Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Berbagi Praktik Baik Sesi 2 Peserta IN 2 Pelatihan PM Sebagai Ruang Refleksi dan Inspirasi dari Sekolah untuk Sekolah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang — Setelah waktu istirahat siang berlalu, suasana ruang pelatihan kembali hidup. Para guru peserta IN 2 Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) sesi 2 tampak antusias mengikuti kegiatan berbagi praktik baik yang digelar pada Rabu (15/10/2025). Sesi ini menjadi ajang bagi sekolah-sekolah peserta untuk saling bertukar pengalaman dalam menerapkan konsep Pembelajaran Mendalam di satuan pendidikan masing-masing.

Kegiatan yang difasilitasi oleh tim pelatih nasional dan fasilitator daerah ini merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan menuju transformasi pendidikan yang berpusat pada murid. Melalui forum berbagi ini, para pendidik tidak hanya memaparkan hasil implementasi, tetapi juga merefleksikan proses, tantangan, dan inovasi yang muncul di lapangan.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta datang dari SMA Pangudi Luhur Don Bosko Semarang. Sekolah ini menampilkan rangkaian praktik baik yang menunjukkan komitmen kuat terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Kepala SMA PL Don Bosko, Maria Magdalena Heni Widiastuti, menuturkan bahwa seluruh proses perubahan dimulai dari kegiatan pengimbasan bagi kepala sekolah dan guru pada 30 Agustus dan 4 September 2025, yang kemudian dilanjutkan dengan In House Training (IHT) pada Jumat, 19 September 2025.

“Pada tahap IHT, para guru kami mengikuti microteaching dengan fokus pada penerapan Pembelajaran Mendalam dalam mata pelajaran Bahasa Inggris kelas X, khususnya materi Descriptive Text. Kami memanfaatkan berbagai media digital seperti Quizziz, video pembelajaran, PowerPoint, hingga Google Form untuk refleksi,” ungkap Maria Magdalena Heni Widiastuti. Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan bermakna.

Sebagai tindak lanjut, SMA PL Don Bosko menggelar supervisi kepala sekolah bagi 18 guru sejak 22 September hingga 10 Oktober 2025. Setiap guru mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis PM sebagai panduan kegiatan belajar mengajar. Salah satu guru yang menjadi sorotan adalah Ratna Damayanti, S.Pd., pengajar Ekonomi yang berinovasi dengan mengintegrasikan pembelajaran lintas disiplin.

“Saya menggabungkan pelajaran Ekonomi dengan Bahasa Inggris agar murid lebih kontekstual dalam belajar istilah ekonomi global. Dengan bantuan Canva dan diskusi interaktif, kelas menjadi lebih hidup, murid lebih percaya diri,” kata Ratna. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini membuat siswa merasa terlibat langsung dalam proses berpikir dan berkomunikasi.

Langkah-langkah tersebut mencerminkan bagaimana SMA PL Don Bosko membangun ekosistem pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan berpusat pada siswa — sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka.

Tidak hanya Don Bosko, SMA Islam Al Azhar 15 Semarang juga menampilkan praktik inspiratif yang berfokus pada transformasi budaya belajar. Perwakilan sekolah Ria Ayu., menuturkan bahwa perubahan paling mencolok di sekolahnya adalah pergeseran dari fixed mindset menuju growth mindset.

“Dulu, murid hanya mendengar. Sekarang mereka merancang sendiri proyek, melakukan riset, dan merefleksikan hasilnya. Guru bukan lagi pusat pembelajaran, melainkan fasilitator,” jelas Ria Ayu. Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas mata pelajaran kini menjadi tradisi baru yang memperkuat karakter dan kompetensi abad ke-21 siswa.

Dalam praktiknya, Al Azhar 15 juga rutin mengadakan coaching clinic, workshop reflektif, serta tim lintas mapel yang merancang proyek berbasis isu kontekstual. Namun, tantangan masih ada — mulai dari adaptasi guru terhadap model baru hingga manajemen waktu kolaborasi. “Kami terus berbenah, dan yang terpenting, kami bergerak bersama,” tambahnya optimistis.

Sementara itu, SMA Masehi 2 PSAK tampil dengan kisah perjuangan di tengah keterbatasan sarana dan jumlah siswa. Perwakilan sekolah Magdalena, S.Pd., mengatakan bahwa justru dalam kondisi sederhana, semangat inovasi tumbuh lebih kuat.

“Guru kami sedikit, tapi kompak. Kami melaksanakan pengimbasan PM pada 11, 12, dan 20 Agustus 2025, lalu melanjutkan supervisi pada akhir September. Semua guru ikut terlibat, tidak ada yang berjalan sendiri,” ujarnya. Salah satu praktik terbaik yang diangkat adalah pentas seni kolaboratif pada 12 Agustus 2025, yang memadukan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Seni Budaya, Ekonomi, dan PKWU.

Rekan Magdalena, Anis Chrisna, menjelaskan bahwa kegiatan itu menjadi bukti nyata bagaimana integrasi lintas mapel bisa menciptakan pembelajaran bermakna. “Anak-anak belajar bekerja sama, berani tampil, dan memahami bahwa seni, ekonomi, dan bahasa saling berkaitan. Mereka belajar bukan untuk nilai, tapi untuk makna,” katanya.

Meski menghadapi kendala seperti keterbatasan teknologi digital dan perbedaan kesiapan siswa, SMA Masehi 2 PSAK tetap konsisten mengembangkan komunitas belajar guru, pendekatan personal pada siswa, dan strategi inovatif yang menumbuhkan suasana kelas menyenangkan. “Kami tidak ingin PM hanya menjadi proyek sesaat menjelang supervisi, tapi menjadi budaya belajar,” tegas Retno.

Dari sisi lain, SMA Sedes Sapientiae Semarang menghadirkan pendekatan sistematis dalam menerapkan PM. Sekolah ini membentuk tim fasilitator internal, mengaktifkan Professional Learning Community (PLC), dan menyusun panduan praktik terbaik yang dikembangkan berdasarkan pengalaman nyata di kelas.

Perwakilan sekolah Agung Prasetyo Wibowo, menjelaskan bahwa PM di Sedes tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara sekolah menilai keberhasilan belajar. “Kami menilai bukan hanya hasil ujian, tapi juga proses berpikir, kolaborasi, dan karakter siswa. Inilah pembelajaran mendalam yang sesungguhnya,” ujarnya.

Sekolah ini juga mengembangkan proyek lintas disiplin berbasis masalah nyata, seperti isu lingkungan dan sosial di sekitar sekolah. Para siswa diajak menganalisis, berdiskusi, dan mempresentasikan solusi dengan pendekatan ilmiah dan kreatif.

“Implementasi PM memang menantang,” lanjut Agustinus. “Masih ada guru yang ragu atau terbiasa dengan metode lama. Tapi melalui monitoring dan refleksi bersama, kami terus belajar memperbaiki diri.”

Fasilitator BBGTK, Rochimudin, yang hadir dalam sesi berbagi praktik baik ini, mengapresiasi semangat seluruh peserta. “Apa yang dilakukan sekolah-sekolah ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan fasilitas besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar dan berkolaborasi,” ujarnya dalam sambutan penutup.

Ia menegaskan bahwa Pembelajaran Mendalam bukan sekadar metode, melainkan filosofi pendidikan baru yang menempatkan murid sebagai pusat, guru sebagai pembelajar, dan sekolah sebagai ekosistem belajar yang hidup.

Kegiatan berbagi praktik baik peserta IN 2 Pelatihan Pembelajaran Mendalam sesi 2 ini menegaskan bahwa semangat transformasi pendidikan hidup dalam diri para guru. Dari Semarang hingga pelosok daerah, mereka bergerak bersama menumbuhkan budaya belajar yang reflektif, kolaboratif, dan menggembirakan — bukti bahwa perubahan nyata di dunia pendidikan Indonesia sedang bertumbuh dari ruang kelas.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Jawa Tengah

Artikel ini memiliki

4 Komentar

arimurti asmoro
Kamis, 16 Okt 2025

Pembelajaran Mendalam, melatih dan memberi pengalaman kepada guru untuk semakin kreatif, inovatif, dan kolaboratif untuk meningkatkan proses pembelajaran bersama murid

Balas
Helmi Yuhdana H., S.Pd., M.M.
Kamis, 16 Okt 2025

Mantaaabb’s .. . .. .

Balas
Digna Palupi
Kamis, 16 Okt 2025

Mantap dan luar biasa Pak Ardan, pembelajaran mendalam membuat guru semakin kreatif, inovatif, kolaboratif sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran.👍🏻

Balas
Joko Suwignyo
Selasa, 21 Okt 2025

Semoga bermanfaat untuk peserta dan tidak hanya sekedar filosofi, mendalamnya sampai tercipta pada proses pembelajaran

Balas

Beri Komentar