Luasnya lahan SMK Negeri 10 Semarang kerap luput dari perhatian ketika orang berbicara tentang kualitas pendidikan. Padahal, hamparan tanah yang mengelilingi ruang-ruang belajar itu bukan sekadar batas fisik sekolah, melainkan potensi besar yang selama ini belum tergarap optimal. Di balik pagar dan bangunan kelas, terbentang ruang yang seharusnya mampu memberi nilai tambah bagi proses pendidikan, lingkungan, dan citra institusi. Lahan sekolah sering kali dipandang hanya sebagai pelengkap, bahkan dianggap beban perawatan yang menguras tenaga dan anggaran. Namun, sudut pandang seperti itu justru menutup peluang. Lahan bukan ruang kosong tanpa makna, melainkan aset strategis yang menyimpan kemungkinan tak terbatas. Pertanyaannya sederhana sekaligus menggugah: mengapa membiarkan lahan luas hanya menjadi beban, jika sesungguhnya ia bisa menjelma menjadi kebanggaan bersama?
Sebagai sebuah satuan pendidikan kejuruan, SMK Negeri 10 Semarang memiliki karakter unik yang menempatkan praktik dan keterampilan sebagai jantung pembelajaran. Dalam konteks itu, lahan sekolah sesungguhnya adalah aset besar yang relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. Ruang terbuka dapat diolah menjadi area hijau edukatif yang tidak hanya menyejukkan mata, tetapi juga berfungsi sebagai media belajar. Ia bisa menjadi lapangan olahraga yang layak, taman sekolah yang tertata, hingga kebun produktif yang menghasilkan tanaman bermanfaat. Lebih dari itu, lahan terbuka memberi konteks nyata bagi siswa lintas jurusan untuk belajar secara kontekstual. Siswa teknik dapat mempelajari konstruksi ringan dan drainase sederhana, siswa agribisnis atau keahlian sejenis dapat mengelola kebun, sementara siswa bidang lain dapat berkontribusi melalui perencanaan, dokumentasi, dan manajemen. Dalam dunia pendidikan yang kian menekankan pengalaman nyata, lahan sekolah dapat berfungsi sebagai laboratorium hidup yang mempertemukan teori dan praktik. Kehadiran ruang terbuka hijau juga berperan penting bagi kesehatan dan kenyamanan warga sekolah. Udara yang lebih segar, lingkungan yang asri, serta pemandangan yang tertata rapi akan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Tak kalah penting, wajah sekolah yang hijau dan tertib membentuk citra positif di mata masyarakat, orang tua, dan mitra industri.
Namun, potensi besar itu tidak hadir tanpa tantangan. Dua persoalan utama kerap muncul dan menjadi penghambat pemanfaatan lahan secara optimal. Pertama adalah gulma yang tumbuh tak terkendali. Rumput liar dan tanaman pengganggu bukan hanya mengurangi keindahan lingkungan, tetapi juga mengganggu pertumbuhan tanaman yang sebenarnya bermanfaat. Gulma dapat menjadi sarang hama, menyulitkan perawatan, dan menciptakan kesan semrawut. Jika dibiarkan, kondisi ini perlahan berubah menjadi simbol ketidakpedulian. Lingkungan yang tak terurus sering kali dibaca sebagai cerminan lemahnya perhatian terhadap detail dan keberlanjutan. Tantangan kedua adalah genangan air yang muncul saat hujan. Genangan ini menjadi indikasi adanya masalah pada sistem drainase. Dampaknya tidak sepele. Aktivitas belajar dan praktik bisa terganggu, risiko kesehatan meningkat akibat berkembangnya nyamuk, dan infrastruktur sekolah berpotensi mengalami kerusakan lebih cepat. Dua masalah ini, jika tidak ditangani, dapat menggerus semangat untuk memanfaatkan lahan dan justru mengukuhkan anggapan bahwa lahan luas adalah beban.
Di tengah tantangan tersebut, kekuatan internal sekolah sesungguhnya menjadi modal utama. SMK Negeri 10 Semarang memiliki sumber daya manusia yang beragam dan potensial: siswa dengan energi dan kreativitas, guru dengan pengetahuan dan pengalaman, karyawan dengan keterampilan teknis, serta dukungan komite sekolah. Melibatkan seluruh unsur ini dalam aksi bersama bukan hanya soal efisiensi, melainkan juga pembentukan budaya. Gotong royong, nilai yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dapat menjadi solusi sekaligus sarana pendidikan karakter. Dengan semangat kebersamaan, pekerjaan yang terasa berat dapat menjadi lebih ringan dan bermakna. Pemanfaatan alat-alat yang sudah tersedia seperti cangkul, sabit, mesin potong rumput, dan gerobak dorong menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu hadirnya kontraktor eksternal atau anggaran besar. Efisiensi sumber daya lokal justru mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab.
Lebih jauh, pengelolaan lahan dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya membersihkan lahan, tetapi juga belajar merencanakan, mengeksekusi, dan mengevaluasi sebuah proyek nyata. Mereka dapat terlibat langsung dalam praktik pengelolaan lahan, merancang solusi drainase sederhana untuk mengatasi genangan, hingga menyusun desain taman sekolah yang fungsional dan estetis. Aktivitas ini memberi nilai tambah yang signifikan. Aksi nyata di lapangan berpadu dengan pengalaman belajar yang kontekstual, melatih kerja tim, pemecahan masalah, dan rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah. Pendidikan tidak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi hadir dalam setiap jengkal tanah yang mereka kelola.
Harapan yang menyertai upaya ini bukanlah sesuatu yang utopis. Ketika lahan kosong diolah dengan kesadaran dan perencanaan, perubahan nyata dapat dirasakan. Lingkungan sekolah menjadi lebih rapi, bersih, dan hijau, menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menenangkan. Lahan yang dikelola secara berkelanjutan dapat berkembang menjadi taman edukasi, kebun sekolah, atau ruang multifungsi yang mendukung berbagai kegiatan akademik dan nonakademik. Kehadiran ruang-ruang ini juga memberi kesan positif bagi setiap tamu yang datang, baik orang tua siswa, perwakilan dinas pendidikan, mitra industri, maupun calon peserta didik. Sekolah tidak hanya dinilai dari prestasi akademik, tetapi juga dari kepedulian terhadap lingkungan. Dalam jangka panjang, upaya ini sejalan dengan cita-cita menjadikan SMK Negeri 10 Semarang sebagai sekolah berwawasan lingkungan atau Adiwiyata, yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian integral dari budaya sekolah.
Untuk memastikan keberlanjutan, langkah lanjutan perlu dirancang dengan visi jangka panjang. Perbaikan sistem drainase menjadi prioritas agar persoalan genangan air tidak berulang. Penanaman vegetasi penyerap air seperti vetiver dan rumput gajah mini dapat menjadi solusi alami yang efektif sekaligus memperindah lanskap. Penyusunan masterplan tata ruang hijau sekolah akan membantu memastikan bahwa setiap pengembangan dilakukan secara terarah dan saling mendukung. Yang tak kalah penting adalah partisipasi seluruh warga sekolah. Ketika siswa, guru, dan karyawan merasa memiliki, pengelolaan lahan tidak lagi dipandang sebagai tugas tambahan, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, refleksi mendasar perlu terus diingat. Lahan sekolah bukan sekadar tanah yang menghampar, melainkan ruang hidup yang turut membentuk karakter generasi muda. Cara sebuah sekolah merawat lingkungannya mencerminkan nilai yang diajarkan kepada siswanya: disiplin, kepedulian, dan profesionalisme. Dengan menjadikan pengelolaan lahan sebagai budaya, sekolah mewariskan lebih dari sekadar fasilitas fisik. Ia mewariskan cara pandang dan sikap hidup. Ajakan untuk menghidupkan lahan sekolah bukan hanya soal keindahan, tetapi tentang tanggung jawab terhadap masa depan. Hijaukan sekolah, hijaukan masa depan.
Penulis : Very Wijaya, Staf Tata Usaha SMK Negeri 10 Semarang

SMK Negeri 10 Semarang memiliki potensi edukasi yang luar biasa jika dikelola dengan kreativitas dan kebersamaan.
Semangat pak Verry.
Luar Biasa.. Semangat pak Very π₯
Mantaaabb’s . .
Alhamdulillah Peduli lingkungan Pak Veri, luar biasa sehat sllu. Aamiin
Kita wajib bersyukur mendapat amanah dapat berkarya di SMKN 10 Sekarang, atau dimanapun kita bertugas.
Disetiap tempat, pasti memiliki potensi sumber daya yang dapat kita manfaatkan baik untuk pengembangan diri maupun lembaga.
Dengan demikian, kita akan selalu dapat berkarya dengan optimal untuk kebermanfaatan.
Terima kasih Pak Verry.
Tuhan memberkati kita semua. Aamiin.
Semangat,dan sehat semoga dapat berkarya selalu untuk SMKN 10 Semarang
Semangat pak Veryπ
Bagus, kepedulian dan kerjasama dari Tenaga Kependidikan terhadap lingkungan akan semakin melengkapi kemajuan SMKN 20 Semarang menuju sekolah yang berkualitas.
Rindangkan SMKN 10 Semarang .πππ
Inisiatif yang luar biasa, semangat pak veri
Terobosan luar biasa, optimalisasi lahan sekolah.
luar biasa
Kepedulian yang insya Allah membawa manfaat,…
Kebersihan lingkungan menumbuhkan rasa nyaman
Mantap menghidupkan lahan sehingga bermanfaat
Mantap luar biasa
Mantap luar biasa …..
lingkungan sehat kerja jadi semangat πͺ
Luar biasaπ₯π₯π₯
Cara sebuah sekolah merawat lingkungannya mencerminkan nilai yang diajarkan kepada siswanya: disiplin, kepedulian, dan profesionalisme.
Pemanfaatan lahan yg kurang produktif menjadi produktif akan menambah keasrian dan kenyamanan lingkungan.
Aset berupa lahan yg luas SMK N10 Semarang jika di kelola dg baik akan menjadi salah satu daya tarik bagi pihak luar .Semangat untuk terus memanfaatkan aset yg ada .
SMK Negeri 10 Semarang π
Beri Komentar