SEMARANG-Dalam rangka mendukung Program Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun 2025, Direktorat SMK Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menugaskan perguruan tinggi sebagai mitra pendamping. Perguruan tinggi yang ditunjuk bertugas melakukan persiapan, pemantauan, hingga pelaporan program revitalisasi di satuan pendidikan. Kebijakan ini diharapkan dapat memastikan setiap sekolah penerima bantuan menjalankan program sesuai standar yang ditetapkan dan tepat sasaran.
Salah satu bentuk implementasi kebijakan tersebut terlihat di SMK Negeri 10 Semarang pada Kamis, 28 Agustus 2025. Pada kesempatan itu, hadir Leily Fatmawati dari Politeknik Negeri Semarang (Polines) sebagai pendamping resmi program bantuan revitalisasi. Kehadiran Leily didampingi oleh Kepala SMK Negeri 10 Semarang beserta Tim P2SP Bantuan Revitalisasi yang selama ini mengawal jalannya program.
Pendampingan berlangsung sejak pagi hari dengan agenda yang padat, mencakup pengecekan administrasi dan peninjauan progres pembangunan di titik-titik lokasi yang menjadi sasaran revitalisasi. Pemeriksaan dilakukan secara detail untuk memastikan dokumen pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan, sekaligus menilai kesesuaian fisik pembangunan di lapangan. Suasana pendampingan berlangsung lancar dan penuh keterbukaan, di mana pihak sekolah memberikan akses penuh kepada pendamping untuk melakukan verifikasi.
Leily Fatmawati menjelaskan, tugas perguruan tinggi bukan hanya sekadar melakukan kontrol, melainkan juga mendampingi sekolah agar pelaksanaan program berjalan maksimal. “Kami hadir untuk membantu, bukan mencari kesalahan. Pendampingan ini memastikan bahwa bantuan pemerintah yang sudah diberikan betul-betul memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas SMK. Dari hasil pengecekan, kami melihat SMK Negeri 10 Semarang sudah melaksanakan program revitalisasi dengan baik sesuai ketentuan yang ada,” ujarnya.
Lebih lanjut, Leily menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan perguruan tinggi dalam menyukseskan revitalisasi SMK. Menurutnya, tanpa sinergi yang kuat, bantuan pemerintah akan sulit mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencetak lulusan SMK yang kompeten, relevan dengan kebutuhan industri, dan siap menghadapi perubahan zaman. “Revitalisasi SMK bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga transformasi mutu pembelajaran. Fasilitas yang diperbarui harus berujung pada peningkatan keterampilan siswa. Itu yang menjadi ruh program ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMK Negeri 10 Semarang menyampaikan apresiasi atas kehadiran pendamping dari Polines. Ia menegaskan bahwa kehadiran perguruan tinggi sebagai mitra sangat membantu sekolah dalam memahami berbagai regulasi dan menyelesaikan proses administrasi yang cukup kompleks. “Kami sangat berterima kasih kepada pendamping perguruan tinggi yang sudah mendampingi kami. Dengan adanya arahan dan masukan, sekolah merasa lebih percaya diri dalam melaksanakan program. Revitalisasi ini adalah kesempatan besar bagi kami untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan kami ingin memastikan semuanya berjalan sesuai aturan,” ungkap Kepala SMK Negeri 10 Semarang.
Menurutnya, revitalisasi yang dilakukan di sekolah bukan hanya sebatas pembenahan infrastruktur, tetapi juga penguatan sistem pembelajaran dan pengelolaan sekolah. Dengan adanya dukungan fasilitas yang lebih baik, ia optimis lulusan SMK Negeri 10 Semarang akan semakin siap menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang. “Kami ingin memastikan siswa kami bisa bersaing, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional, bahkan internasional. Revitalisasi adalah pintu untuk mewujudkan itu,” imbuhnya.
Hasil pendampingan hari itu menyatakan bahwa SMK Negeri 10 Semarang telah melaksanakan program revitalisasi sesuai aturan dan menunjukkan progres yang baik. Baik dari sisi administrasi maupun fisik pembangunan, sekolah dinilai konsisten dan taat pada ketentuan yang berlaku. Capaian ini menjadi bukti keseriusan sekolah dalam memanfaatkan bantuan pemerintah untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan vokasi.
Pendampingan yang dilakukan perguruan tinggi seperti Polines diharapkan menjadi bagian dari pengawasan partisipatif, sehingga penggunaan Dana Revitalisasi SMK benar-benar efektif, transparan, dan berdampak langsung. Direktorat SMK menargetkan melalui program ini, sekolah kejuruan tidak hanya memiliki fasilitas modern, tetapi juga mampu menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap kerja, sejalan dengan kebutuhan industri 4.0 dan perkembangan teknologi global.
Dengan selesainya agenda pendampingan, baik pihak Polines maupun SMK Negeri 10 Semarang berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi yang baik. Kerja sama ini diyakini akan membawa dampak positif, tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi ekosistem pendidikan vokasi di Jawa Tengah secara keseluruhan.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja Pusat Keunggulan SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar