SEMARANG-Tahap akhir Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru Penggerak dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Tengah resmi dibuka pada Rabu, 15 Oktober 2025, di SMP Negeri 39 Semarang. Kegiatan ini dikenal sebagai In Service Training 2 (IN 2), yang menjadi puncak dari rangkaian pelatihan setelah peserta melewati tahap In Service Training 1 (IN 1) dan On the Job Learning (OJL). IN 2 berfungsi sebagai forum refleksi, evaluasi, sekaligus ruang berbagi pengalaman praktik baik dari para guru dan kepala sekolah peserta pelatihan.
Kegiatan IN 2 ini diikuti oleh para kepala sekolah dan guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Semarang. Selama empat hari pelaksanaan, baik secara tatap muka maupun daring, peserta diarahkan untuk melaporkan hasil praktik pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah masing-masing, melakukan refleksi terhadap seluruh proses pelatihan, serta menyusun rencana tindak lanjut agar praktik baik yang telah dijalankan dapat terus berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si., menekankan pentingnya implementasi hasil pelatihan di ruang-ruang kelas. “Pembelajaran mendalam bukan sekadar teori. Guru harus berani mengimplementasikannya secara nyata di kelas-kelas agar peserta didik dapat merasakan perubahan dalam cara belajar mereka,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa peran kepala sekolah sangat penting dalam memastikan keberlanjutan praktik tersebut melalui supervisi akademik. “Kepala sekolah harus aktif melakukan supervisi akademik agar inovasi pembelajaran yang lahir dari pelatihan ini benar-benar hidup di sekolah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Miftahudin mengumumkan bahwa Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pendidikan akan mengadakan lomba praktik baik Pembelajaran Mendalam dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini. “Kami ingin praktik baik para guru tidak berhenti di sini. Melalui lomba ini, kami berharap muncul inspirasi dan contoh konkret yang bisa direplikasi di sekolah lain. Hasilnya akan kami publikasi sebagai praktik baik untuk seluruh Indonesia,” tegasnya.
Menurut perwakilan BBGTK, tahap IN 2 menjadi momen penting untuk menyempurnakan pemahaman dan kompetensi para pendidik setelah mereka menjalani OJL. Dalam tahap tersebut, peserta tidak hanya diminta untuk mempresentasikan hasil praktik pembelajaran, tetapi juga melakukan analisis mendalam terhadap efektivitas strategi yang telah mereka terapkan. Melalui sesi refleksi, peserta diajak mengidentifikasi tantangan dan menemukan solusi agar pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna.
BBGTK sendiri menegaskan bahwa keberlanjutan adalah kunci keberhasilan program Pembelajaran Mendalam. Melalui pendekatan yang reflektif dan kolaboratif, diharapkan para guru dan kepala sekolah dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungannya masing-masing. “Tahap IN 2 bukan penutup, tetapi awal dari perjalanan panjang para pendidik untuk terus belajar dan berbagi praktik baik. Apa yang mereka lakukan hari ini akan menentukan wajah pembelajaran Indonesia di masa depan,” ujar salah satu fasilitator pelatihan.
Suasana pembukaan di SMP Negeri 39 Semarang berlangsung khidmat namun penuh semangat. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi awal yang menampilkan video rangkuman perjalanan mereka sejak IN 1 hingga OJL. Dokumentasi itu menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil dalam pembelajaran dapat membawa dampak besar bagi peserta didik.
Selama empat hari ke depan, para peserta akan mengikuti serangkaian kegiatan mulai dari presentasi praktik baik, sesi refleksi terstruktur, hingga penyusunan rencana tindak lanjut berbasis konteks sekolah. Meskipun durasinya lebih singkat dibandingkan tahap sebelumnya, IN 2 dianggap sebagai bagian paling penting karena menjadi ruang penguatan makna dari seluruh proses pelatihan.
Dengan berakhirnya IN 2 nanti, diharapkan para guru dan kepala sekolah membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat pelatihan. Mereka membawa kesadaran baru bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar metode, melainkan cara berpikir baru tentang bagaimana peserta didik belajar, tumbuh, dan berkembang.
“Kami ingin para guru menjadi agen perubahan. Tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga menginspirasi, merefleksi, dan menularkan semangat belajar sepanjang hayat,” tutup Dr. Miftahudin dengan penuh harapan.
Melalui pelaksanaan IN 2 ini, semangat untuk terus berinovasi dalam dunia pendidikan kembali menyala. Dari ruang-ruang kelas di Semarang, diharapkan akan lahir generasi pendidik yang bukan hanya cerdas secara profesional, tetapi juga bijak secara reflektif — pendidik yang mampu menyalakan cahaya pembelajaran mendalam di setiap hati anak Indonesia.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Jawa Tengah

Kolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan, hasil dari pelatihan Pembelajaran Mendalam yang memberi manfaat.
Terima kasih, Pak Ardan.
Beri Komentar