Saya masih ingat betapa pelajaran fisika terasa seperti teka-teki tak terpecahkan—sampai seorang guru datang, bukan hanya membawa rumus, tapi membawa cahaya. Ia tak sekadar menjelaskan; ia menghidupkan. Di tangannya, angka-angka menari, logika bernapas, dan rasa takut saya berubah jadi rasa penasaran. Sejak hari itu, saya tahu: guru bukan hanya pengajar, melainkan penyalur semangat, pembentuk pikiran, dan penjaga masa depan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya dipercaya memimpin SMK Negeri 10 Semarang pada 2022, kenangan itu kembali menghampiri—kali ini bukan sebagai murid, tapi sebagai pemimpin. Dan di sanalah saya menyadari kebenaran yang pahit sekaligus menantang: guru memang garda terdepan dalam dunia pendidikan, tetapi garda itu hanya kuat jika terus diasah, diberi ruang, dan dihargai. Tanpa itu, ia bisa menjadi tembok yang rapuh—atau bahkan, bayangan yang tak berdaya.
Di awal kepemimpinan, saya melakukan analisis mendalam. Hasilnya mengkhawatirkan. Banyak guru di sekolah kami terjebak dalam fixed mindset—keyakinan bahwa kemampuan seseorang bersifat tetap, tidak bisa berkembang. Mereka mengajar bukan karena hasrat, melainkan kewajiban. Rutinitas menggantikan inovasi. Kelas yang seharusnya hidup menjadi ruang diam yang monoton. Hampir tidak ada guru yang berprestasi. Tidak karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka tidak lagi percaya bahwa mereka bisa berkembang.
Padahal, di tengah dinamika zaman yang berubah begitu cepat—teknologi melesat, tuntutan industri bertransformasi, dan nilai-nilai sosial terus bergeser—peran guru justru semakin krusial. Mereka bukan lagi sekadar penyampai ilmu, melainkan teladan, motivator, dan agen perubahan. Mereka yang setiap hari membentuk karakter, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi generasi cerdas, berakhlak, dan berdaya saing. Tanpa guru yang dedikatif dan penuh komitmen, roda pendidikan tak akan berjalan optimal. Maka, tantangan terbesar saya bukan memperbaiki gedung atau menambah alat praktik, melainkan mengubah pola pikir.
Tapi bagaimana caranya? Saya menyadari satu hal: perubahan tidak dimulai dengan memerintah, melainkan dengan menjadi contoh. Jika saya ingin guru-guru membaca, saya harus lebih dulu menyelesaikan buku. Jika saya ingin mereka menulis, saya harus lebih dulu menerbitkan tulisan. Jika saya ingin mereka terus belajar, saya harus menunjukkan bahwa saya sendiri tak pernah berhenti belajar.
Maka, saya mulai dari diri sendiri. Saya menjadikan membaca sebagai ritual harian. Saya menulis refleksi setiap minggu—tentang kepemimpinan, pembelajaran, dan kehidupan sekolah. Saya aktif mengikuti diklat di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV), Badan Pengembangan SDM, bahkan mengikuti Training of Trainer (TOT) BBGTK untuk memperkuat kapasitas sebagai fasilitator perubahan. Semua ini bukan sekadar mengejar sertifikat, melainkan membangun modal moral: saya tidak meminta guru berubah jika saya sendiri enggan berubah.
Dari sana, langkah berikutnya pun lahir: membangun ekosistem belajar yang hidup. Langkah pertama adalah mendirikan Komunitas Belajar (KomBel)—ruang aman di mana guru bisa berdiskusi tanpa takut dihakimi, bereksperimen tanpa takut gagal, dan saling menginspirasi tanpa kompetisi. Kami membentuk dua komunitas utama: Zona Edukasi dan Murup. Di sana, setiap pertemuan bukan tentang rapat administratif, melainkan dialog reflektif. Kami membedah praktik mengajar, mengevaluasi metode asesmen, dan merancang inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Perlahan, guru yang dulu diam mulai angkat suara. Yang dulu ragu mencoba hal baru, kini berani membuat media pembelajaran kreatif.
Untuk memperkuat budaya reflektif, kami luncurkan Gerakan Guru Menulis. Awalnya, banyak yang menolak. “Saya bukan penulis,” kata mereka. “Menulis itu sulit.” Tapi kami mulai dari hal sederhana: tulis satu paragraf tentang pengalaman mengajar hari ini. Dari paragraf ke halaman. Dari halaman ke artikel. Dan dari artikel, lahir Rubrik Guru Menulis di laman resmi Sekolah—sebuah panggung apresiasi yang memungkinkan praktik baik guru SMK Negeri 10 Semarang menyebar ke seluruh Jawa Tengah. Tulisan mereka tidak hanya dibaca, tapi menginspirasi sekolah lain untuk bergerak.
Namun, transformasi tidak cukup hanya di dalam tembok sekolah. Dunia pendidikan kejuruan harus menyatu dengan dunia industri. Maka, kami menjalin kolaborasi strategis dengan BBPPMPV BMTI, KPTK, BOE, Seni dan Budaya, serta BBGTK Jateng. Bukan sekadar MoU di atas kertas, tapi aksi nyata: guru kami magang di industri, mengikuti workshop teknis, dan belajar langsung tentang standar operasional terkini. Mereka kembali ke kelas bukan dengan teori usang, melainkan dengan pengalaman autentik yang bisa ditransfer kepada siswa. Ini adalah jembatan antara sekolah dan dunia kerja—dan guru adalah tukang jembatannya.
Perubahan yang terjadi di sekolah kami terlalu berharga untuk disimpan sendiri. Maka, kami mulai berbagi praktik baik dengan sekolah-sekolah lain—dari SD hingga SMA. Melalui kunjungan, workshop, dan pendampingan, kami menunjukkan bagaimana komunitas belajar dibangun, bagaimana growth mindset ditumbuhkan, dan bagaimana inovasi lahir dari kolaborasi. Yang mengejutkan, banyak sekolah termotivasi membentuk komunitas serupa. Hubungan antarsekolah pun berubah: dari koordinatif menjadi kolaboratif. Kami menyadari, pendidikan bukan soal siapa paling unggul, tapi siapa paling mau berbagi agar semua bisa tumbuh bersama.
Di era digital, kami juga memanfaatkan media sosial sebagai amplifier perubahan. Facebook menjadi arsip hidup perjalanan sekolah. WhatsApp menjadi saluran cepat berbagi ide antar guru. Instagram menjadi jendela inspirasi bagi generasi muda—dengan visualisasi kegiatan yang penuh energi dan harapan. Melalui platform ini, praktik baik tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Ia menyebar, menginspirasi, dan membangun gerakan kolektif.
Hasilnya? Perlahan tapi pasti, budaya baru lahir di SMK Negeri 10 Semarang: reflektif, kolaboratif, dan produktif. Guru yang dulu enggan menulis, kini rajin membagikan artikel. Yang dulu takut mencoba metode baru, kini aktif mengikuti lomba inovasi pembelajaran. Partisipasi dalam pelatihan meningkat drastis. Jejaring dengan industri dan lembaga pelatihan semakin erat.
Dan prestasi pun mengalir sebagai buah dari konsistensi. Sejak tahun 2022, SMK Negeri 10 Semarang terus menunjukkan progres signifikan dalam berbagai aspek pengembangan pendidikan, baik di tingkat lokal, provinsi, maupun nasional. Sekolah ini berhasil meraih sederet prestasi yang mencerminkan komitmen kuat terhadap peningkatan mutu, inovasi pembelajaran, dan penguatan kompetensi guru serta peserta didik. Pada tahun 2022, SMK Negeri 10 Semarang dinobatkan sebagai Penyumbang Konten Terbanyak di laman resmi Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah—sebuah pengakuan atas konsistensi dalam mendokumentasikan dan membagikan praktik baik pendidikan. Di tahun yang sama, kepala sekolah juga berhasil meraih juara 2 dalam Pelatihan Manajerial Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh BBPPMPV BMTI Cimahi, menandai langkah awal transformasi manajemen sekolah berbasis industri dan kepemimpinan inovatif.
Memasuki tahun 2023, capaian sekolah semakin menguat. SMK Negeri 10 Semarang lolos seleksi sebagai SMK Pusat Keunggulan Reguler Baru oleh Direktorat SMK Kemendikbudristek—sebuah pengakuan nasional atas kesiapan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi berkualitas tinggi. Tak hanya itu, sekolah juga meraih juara 2 dalam Lomba Inovasi Sekolah tingkat Provinsi Jawa Tengah, membuktikan bahwa inovasi bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang diwujudkan dalam ekosistem belajar yang dinamis. Di bidang kejuruan, guru kejuruan berhasil meraih juara 2 dalam Pelatihan Pengelasan GMAW yang diselenggarakan oleh BBPPMPV BMTI Cimahi, menunjukkan bahwa kompetensi teknis guru terus diasah sesuai tuntutan dunia industri.
Pada tahun 2024, momentum prestasi tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi justru ditingkatkan. SMK Negeri 10 Semarang kembali lolos sebagai SMK Pusat Keunggulan Reguler Lanjutan, menegaskan posisinya sebagai sekolah unggulan yang konsisten dalam menjalankan program prioritas nasional. Di bidang kesehatan dan budaya sekolah, institusi ini meraih juara 2 dalam Anugerah Sekolah Berbudaya Sehat Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Ngudi Waluyo—bukti bahwa kesehatan fisik, mental, dan lingkungan menjadi bagian integral dari visi pendidikan holistik. Di ranah pendidikan agama, guru PAI berhasil meraih juara 1 dalam Lomba Guru Berprestasi Kemenag tingkat Kota Semarang, menandai keberhasilan integrasi nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran vokasi.
Prestasi guru juga terus bersinar di berbagai pelatihan nasional. Salah satu guru IPAS meraih juara 1 dalam Pelatihan “Lingkungan sebagai Sumber Energi” yang diselenggarakan BBPPMPV BMTI Cimahi, menunjukkan penguasaan pembelajaran berbasis proyek dan keberlanjutan. Di bidang teknik, guru lainnya meraih juara 2 dalam Pelatihan International Institute of Welding, sekaligus juara 2 dalam Kompetisi Sosial Media Praktik Baik Kurikulum Merdeka—menggabungkan kompetensi teknis dengan literasi digital. Selain itu, prestasi juga diraih di bidang pelatihan kejuruan lainnya: juara 3 dalam Bimtek Bahasa Inggris Kejuruan dan juara 3 dalam Pelatihan Ducting System, keduanya diselenggarakan oleh lembaga yang sama. Rangkaian pencapaian ini bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari budaya belajar yang hidup, kolaborasi yang kuat, serta komitmen kolektif untuk terus tumbuh—karena ketika guru bergerak, sekolah pun tumbuh, dan pendidikan menjadi hidup. Di tahun 2025, sekolah meraih juara 1 Sekolah Penyumbang GTK Prestasi Terbanyak Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I tahun 2025.
Tapi bagi saya, prestasi terbesar bukan pada piala atau piagam. Ia terletak pada senyum seorang guru yang akhirnya percaya diri mempresentasikan praktik baiknya di forum nasional. Pada murid yang berkata, “Bu, pelajaran hari ini seru banget!”. Pada ruang guru yang dulu sunyi, kini riuh oleh diskusi penuh semangat.
Kini, SMK Negeri 10 Semarang bukan hanya tempat mengajar dan belajar. Ia telah bertransformasi menjadi pusat inspirasi—tempat di mana guru dan siswa tumbuh bersama dalam semangat kolaborasi, inovasi, dan literasi yang berkelanjutan.
Saya percaya, setiap sekolah di Indonesia memiliki potensi yang sama. Masalahnya bukan pada sumber daya, melainkan pada keyakinan kolektif: apakah kita percaya bahwa guru bisa berubah? Apakah kita percaya bahwa perubahan dimulai dari hal kecil? Dan apakah kita berani menjadi contoh, bukan hanya penonton?
Guru memang garda terdepan pendidikan. Tapi garda itu tidak akan kuat jika hanya diberi perintah tanpa dukungan, dihargai hanya saat hari guru, atau dianggap sebagai mesin pengajar tanpa jiwa. Mereka butuh ruang untuk belajar, kesempatan untuk bereksperimen, dan ekosistem yang menghargai proses, bukan hanya hasil.
Menghargai guru bukan sekadar memberi gaji layak atau memberi bunga setahun sekali. Menghargai guru berarti memberi mereka kepercayaan untuk tumbuh—karena ketika guru tumbuh, murid pun berkembang. Ketika guru bergerak, sekolah pun tumbuh. Dan ketika sekolah tumbuh, bangsa pun menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
Di ujung perjalanan ini, saya kembali pada kenangan masa kecil saya: seorang guru yang membawa cahaya. Kini, saya berharap, di SMK Negeri 10 Semarang, setiap guru adalah pembawa cahaya itu. Dan cahaya itu—perlahan, pasti, dan tak terbendung—akan menyinari masa depan pendidikan Indonesia.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang sempurna, tapi tentang terus bergerak. Dan gerakan itu dimulai dari satu langkah kecil: keyakinan bahwa setiap guru bisa berubah—jika kita mau menyalakan apinya.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Mantaaabb’s . . .
Keren …
Mantap luar biasa, semoga membawa berkah dan manfaat.
Semoga membawa kemajuan sekolah ini.
Program kerja yang sangat keren , pak Ardan memberi ruang kepada para guru dan murid untuk berkembang menunjukkan kemampuan nya . SMK N10 Semarang semakin menyala .
Beri Komentar