SEMARANG-Ratusan orang dari berbagai latar belakang agama, keyakinan, dan budaya tumplek blek di Holy Stadium Semarang, Rabu (1/10) sore hingga malam. Mereka datang bukan hanya untuk menonton konser, tetapi juga merayakan kebinekaan dalam sebuah gelaran istimewa bertajuk Konser Kebangsaan “Senandung Harmoni Membangun Negeri” yang diprakarsai Jemaat Kristen Indonesia (JKI) Semarang.
Di antara ribuan penonton yang hadir, tampak rombongan guru dan siswa SMK Negeri 10 Semarang yang ikut larut dalam suasana. Dengan berlatar belakang agama yang berbeda-beda, mereka sengaja datang untuk merasakan pengalaman kebersamaan dalam bingkai toleransi. Kehadiran mereka mendapat sambutan hangat, karena sejak awal konser ini memang dibuka secara gratis untuk siapa pun yang ingin hadir.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, menegaskan bahwa partisipasi guru dan siswa dalam kegiatan lintas iman ini merupakan wujud nyata pendidikan karakter di sekolah. “Kami ingin menanamkan nilai persaudaraan dalam keberagaman. Toleransi bukan hanya diajarkan di kelas, tapi harus dipraktikkan langsung. Dan konser ini memberikan ruang bagi anak-anak kami untuk belajar bersama masyarakat luas,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara.
Begitu lampu panggung dinyalakan, deru musik orkestra berpadu dengan penampilan tarian dari berbagai komunitas. Riuh tepuk tangan penonton pecah saat parade Semarang Night Carnival memasuki arena dengan busana gemerlap dan penuh warna. Tak ketinggalan, penampilan dari Special Olympic Indonesia (SOIna) menghadirkan suasana haru sekaligus kebanggaan.
Konser yang berlangsung sejak pukul 14.00 itu bukan sekadar hiburan, melainkan juga ruang perjumpaan lintas iman. Perwakilan dari enam agama besar dan aliran kepercayaan tampil bergantian membawakan doa, nyanyian, dan simbol-simbol perdamaian. Dari satu panggung yang sama, perbedaan justru dirayakan dengan damai.
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, hadir mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng. Dalam sambutannya, ia mengibaratkan keberagaman masyarakat Semarang dengan harmoni orkestra. “Orkestra adalah representasi kerukunan. Ada banyak suara, tapi jika dimainkan bersama, hasilnya indah. Begitu pula Semarang—kaya budaya, agama, dan latar belakang, yang bila bersatu akan menjadi kekuatan,” ucap Iswar disambut tepuk tangan meriah.
Momentum ini semakin bermakna karena bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Di hadapan ribuan hadirin, Iswar menegaskan bahwa Pancasila adalah pondasi utama persatuan bangsa. “Semarang kini menjadi kota tertoleran ketiga di Indonesia, setelah Salatiga dan Singkawang. Itu modal besar bagi kita untuk terus membangun bersama semua umat,” tambahnya.
Bagi para siswa SMK Negeri 10 Semarang, pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam. Salah satu siswa, Arvin Putra Ariawan, mengaku baru pertama kali merasakan suasana konser lintas agama dengan penuh kedamaian. “Rasanya menyenangkan sekali. Kami bisa bernyanyi bersama, walau berbeda agama. Saya jadi lebih yakin bahwa Indonesia bisa kuat kalau warganya saling menghormati,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan oleh seorang guru pendamping, Muslim Anwar. Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu terus digalakkan agar generasi muda tidak mudah terpecah oleh isu intoleransi. “Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Kalau mereka bisa belajar merayakan perbedaan sejak dini, saya yakin bangsa ini akan semakin kokoh,” ujarnya penuh semangat.
Konser ditutup dengan lantunan syahdu dari Surya Vista Orchestra. Alunan musik orkestra mengiringi cahaya lampu panggung yang menari-nari, sementara para penonton larut dalam suasana damai. Ada yang ikut bernyanyi, ada pula yang saling berpegangan tangan, sebuah simbol kecil namun sarat makna: Semarang merayakan kebinekaan dengan damai.
Iswar menutup malam penuh harmoni itu dengan sebuah ajakan yang menyentuh hati. “Mari kita rayakan perbedaan sebagai anugerah. Kita jaga kerukunan, semai toleransi, dan hidupkan gotong royong di kota kita tercinta,” tandasnya.
Konser kebangsaan ini tidak hanya menghadirkan hiburan berkualitas, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman. Kehadiran guru dan siswa SMK Negeri 10 Semarang di tengah masyarakat yang plural semakin meneguhkan pesan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu pengetahuan, melainkan juga soal membentuk karakter kebangsaan yang kokoh.
Penulis : Ribka Trimuryani, Guru Pendidikan Agama Kristen SMK Negeri 10 Semarang

Kegiatan yang luar biasa indah, terlihat kerukunan dan damai. berbeda namun bisa berjalan berdampingan. Semarang diberkati.
Menjalin kerukunan antar etnis dan umat beragama
Beri Komentar