Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Kepala SMPN 3 Surakarta Paparkan Keberhasilan Inkuiri Kolaboratif dalam Pembelajaran Abad 21 di Talkshow GTK 2025

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SURAKARTA-Pembicara terakhir dalam Talkshow Pendidikan Apresiasi GTK Tahun 2025 yang berlangsung pada Rabu, 19 November 2025 pukul 08.00 WIB di Hotel Lorin Solo, Jl. Adi Sucipto No. 47, Kenaiban, Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah adalah Kepala SMPN 3 Surakarta, Kucisti Ike Retnoningtyas. Dalam forum yang dihadiri para pendidik dari berbagai daerah tersebut, Ike memaparkan praktik baik bertema “Pembelajaran Mendalam dengan Inkuiri Kolaboratif di SMP Negeri 3 Kota Surakarta”, yang menjadi salah satu sesi paling ditunggu karena keberhasilan sekolah tersebut mengembangkan pembelajaran abad 21 secara nyata.

Dalam pemaparannya, Ike menjelaskan bahwa kebutuhan akan pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna menjadi latar belakang pengembangan inkuiri kolaboratif di SMPN 3 Surakarta. Ia menegaskan bahwa tantangan pendidikan abad 21 menuntut sekolah untuk menumbuhkan kreativitas, kolaborasi, kemampuan refleksi, serta keterampilan berpikir kritis pada siswa. “Kami melihat pembelajaran tidak cukup hanya mengejar hasil akhir. Yang jauh lebih penting adalah proses siswa dalam memahami konsep secara mendalam,” ujar Ike membuka paparannya.

Ike menyebutkan bahwa guru-guru di sekolahnya menemukan kebutuhan untuk memperkuat budaya refleksi dan kerja kolaboratif di antara mereka. Dari situlah pendekatan Inkuiri Kolaboratif dipilih sebagai strategi utama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendekatan ini kemudian dirumuskan dalam kerangka kerja ADIM (Assess, Design, Implement, Measure), sebuah siklus peningkatan mutu pembelajaran yang bersifat reflektif dan berkelanjutan. “Dengan ADIM, guru menjadi terbiasa membaca kebutuhan kelas, merancang pembelajaran bersama, mengimplementasikan, lalu merefleksi hasilnya secara objektif. Ini membuat guru lebih profesional dan pembelajaran lebih terarah,” jelas Ike.

Pada tahap Assess, guru-guru melakukan identifikasi mendalam terhadap berbagai permasalahan nyata di kelas melalui observasi, analisis data, dan diskusi kelompok. Mereka menelusuri kebutuhan siswa, hambatan belajar, hingga akar penyebab isu pembelajaran. Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan fokus perbaikan yang dianggap paling mendesak.

Tahap Design kemudian menjadi ruang bagi guru untuk merancang strategi pembelajaran secara kolaboratif. Mereka menyusun rencana aksi bersama, menyepakati aktivitas-aktivitas yang inovatif, serta menetapkan indikator keberhasilan agar setiap praktik dapat diukur secara objektif. “Di tahap ini guru benar-benar berdiskusi, bertukar gagasan, dan merancang aktivitas yang relevan. Semua dilakukan bersama, bukan parsial,” terang Ike.

Tahap Implement menjadi proses penerapan rencana pembelajaran di kelas. Menariknya, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengamat bagi rekan sejawatnya. Hal ini menciptakan budaya umpan balik yang sehat serta memperkuat profesionalisme antar guru. Sementara pada tahap Measure, seluruh data yang diperoleh—baik dari observasi, hasil pekerjaan siswa, maupun umpan balik—dikumpulkan untuk dianalisis. Guru kemudian melakukan refleksi bersama guna menilai efektivitas strategi dan merumuskan langkah lanjutan. “Refleksi adalah kunci. Tanpa itu, guru tidak akan tahu apakah pembelajarannya berhasil, atau apa yang perlu diperbaiki,” tambahnya.

Ike juga menekankan bahwa salah satu aspek paling inovatif dari pendekatan ini adalah integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran. Ia sendiri mengimplementasikan Teachable Machine yang memungkinkan siswa membuat proyek berbasis data dan pengenalan pola. Guru lain, seperti Sidiq, memanfaatkan 3D Printer untuk membantu siswa memvisualisasikan konsep matematika abstrak, sementara Vero menggunakan AR Ruler dalam materi skala agar pembelajaran lebih nyata. Di sisi lain, Nurma menggabungkan pendekatan lesson study dengan topik lingkungan melalui “Bak Sampah Optimal”, yang tidak hanya mendidik siswa tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap isu lingkungan. “Teknologi bukan tujuan, tetapi alat untuk membuat konsep lebih mudah dipahami dan menarik bagi siswa,” jelas Ike.

Dampak dari implementasi inkuiri kolaboratif ini terasa signifikan di SMPN 3 Surakarta. Proses belajar mengajar menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan berpusat pada kebutuhan siswa. Siswa juga menunjukkan motivasi belajar yang meningkat lantaran pembelajaran diperkaya oleh penggunaan teknologi yang interaktif. Dari sisi guru, budaya kolaboratif dan reflektif yang dibangun mampu meningkatkan profesionalisme mereka secara konsisten. “Yang kami rasakan adalah perubahan nyata. Guru menjadi lebih percaya diri dan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran modern,” ungkap Ike.

Tidak hanya berhenti di situ, Ike menambahkan bahwa berbagai inovasi yang lahir dari program inkuiri kolaboratif telah mengantarkan SMPN 3 Surakarta meraih beragam prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. “Hasilnya tidak hanya terlihat di kelas, tetapi juga dalam prestasi siswa dan guru yang semakin meningkat. Ini bukti bahwa kolaborasi dan inovasi benar-benar membawa perubahan,” ujarnya menutup sesi presentasinya.

Paparan yang disampaikan dengan lugas dan inspiratif itu mendapatkan apresiasi dari para peserta talkshow. Mereka menilai praktik yang diterapkan SMPN 3 Surakarta dapat menjadi model pembelajaran abad 21 yang relevan dan berkelanjutan. Talkshow Pendidikan Apresiasi GTK Tahun 2025 pun ditutup dengan antusiasme peserta yang membawa pulang wawasan baru, khususnya tentang pentingnya kolaborasi, refleksi, dan teknologi sebagai kunci pembelajaran masa depan.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Peserta Talkshow Pendidikan dari SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar