Semarang — Suara percikan api dan aroma logam terbakar memenuhi ruang Workshop Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) pada Sabtu hingga Minggu, 12–13 Juli 2025. Selama dua hari penuh, puluhan mahasiswa semester dua Program Studi Teknik Mesin larut dalam kegiatan “Pengenalan dan Pelatihan Dasar Teknik Pengelasan SMAW”, sebuah kegiatan yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan dasar salah satu teknik pengelasan paling umum di dunia industri.
Kegiatan ini berlangsung intensif di bawah bimbingan Muhammad Yunan Setyawan, praktisi pengelasan sekaligus pengajar berpengalaman di bidang welding technology SMK Negeri 10 Semarang. Ia mengungkapkan bahwa penguasaan keterampilan dasar seperti SMAW (Shielded Metal Arc Welding) menjadi pondasi penting bagi calon teknisi dan insinyur mesin sebelum terjun ke dunia kerja.
“Pengelasan itu bukan hanya soal menempelkan logam dengan api. Ada ilmu fisika, kimia, dan keterampilan tangan di dalamnya. Saya senang bisa berbagi pengetahuan ini dengan mahasiswa. Ilmu yang saya miliki tidak akan berarti kalau tidak dibagikan dan dimanfaatkan banyak orang,” ujar Yunan saat ditemui di sela pelatihan.
Metode Shielded Metal Arc Welding atau lebih dikenal dengan sebutan stick welding menjadi fokus utama pelatihan ini. Mahasiswa diperkenalkan pada prinsip dasar pengelasan menggunakan elektroda berlapis fluks yang dialiri arus listrik (AC atau DC). Ketika busur listrik terbentuk antara ujung elektroda dan permukaan logam, suhu ekstrem antara 3.500 hingga 6.500 derajat Celsius mencairkan logam dan membentuk kolam las (weld pool).
Lapisan fluks yang ikut meleleh berfungsi ganda: menghasilkan gas pelindung untuk mencegah oksidasi serta membentuk terak (slag) yang menjaga kualitas hasil las. Meski terdengar sederhana, teknik ini menuntut ketelitian tinggi. Salah sedikit dalam mengatur jarak, sudut, atau arus listrik, hasil las bisa retak atau tidak menempel sempurna.
Menurut Yunan, SMAW memiliki sejumlah keunggulan dibanding metode lain. “Peralatannya sederhana, murah, dan portabel, sehingga cocok untuk pekerjaan lapangan seperti konstruksi atau perbaikan mesin. Tapi di sisi lain, prosesnya relatif lebih lambat dan membutuhkan keterampilan tinggi untuk menghasilkan sambungan yang kuat dan rapi,” jelasnya.
Kegiatan pelatihan ini tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan praktis mahasiswa, tetapi juga menanamkan sikap profesional dan disiplin kerja di bengkel teknik. Selama dua hari, para peserta belajar menyiapkan peralatan, mengenal jenis elektroda, mengatur arus listrik, hingga membersihkan terak hasil pengelasan.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan vokasi. Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, memberikan apresiasi atas inisiatif kolaborasi antara praktisi dan perguruan tinggi. “Kami mendorong para guru kejuruan untuk tidak berhenti belajar dan berbagi. Kegiatan seperti ini adalah ajang yang baik untuk berbagi ilmu, memperluas jejaring, dan meningkatkan kompetensi lintas lembaga,” tuturnya.
Ardan menambahkan, penguasaan teknologi pengelasan menjadi salah satu keterampilan strategis dalam dunia industri manufaktur dan konstruksi. “Industri selalu mencari tenaga kerja yang siap pakai. Karena itu, pelatihan dasar seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Semakin banyak mahasiswa memahami dasar-dasarnya, semakin siap mereka menghadapi dunia kerja nyata,” imbuhnya.
Selama kegiatan berlangsung, suasana bengkel berubah menjadi laboratorium hidup. Mahasiswa yang sebelumnya hanya mengenal teori dari buku, kini berhadapan langsung dengan percikan api dan logam cair. Instruktur mendampingi satu per satu, memastikan setiap langkah dilakukan sesuai prosedur keselamatan kerja.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya safety awareness di lingkungan kerja. Mahasiswa diwajibkan mengenakan safety gear lengkap seperti sarung tangan tahan panas, pelindung wajah, dan apron kulit. “Keselamatan adalah prioritas utama. Tidak ada hasil las yang sebanding dengan risiko cedera,” tegas Yunan mengingatkan peserta di awal sesi praktik.
Dengan semangat berbagi dan belajar bersama, kegiatan “Pengenalan dan Pelatihan Dasar Teknik Pengelasan SMAW” di Unimus bukan hanya sekadar pelatihan teknis, melainkan juga wujud nyata sinergi antara dunia pendidikan dan industri. Di balik percikan api las, tersimpan harapan lahirnya generasi muda teknik yang terampil, tangguh, dan siap menyalakan masa depan industri Indonesia.
Penulis : Dini Riyani, S.Pd, Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar