Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Hari Kedua Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Guru SMK Dalami Prinsip Belajar dan Asesmen

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG-Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi guru SMK Wilayah Jawa Tengah Gelombang III memasuki hari kedua dengan fokus pada pendalaman materi yang lebih aplikatif. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 1 September 2025, di SMK Negeri 6 Semarang ini diikuti 24 guru dari berbagai bidang kejuruan, MIPA, hingga IPS/Humaniora. Mereka hadir untuk memperkuat kapasitas dalam menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) di ruang kelas, sebuah inisiatif strategis yang dirancang guna menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.

Pada hari kedua, pelatihan menitikberatkan pada implementasi Modul 2 Pembelajaran Mendalam, yang mencakup empat komponen utama: Konsep Pembelajaran Mendalam, Prinsip Pembelajaran dan Pengalaman Belajar, serta Kerangka Pembelajaran. Tiga fasilitator utama, yakni R. Hariyadi Purnomo, Ice Faulia, dan Nika Dewi Indriati, memandu jalannya sesi dengan format interaktif yang mengajak peserta tidak hanya memahami teori, melainkan juga mengaitkan dengan praktik nyata di lapangan.

Dalam sambutannya, fasilitator Ice Faulia menegaskan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, tetapi pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar. “Guru bukan lagi sekadar aktor yang menyampaikan materi, tetapi juga aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar,” ujarnya di hadapan peserta. Ice menambahkan, pembelajaran mendalam dirancang untuk membentuk lulusan yang memiliki delapan profil utama, antara lain ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, kreativitas, kemandirian, komunikasi, kesehatan, kolaborasi, dan penalaran kritis.

Lebih lanjut, Ice memaparkan tiga prinsip yang menjadi ruh Pembelajaran Mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Menurutnya, ketika siswa belajar dengan kesadaran penuh, merasakan bahwa pembelajaran relevan dengan kehidupannya, serta dilakukan dengan cara yang menyenangkan, maka proses belajar akan berlangsung lebih dalam dan berdampak. “Ketika siswa belajar dengan cara yang membuat mereka merasa terhubung dan termotivasi, guru sebenarnya sedang menyalakan api keinginan belajar yang tidak mudah padam,” tambahnya.

Prinsip tersebut dihubungkan dengan konsep pengalaman belajar yang berlapis. Prosesnya dimulai dari tahap memahami, kemudian mengaplikasi, hingga akhirnya merefleksikan. Ice menjelaskan bahwa alur ini sejalan dengan taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes), yang menilai kedalaman pemahaman siswa secara progresif, dari tingkat dasar hingga kompleks.

Sementara itu, fasilitator lainnya, Nika Dewi Indriati, menekankan pentingnya empat kerangka pembelajaran dalam PM, yaitu praktik pedagogis, lingkungan belajar, kemitraan, dan pemanfaatan digital. Ia menyebut praktik pedagogis sebagai jantung pembelajaran. “Model seperti project-based learning, inquiry, atau problem-based learning tidak bisa dipukul rata. Harus disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, kondisi siswa, dan tujuan pembelajaran,” tegasnya.

Nika juga menyoroti pentingnya lingkungan belajar yang mendukung serta keterlibatan mitra eksternal, baik industri maupun komunitas. Menurutnya, kolaborasi tersebut membuat pembelajaran lebih nyata dan relevan dengan kehidupan siswa. “Teknologi digital pun kini menjadi bagian yang tak terpisahkan. Guru harus cerdas memanfaatkannya sebagai penguat, bukan sekadar pelengkap,” jelasnya.

Kegiatan sehari penuh itu dikemas dengan kombinasi diskusi reflektif, simulasi praktik pedagogis, hingga studi kasus nyata dari kelas-kelas SMK. Para peserta tampak aktif bertanya, menanggapi, dan berbagi pengalaman masing-masing. Diskusi pun mengalir dinamis, memperlihatkan antusiasme guru untuk mengadaptasi konsep-konsep baru tersebut ke dalam pembelajaran sehari-hari.

Salah seorang peserta dari bidang kejuruan mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari sesi hari kedua ini. “Banyak praktik nyata yang bisa langsung kami adaptasi. Diskusinya juga sangat membuka wawasan, terutama tentang bagaimana memfasilitasi pengalaman belajar yang bertahap dan bermakna,” ungkapnya.

Pelatihan ini tidak hanya memberi tambahan pengetahuan, tetapi juga membangkitkan semangat guru untuk menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing. Guru menyadari bahwa transformasi pendidikan tidak melulu soal kebijakan di tingkat atas, melainkan juga tentang bagaimana setiap pengajar mampu membangun budaya belajar yang hidup, relevan, dan sesuai kebutuhan zaman.

Hari kedua pelatihan di SMK Negeri 6 Semarang ini pun menegaskan kembali bahwa guru adalah garda terdepan dalam memastikan Pembelajaran Mendalam benar-benar memberi dampak nyata. Dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, guru diajak untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan siswa.

Penulis : Susanti, S.Pd, Peserta Pelatihan PM dari SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar