Ungaran – Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang melalui Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SMP Bidang Pendidikan Dasar menggelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Tahun 2025 pada Kamis (21/8/2025) di SMP Negeri 2 Ungaran. Kegiatan ini menghadirkan Ardan Sirodjuddin, M.Pd., Kepala SMK Negeri 10 Semarang dan Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Provinsi Jawa Tengah, sebagai narasumber dengan materi utama tentang Pembelajaran Mendalam.
Workshop yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB itu dibuka oleh Dewi Nirmala, Kepala Seksi SMP Disdikbudpora Kabupaten Semarang. Dalam sambutannya, Dewi Nirmala menekankan pentingnya guru untuk terus belajar dan membuka diri terhadap perubahan. Menurutnya, dinamika pendidikan yang semakin kompleks menuntut pendidik agar tidak berhenti pada kebiasaan lama. “Guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Kita tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara lama, sementara anak-anak kita hidup di era yang serba cepat dan penuh tantangan. Karena itu, pendekatan pembelajaran mendalam harus segera dikuasai agar kualitas pembelajaran benar-benar meningkat,” ujarnya dengan penuh semangat.
Ia menambahkan, pembelajaran mendalam bukan sekadar jargon baru dalam kurikulum, melainkan kebutuhan nyata untuk mencetak generasi yang tangguh dan berkarakter. “Ketika guru mampu menerapkan pembelajaran mendalam, maka siswa tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga terampil menghadapi kehidupan. Itu yang kita butuhkan saat ini,” tegasnya.
Dalam paparannya, Ardan Sirodjuddin menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam menekankan pada perubahan pola pikir guru maupun siswa. Menurutnya, pola pikir merupakan fondasi dari keterampilan (skillset) dan alat (toolset). “Ada dua jenis pola pikir. Pola pikir tetap atau fixed mindset cenderung menghindari tantangan dan menyerah saat menemui kesulitan. Sedangkan pola pikir bertumbuh atau growth mindset justru menerima tantangan, bertahan menghadapi rintangan, dan memandang usaha sebagai peluang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, intervensi pola pikir sangat berpengaruh pada prestasi akademik siswa. Guru dapat mendorong murid yang ingin menyerah, memberikan pujian pada proses, serta menekankan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. “Ketika kita mengubah fokus dari target performa ke target pembelajaran, siswa akan lebih menghargai proses. Misalnya bukan sekadar mengejar nilai A, tetapi mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris,” paparnya.
Lebih lanjut, Ardan menguraikan bahwa pembelajaran mendalam terdiri atas tiga komponen utama, yaitu penguasaan (mastery), identitas (identity), dan kreativitas (creativity). Dalam konteks kreativitas, ia mengenalkan kerangka berpikir CREATE: Combine, Reverse, Eliminate, Alternate, Think, Exchange. Ia juga menegaskan bahwa kurikulum yang mendukung pembelajaran mendalam harus dinamis, fleksibel, dan relevan dengan isu aktual. “Kurikulum harus berpusat pada peserta didik, memanfaatkan teknologi digital, dan mendorong keterampilan tingkat tinggi seperti berpikir kritis, kolaborasi, serta pemecahan masalah,” katanya.
Ardan turut memaparkan delapan dimensi profil lulusan, meliputi keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kolaborasi, kreativitas, kemandirian, komunikasi, dan kesehatan. Ia menekankan prinsip bahwa pembelajaran mendalam harus berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. “Guru juga harus bahagia. Ada tiga jenis kebahagiaan yang bisa dirasakan guru, yaitu rockstar ketika mendapatkan sesuatu, flow saat tenggelam dalam aktivitas yang disukai, dan higher purpose ketika merasakan arti dari apa yang dilakukan bagi orang lain,” tutur Ardan.
Paparan tersebut mendapatkan apresiasi dari para peserta workshop. Lusi Kurniasari, guru SMP Negeri 3 Tengaran, mengaku materi yang disampaikan sangat kontekstual. “Paparan dari narasumber itu yang kami butuhkan sebagai stimulus dan motivasi menuju pola pikir bertumbuh. Sebelum menerapkan pembelajaran mendalam, kami sebagai guru harus belajar merubah mindset terlebih dahulu. Terima kasih atas ilmu dan pencerahannya,” ucapnya.
Senada dengan itu, Ahmad Jamhari dari SMP Negeri 2 Sumowono menilai penyampaian materi yang sederhana membuat peserta mudah memahami. “Paparan yang disampaikan sangat jelas, disertai contoh-contoh konkret sehingga menarik dan mudah dipahami,” katanya.
Hal serupa diungkapkan Cokro Suharono dari SMP Negeri 3 Pringapus Satu Atap. Ia merasa terinspirasi untuk terus berkembang. “Paparan ini memotivasi saya untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi hasil, tetapi juga pada proses dan kebermaknaan. Guru harus menjadi role model agar selalu bertumbuh,” ungkapnya.
Sementara itu, Dila dari SMP Al Mas’udiyyah Bandungan menilai materi yang disampaikan sangat bermanfaat, meski waktunya terasa singkat. “Materi yang disampaikan sangat berguna, tetapi sayang waktunya terlalu sebentar. Rasanya kurang lama,” katanya.
Workshop ini ditutup dengan pesan bahwa pola bekerja guru idealnya bertransformasi dari sekadar menyelesaikan materi menuju pembelajaran yang memberdayakan siswa. Dari bekerja sekadar rutinitas, menjadi pelayanan bermakna. Dari mengabaikan, menjadi peduli. Dengan begitu, tujuan pendidikan untuk menciptakan generasi yang berkarakter, kreatif, dan adaptif dapat tercapai.

Mantaaaaabb’ss
Beri Komentar