Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Kemdikdasmen Gelar Simposium Vokasi Ketahanan Pangan, Dorong Peran SMK sebagai Garda Regenerasi Petani Muda

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Jakarta — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat SMK menggelar Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan pada Senin hingga Selasa, 8–9 Desember 2025. Acara yang dimulai pukul 07.30 WIB dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Direktorat SMK ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

Simposium ini dihadiri oleh para pakar, praktisi, akademisi, pejabat kementerian, dan perwakilan sekolah, termasuk Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd. Kegiatan digelar sebagai respons terhadap tantangan besar ketahanan pangan nasional, terutama minimnya regenerasi petani muda. Data yang dipaparkan narasumber menunjukkan bahwa sekitar 60–70 persen petani di Indonesia berusia di atas 43 tahun, sementara hanya 2 persen generasi Z yang memilih sektor pertanian sebagai masa depan mereka.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mukti, yang membuka acara menyampaikan bahwa pendidikan vokasi memegang peran sentral dalam menjaga keberlanjutan pangan Indonesia. Ia menekankan bahwa sektor pangan tidak dapat diserahkan hanya kepada pelaku tradisional, tetapi harus melibatkan anak muda yang dibekali kompetensi modern. “Melalui simposium ini, kami ingin memastikan SMK menjadi pusat regenerasi pelaku pangan yang inovatif dan berdaya saing. Kita tidak bisa bicara ketahanan pangan tanpa menyiapkan SDM yang paham teknologi, berani berinovasi, dan mau terjun ke sektor pertanian,” ujarnya.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latiful Hayat, dalam keynote speech-nya menambahkan bahwa revitalisasi vokasi menjadi kunci untuk mengubah paradigma tentang profesi petani. Menurutnya, stigma bahwa pertanian adalah pekerjaan kotor dan tidak bergengsi harus dilawan dengan pendekatan baru berbasis teknologi dan kewirausahaan. “Pertanian masa depan bukan lagi cangkul dan lumpur semata. Ini tentang smart farming, digital agriculture, dan hilirisasi produk bernilai tambah,” tegasnya.

Simposium menghadirkan sejumlah narasumber utama, di antaranya Prof. Bambang Suhartanto, Guru Besar Peternakan UGM, yang menjadi moderator sesi pembahasan ekosistem ketahanan pangan nasional. Ia menekankan pentingnya melibatkan siswa SMK dalam rantai nilai pangan sejak dini. “Jika ingin mencetak petani milenial, maka SMK harus menjadi ruang inovasi, bukan hanya ruang praktik,” katanya.

Dr. Muhammad Amin, S.Pi., M.Si., dari Kementerian Pertanian memaparkan inovasi pertanian berbasis teknologi. Ia menjelaskan tren penggunaan IoT, sensor tanah, drone pemantau, hingga analisis data supply-demand. Menurutnya, digitalisasi merupakan kunci efisiensi pangan nasional. “Anak-anak SMK harus terbiasa dengan teknologi. Dunia pertanian berubah cepat, dan merekalah yang akan memimpin perubahan tersebut,” ujarnya.

Dari Bappenas, Nur Avianto, SP, M.G., membahas arah kebijakan makro pembangunan pangan termasuk pentingnya regenerasi petani. Ia menegaskan bahwa masa depan pangan tidak dapat diserahkan pada pelaku usia lanjut. “Kita membutuhkan generasi baru yang melihat pertanian sebagai peluang, bukan beban,” ungkapnya.

Sementara itu, Wiwin Purbaningsih, M.A., peneliti dari SERU Research Institute, mempresentasikan temuan lapangan terkait tantangan dan harapan SMK pertanian. Ia menyebut SMK masih menghadapi banyak kendala seperti minimnya guru produktif, alat praktik yang tidak lagi relevan, serta kurikulum yang belum menyesuaikan kebutuhan industri, termasuk pemasaran digital. “Ada mismatch kompetensi yang harus segera diatasi. Tapi potensi SMK untuk menjadi motor regenerasi pangan sangat besar,” jelasnya.

Simposium ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak. Pemerintah, industri, sekolah, dan masyarakat harus terlibat dalam membangun sistem pangan yang kokoh. Program seperti Business Matching, Brigade Pangan, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai efektif mendorong partisipasi pelaku muda di sektor pangan. Kementerian menegaskan perlunya pemerataan program SMK Pusat Keunggulan agar penguatan vokasi tidak hanya terjadi di kota besar tetapi juga menjangkau daerah.

Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd., yang mengikuti kegiatan tersebut, mengapresiasi langkah Kementerian dalam memperkuat vokasi pangan. Ia menilai simposium ini membuka wawasan baru bagi sekolah dalam menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri. “Ini langkah penting untuk memastikan SMK siap mencetak generasi muda yang mau terjun ke sektor pangan. Kami sangat terbantu dengan paparan para pakar,” ungkapnya. Ardan menambahkan bahwa sekolahnya siap bergerak menuju integrasi smart farming, hilirisasi produk, serta penguatan kewirausahaan siswa.

Dengan adanya penyelarasan kurikulum, peningkatan kompetensi, dan pembukaan peluang kerja yang lebih luas, SMK diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan pangan Indonesia. Simposium ini juga mendorong berbagi praktik baik antar-SMK dan menjadi momentum penting dalam merumuskan arah pendidikan vokasi masa depan. Pemerintah menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga regenerasi, inovasi, dan kolaborasi.

Melalui dialog lintas sektor ini, peran SMK sebagai pusat inovasi pangan semakin ditegaskan. Para pemangku kepentingan sepakat bahwa masa depan pangan Indonesia harus dibangun oleh generasi yang terampil, visioner, dan berkelanjutan. Simposium ini menjadi langkah nyata untuk memastikan pendidikan vokasi bukan hanya relevan, tetapi juga menjadi fondasi ketahanan pangan nasional.

Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

4 Komentar

Elmina Ita K, M.Si
Senin, 8 Des 2025

Bertambah ilmu

Balas
MUCHAMMAD RIZQI
Senin, 8 Des 2025

Mantap

Balas
Joko Suwignyo
Senin, 8 Des 2025

Langkah yang strategis SMK sebagai garda terdepan dalam mengenalkan dan menyiapkan SDM untuk potensi ketahanan pangan dibidang pertanian di Indonesia

Balas
Sofiatul Nadziyah
Selasa, 9 Des 2025

Para pemangku kepentingan sepakat bahwa masa depan pangan Indonesia harus dibangun oleh generasi yang terampil, visioner, dan berkelanjutan.

Balas

Beri Komentar