menemukan makna belajar dalam kehidupan mereka.
Di akhir kegiatan, para fasilitator menegaskan pentingnya menjaga semangat kolaborasi yang telah tumbuh selama pelatihan. Mereka berharap komunitas guru kelas F SMA Kota Semarang terus berlanjut sebagai ruang belajar bersama yang dinamis.
Melalui pelaksanaan OJT 3 Pembelajaran Kelas F di SMA Kolese Loyola Semarang, para guru peserta membuktikan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya dimulai dari kebijakan, tetapi juga dari ruang-ruang kelas di mana guru mau belajar, berbagi, dan berinovasi. Semangat itu menjadi bukti bahwa guru Indonesia siap menapaki langkah baru menuju pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan bagi seluruh murid.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Jawa Tengah

Beri Komentar