Dalam beberapa tahun terakhir, banyak organisasi berlomba melakukan transformasi digital, namun tidak sedikit pula yang akhirnya tersandung dan gagal. Menariknya, penyebab kegagalan itu jarang terletak pada teknologi. Justru, lebih sering kegagalan muncul karena manusia yang belum siap, proses yang tidak jelas, struktur organisasi yang kaku, atau alur kerja yang tidak selaras dengan tujuan perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi bukan sekadar memasang perangkat terbaru, mengadopsi software mutakhir, atau membangun ruang kelas digital. Transformasi adalah perjalanan budaya, perilaku, tata kelola, dan kolaborasi—dan teknologi hanyalah salah satu bagiannya. Di tengah tantangan global ini, muncul kebutuhan akan kerangka kerja yang mampu mengarahkan perubahan organisasi secara holistik. Salah satu firma global yang mempromosikan pendekatan menyeluruh tersebut adalah PwC, yang selama beberapa dekade dikenal bukan hanya sebagai raksasa akuntansi, tetapi juga sebagai konsultan strategis yang berpengaruh di berbagai sektor. Artikel ini akan membahas POPIT Model yang banyak digunakan dalam transformasi organisasi, serta mengulas bagaimana model tersebut sangat relevan diterapkan di sekolah masa kini yang semakin kompleks dan penuh tuntutan.
PwC, atau PricewaterhouseCoopers, merupakan salah satu anggota Big Four—empat firma akuntansi dan jasa profesional terbesar di dunia. Nama PwC sendiri lahir dari penggabungan dua firma besar, yaitu Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand pada tahun 1998. Dengan jumlah tenaga profesional yang kini melampaui 320.000 orang dan jaringan kerja yang tersebar di lebih dari 150 negara, PwC tidak hanya berdiri sebagai penyedia layanan audit dan assurance, tetapi juga ahli dalam bidang perpajakan, manajemen risiko, transformasi digital, dan konsultasi strategis. Salah satu pendekatan konsultan PwC yang paling sering digunakan dalam proyek transformasi adalah POPIT Model, sebuah kerangka kerja yang memandang organisasi sebagai entitas hidup yang terdiri dari manusia, struktur, proses, serta informasi dan teknologi yang saling memengaruhi. Alih-alih berfokus pada teknologi semata, PwC memanfaatkan POPIT untuk memastikan setiap proyek perubahan berjalan efektif, berkelanjutan, dan mampu mempersatukan dimensi organisasi yang sering kali berdiri sendiri-sendiri.
Pada dasarnya, POPIT adalah kerangka kerja yang membantu organisasi memahami bahwa perubahan hanya akan berhasil apabila empat elemen inti bergerak selaras: People, Organization, Processes, dan Information & Technology. Banyak transformasi digital gagal karena hanya menekankan aspek IT tanpa mempersiapkan SDM, tanpa memperbaiki proses, atau tanpa menyelaraskan struktur organisasi. POPIT hadir sebagai panduan untuk mengingatkan bahwa teknologi bukan pengganti kompetensi manusia, bukan substitusi kepemimpinan yang kuat, dan bukan pengobatan instan bagi proses yang kacau. Dalam konteks PwC, POPIT digunakan sebagai alat diagnosis dan perencanaan yang membantu klien memahami kondisi organisasi mereka sebelum melakukan intervensi apa pun. Ketika diterapkan dengan benar, POPIT bukan hanya menata ulang cara kerja, tetapi juga membangun budaya kolaboratif, pola pikir adaptif, dan ruang bagi inovasi yang lebih berkelanjutan. Menariknya, model ini tidak hanya relevan untuk perusahaan atau institusi keuangan, tetapi juga sangat cocok untuk sekolah—yang sejatinya merupakan organisasi sosial yang kompleks, penuh interaksi manusia, dan selalu berhadapan dengan perubahan zaman.
Sekolah bukanlah tempat yang hanya berisi kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Ia adalah ekosistem dengan berbagai aktor: guru, siswa, orang tua, tenaga kependidikan, kepala sekolah, pengawas, dan masyarakat sekitar. Setiap keputusan, perubahan kebijakan, atau inovasi pembelajaran selalu berdampak pada banyak pihak sekaligus. Oleh karena itu, POPIT menjadi alat penting untuk memastikan bahwa transformasi sekolah berjalan secara terarah, tidak terburu-buru, dan mempertimbangkan semua elemen secara proporsional. Dengan metode ini, sekolah mampu memetakan tantangan, merumuskan solusi, dan menghindari kesalahan umum seperti hanya membeli perangkat teknologi tanpa pelatihan, menerapkan kurikulum baru tanpa kesiapan guru, atau membuat inovasi proses tanpa memastikan struktur pendukungnya tersedia. POPIT membantu sekolah membangun sinkronisasi antara manusia, proses, organisasi, dan teknologi sehingga perubahan benar-benar berakar, bukan sekadar aktivitas seremonial atau tren sesaat.
Pada elemen People, sekolah dapat membangun komunitas guru kolaboratif yang tidak hanya bertemu untuk diskusi formal, tetapi juga saling berbagi praktik baik, merancang proyek lintas mata pelajaran, dan menawarkan umpan balik kepada rekan sejawat. Guru yang bekerja dalam jejaring kolaboratif seperti ini menunjukkan kemampuan lebih baik dalam menghasilkan inovasi pembelajaran. Tidak berhenti di sana, seluruh tanaga kependidikan sekolah—mulai dari petugas administrasi, pustakawan, petugas kebersihan, hingga satpam—ikut memperoleh pelatihan soft skills seperti komunikasi, pelayanan prima, dan empati. Mereka adalah wajah sekolah, dan interaksi mereka dengan siswa serta orang tua membentuk pengalaman emosional yang penting. Sekolah pun dapat membentuk forum orang tua aktif, bukan sekadar komite pasif, sehingga orang tua bisa memberi masukan terhadap program sekolah. Siswa diberdayakan melalui berbagai ekstrakurikuler yang sesuai minat serta dilibatkan sebagai agen perubahan, misalnya melalui kegiatan peer mediation dalam mencegah dan menangani kasus bullying. Bahkan proses rekrutmen guru dan tenaga kependidikan baru dilakukan secara lebih inklusif, dengan menilai tidak hanya kualifikasi akademik, tetapi juga nilai, empati, karakter, dan kemampuan kolaboratif. Semua ini menunjukkan bahwa People adalah pusat dari segala kegiatan sekolah—teknologi dan proses hanya menjadi alat, tetapi manusialah yang menggerakkannya.
Elemen Organization dalam POPIT memberi arahan bagaimana struktur sekolah dibangun untuk memungkinkan kerja sama yang efektif. Misalnya, penerapan kepemimpinan partisipatif yang mendistribusikan kewenangan kepada wakil kepala sekolah, ketua jurusan, dan koordinator guru normatif adaptif. Keputusan-keputusan penting seperti perencanaan program tahunan dibuat melalui Musrenbang yang melibatkan guru, tenaga kependidikan, bahkan orang tua, bukan secara sepihak. Sekolah juga dapat memiliki kebijakan pengembangan profesi berkelanjutan, termasuk roadmap pengembangan karier guru yang terstruktur melalui kerja sama dengan BBPPMPV atau mitra industri. Semua ini menunjukkan bahwa organisasi bukan hanya bagan struktur, tetapi pola kepemimpinan, budaya, kebijakan akademik, dan mekanisme tata kelola yang memungkinkan semua orang bekerja dalam arah yang sama. Tanpa organisasi yang kuat, perubahan hanya akan menjadi sekumpulan kegiatan tanpa arah dan tanpa koordinasi.
Elemen Processes memastikan setiap aktivitas di sekolah memiliki alur yang jelas, terukur, dan dapat dievaluasi. Contohnya adalah penerapan penilaian otentik berbasis portofolio, presentasi proyek, dan refleksi diri. Proses ini membutuhkan rubrik yang jelas, pelatihan guru tentang penilaian alternatif, serta mekanisme umpan balik yang teratur kepada siswa. Penanganan absensi juga menjadi lebih terstruktur melalui alur tindak lanjut otomatis ketika siswa tidak hadir. Proses pengembangan kurikulum lokal seperti kewairausahaan dilakukan secara kolaboratif bersama guru, komite, dan tokoh masyarakat. Guru juga mendapat umpan balik 360 derajat dari siswa, rekan sejawat, dan kepala sekolah untuk mendorong profesionalisme yang lebih matang. Proses pengembangan bahan ajar pun dilakukan secara kolaboratif mulai dari perencanaan, pembuatan RPP, hingga penyimpanan di repositori digital sekolah. Evaluasi diri sekolah dilakukan setiap tahun untuk memetakan kinerja berdasarkan standar nasional pendidikan serta mengukur kepuasan orang tua dan kebahagiaan guru. Semua ini menunjukkan bahwa proses yang baik membuat pekerjaan tidak bergantung pada individu tertentu, melainkan pada sistem yang disepakati bersama.
Sementara itu, Information & Technology menjadi unsur terakhir yang memperkuat transformasi sekolah. Teknologi bukan tujuan, tetapi sarana untuk mempercepat pembelajaran, meningkatkan akurasi data, serta mempermudah kolaborasi. Sekolah dapat menggunakan Google Workspace for Education yang terintegrasi dengan platform penilaian otomatis seperti Google Forms atau Quizizz, serta menyediakan pelatihan rutin agar pemanfaatan teknologi optimal. Analisis berbasis kecerdasan buatan dapat membantu sekolah memahami kecerdasan majemuk siswa dan memberi rekomendasi gaya belajar yang lebih personal. Komunikasi sekolah diperkuat melalui media sosial. Presensi berbasis face recognition dengan Sinaga meningkatkan akurasi pemantauan kehadiran. Perpustakaan digital menyediakan e-book, modul ajar kolaboratif, karya siswa, serta video pembelajaran yang dapat diakses 24/7. Bahkan sekolah dapat mengembangkan podcast atau kanal YouTube seperti VHS 10 TV untuk menyebarkan nilai, karya, dan informasi. Ketika sekolah menerapkan pembelajaran berbasis proyek, seluruh elemen POPIT bekerja saling mendukung: guru mendapat pelatihan, struktur tim dibangun, alur pembelajaran ditetapkan, dan teknologi digunakan untuk kolaborasi serta presentasi hasil karya siswa.
Pada akhirnya, manfaat POPIT bagi sekolah sangat terasa: kualitas pembelajaran meningkat, manajemen menjadi lebih efisien, keterlibatan seluruh pihak semakin kuat, dan sekolah menjadi lebih siap menghadapi perubahan-perubahan besar seperti digitalisasi atau hybrid learning. Dengan POPIT, sekolah tidak lagi melihat transformasi sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai perjalanan menyeluruh yang melibatkan manusia, budaya, struktur, dan tata kelola. POPIT memberikan pemahaman bahwa perubahan yang berkelanjutan lahir dari harmoni antara keempat elemen tersebut.
Secara keseluruhan, POPIT Model adalah alat yang praktis dan komprehensif untuk membantu sekolah melakukan perubahan yang lebih terarah. Dalam era yang terus berubah, sekolah yang mampu mengintegrasikan People, Organization, Processes, dan IT akan lebih adaptif, lebih efektif, dan lebih berkelanjutan. Transformasi yang sejati bukan hanya tentang apa yang dibeli, tetapi tentang bagaimana manusia, sistem, proses, dan teknologi bergerak bersama menuju visi yang sama. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi bukan hanya tempat belajar, tetapi ekosistem yang hidup, berkembang, dan siap menghadapi masa depan.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Model POPIT dalam pendidikan adalah singkatan dari “Problem, Objective, Process, Implementation, dan Transfer”. Model ini digunakan sebagai kerangka kerja untuk merancang dan melaksanakan proyek atau program pendidikan
1. *Problem (Masalah)*: Mengidentifikasi masalah atau kebutuhan yang ingin dipecahkan dalam proses pendidikan. Ini bisa berupa kesenjangan dalam pemahaman siswa, metode pengajaran yang kurang efektif, atau kebutuhan khusus lainnya.
2. *Objective (Tujuan)*: Menentukan tujuan yang jelas dan spesifik untuk proyek atau program pendidikan. Tujuan ini harus dapat diukur dan relevan dengan masalah yang telah diidentifikasi.
3. *Process (Proses)*: Merancang proses atau metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Ini termasuk memilih strategi pengajaran, mengembangkan materi, dan menentukan evaluasi.
4. *Implementation (Implementasi)*: Melaksanakan rencana yang telah disusun. Ini melibatkan penerapan metode pengajaran, penggunaan sumber daya, dan pengelolaan kelas.
5. *Transfer (Transfer)*: Mengevaluasi hasil dari proyek atau program dan memastikan bahwa pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam konteks yang berbeda. Ini juga melibatkan refleksi dan perbaikan berkelanjutan.
Dengan menggunakan model POPIT, pendidik dapat merancang pendidikan yang lebih terstruktur, efektif, dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Kerangka kerja untuk mewujudkan SMK N 10 lebih Màju dan Hebat👍👍
Terima kasih pak ceo
Mantaaabb’s
Setiap zaman memiliki identitas perubahan yang tidak ditolak seiring perkembangan teknologi.
Dibutuhkan kemampuan untuk beradaptasi pada setiap perubahan tersebut agar bisa bertahan bahkan menciptakan inovasi dari kompetensi diri kita sebagai sumber daya manusia yang unggul.
Terima kasih, Pak Ardan.
Semoga dengan adanya program POPIT bisa memberikan efek yg baik di kalangan K.10 baik Guru , Tenaga Kependidikan dan juga siswa.
Semoga ke depannya dengan program POPIT K.10 semakin maju dan berkembang juga bisa membuat nama K.10 semakin disegani dimasyarakat wabil khusus di dunia pendidikan.
Sukses selalu SMK 10..
Ilmu yang bermanfaat sukses selalu SMKN 10 Semarang 👍
Kerangka POPIT yang transformatif 🔥
Program POPIT mungkin dapat digunakan untuk membantu dalam analisis SWOT sehingga dalam berproses untuk mencapai tujuan suatu lembaga akan lebih terarah
Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat dan berkah untuk SMKN 10 Semarang, Mantap.
Secara keseluruhan, POPIT Model adalah alat yang praktis dan komprehensif untuk membantu sekolah melakukan perubahan yang lebih terarah.
Transformasi sekolah tidak bisa hanya mengandalkan teknologi, melainkan harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan empat unsur utama dalam POPIT Model—People, Organization, Processes, dan Information & Technology. Guru, siswa, orang tua, dan tenaga kependidikan perlu diberdayakan sebagai agen perubahan; organisasi sekolah harus adaptif dan partisipatif; proses pembelajaran serta manajemen harus terukur dan transparan; sementara teknologi berfungsi sebagai penguat, bukan tujuan. Dengan keseimbangan keempat unsur ini, sekolah dapat membangun budaya kolaboratif, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan lebih siap menghadapi tantangan era digital maupun pembelajaran hibrid.
Menyala 🔥
Setiap keputusan, perubahan kebijakan, atau inovasi pembelajaran selalu berdampak pada banyak pihak sekaligus. Oleh karena itu, POPIT menjadi alat penting untuk memastikan bahwa transformasi sekolah berjalan secara terarah, tidak terburu-buru, dan mempertimbangkan semua elemen secara proporsional.
Apapun yang mendukung suatu kemajuan dengan memanfaatkan teknologi perlu adanya kerangka kerja dan penyiapan SDM, karena faktor utama yang menentukan perjalanan membutuhkan proses yang panjang untuk meraih tujuan 💪💪💪👍👍👍
Luar biasa semoga bermanfaat dan menginspirasi ..untuk bapak/ibu guru SMKN 10 SEMARANG
Sangat inovatif untuk kemajuan SMKN 10 .
Alat yang praktis dan komprehensif untuk membantu sekolah melakukan perubahan yang lebih terarah
Dengan POPIT menjadi rule model yang terarah, modern dan maju. Luar biasa..
Alhamdulillah, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah unttuk kemajuan SMK N 10 Semarang
Melalui POPIT Model, transformasi sekolah nyata dengan gerak bersama, terstruktur, terukur,berdampak
Semoga bisa membawa SMKN 10 Semarang semakin maju dan lancar dalam pembelajaran
Intisarinya adalah tansformasi sekolah tidak bisa hanya mengandalkan teknologi, melainkan harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan empat unsur utama dalam POPIT Model—People, Organization, Processes, dan Information & Technology. Guru, siswa, orang tua, dan tenaga kependidikan perlu diberdayakan sebagai agen perubahan; organisasi sekolah harus adaptif dan partisipatif; proses pembelajaran serta manajemen harus terukur dan transparan; sementara teknologi berfungsi sebagai penguat, bukan tujuan. Dengan keseimbangan keempat unsur ini, sekolah dapat membangun budaya kolaboratif, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan lebih siap menghadapi tantangan era digital maupun pembelajaran hibrid…
Hidup SMK N 10 Semarang….
Transformasi yang sejati bukan hanya tentang apa yang dibeli, tetapi tentang bagaimana manusia, sistem, proses, dan teknologi bergerak bersama menuju visi yang sama.
Luarbiasa. Semoga SMKN 10 semakin maju.
SMK N 10 lebih Màju dan Hebat👍👍
Popit model sangat relevan untuk membangun sekolah yang adaptif dan kolaboratif.
Kerja mantap
Sumber saya manusia juga harus berkembanh seiring perkembangan teknologi
Dengan POPIT, sekolah tidak lagi melihat transformasi sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai perjalanan menyeluruh yang melibatkan manusia, budaya, struktur, dan tata kelola.
integrasikan People, Organization, Processes, dan IT menjadi lebih baik
Popit Models memberikan inspirasi bagi kami yaitu berfikir Adaptif, kolaboratif dan inovatif. Bagaimana sebuah organisasi di jalankan melalui mekanisme faktor2 yaitu human, material, methode, machine (IT), Dengan pendekatan Organizing yang Compact and Solid can makes great happen.
Alhamdulillah, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah unttuk kemajuan SMK N 10 Semarang..
Transformasi kemajuan sekolah akan berhasil baik dengan dukungan POPIT (people, organisation, proces, information dan technology) yang berkembang sejalan
Kolaborasi POPIT utk kemajuan sekolah…
Kolaborasi POPIT utk kemajuan sekolah…
Alhamdulillah, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah unttuk kemajuan SMK N 10 Semarang..
Kolaborasi POPIT utk kemajuan sekolah…
Kolaboratif POPIT luar biasa untuk kemajuan Sekolah kita…
POPIT memang luar biasa
Mantap kebangaan SMKN 10 Semarang
Bangga dan menakjubkan SMKN 10 Semarang hebat
MasyaAlloh 👍👍👍
MasyaAlloh
Luar biasa 👍👍
Popit jadi solusi
Istimewa👍
Ilmu yang menarik.
Terima kasih atas sharing ilmu baru, POPIT (People, Organisation, Process, Information and Technology) sebagai elemen transformasi sekolah menjadi lebih terencana dan akurat.
Semoga dengan menerapkan model POPIT ini bisa lebih memajukan SMKN 10 Semarang, bertransformasi menjadi sekolah unggulan di jawa tengah..
Popit model sangat relevan untuk membangun sekolah yang adaptif dan kolaboratif
Dengan mengelola kelima pilar secara sinergis, POPIT Model membantu sekolah bergerak melampaui perubahan kosmetik menuju transformasi mendalam yang berkelanjutan dan terinternalisasi dalam budaya sekolah. SMK Negeri 10 Semarang Keren
Apapun yang mendukung suatu kemajuan dengan memanfaatkan teknologi perlu adanya kerangka kerja dan penyiapan SDM, karena faktor utama yang menentukan perjalanan membutuhkan proses yang panjang
POPIT membantu sekolah membangun sinkronisasi antara manusia, proses, organisasi, dan teknologi sehingga perubahan benar-benar berakar, bukan sekadar aktivitas seremonial atau tren sesaat. Jadi butuh kerjasama semua pihak💪
POPIT Model mengingatkan kita bahwa transformasi sekolah bukan soal teknologi semata, melainkan keselarasan antara manusia, proses, organisasi, dan IT untuk perubahan yang benar-benar berkelanjutan.
Pendekatan POPIT bukanlah pendekatan transaksional… Tapi sebuah pendekatan yang dibutuhkan di era Pendidikan modern saat ini…
Alhamdulillah,semoga bermanfaat dan berhasil untuk pembelajaran di kelas.
POPIT menegaskan bahwa keberhasilan perubahan bergantung pada keselarasan manusia, organisasi, proses, dan teknologi, sehingga transformasi tidak hanya bersifat teknis tetapi juga membentuk budaya dan pola pikir yang berkelanjutan.
Beri Komentar