Info Sekolah
Minggu, 01 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Zona Nyaman, Zona Belajar, dan Mimpi tentang Smart School

Diterbitkan :

Mutasi saya ke SMK Negeri 10 Semarang pada awalnya saya sambut dengan rasa syukur yang sederhana. Jarak antara rumah dan sekolah menjadi jauh lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Secara logika, kedekatan jarak itu semestinya berbanding lurus dengan waktu tempuh yang lebih singkat dan perjalanan yang lebih ringan. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Kota Semarang dengan segala dinamika perkotaannya menghadirkan realitas bahwa jarak bukanlah satu-satunya penentu cepat atau lambatnya perjalanan. Padatnya arus lalu lintas sering kali membuat perjalanan yang pendek terasa panjang, melelahkan, dan menguras kesabaran.

Setiap pagi, jalanan Kota Semarang dipenuhi oleh berbagai moda transportasi. Sepeda motor saling berdesakan dengan mobil pribadi, angkutan umum berhenti di sembarang tempat, kendaraan berat melaju perlahan, sementara pejalan kaki berusaha menyeberang di sela-sela kepadatan arus. Persimpangan jalan menjadi titik-titik krusial yang kerap memperparah situasi. Lampu lalu lintas, pelanggaran marka jalan, dan perilaku pengguna jalan yang kurang disiplin menjadikan kemacetan seolah sebagai rutinitas harian. Akibatnya, waktu tempuh perjalanan pun ikut memanjang, tidak sebanding dengan jarak yang seharusnya dapat dilalui dengan cepat.

Menurut Wikipedia, kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama kota yang tidak memiliki transportasi publik yang baik atau memadai, atau ketika kebutuhan jalan tidak seimbang dengan tingkat kepadatan penduduk. Definisi ini terasa sangat dekat dengan realitas yang saya alami setiap hari. Semarang, sebagai kota besar dan pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, serta pemerintahan, menjadi magnet bagi pergerakan manusia dan kendaraan dari berbagai arah.

Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang tidak kecil. Kerugian waktu menjadi hal paling nyata yang dirasakan oleh setiap pengguna jalan. Waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif justru habis di jalan. Selain itu, pemborosan energi tak terelakkan karena kendaraan terus menyala dalam kondisi berhenti atau berjalan sangat lambat. Keausan kendaraan menjadi lebih tinggi, biaya perawatan meningkat, dan polusi udara pun semakin parah. Di atas semua itu, kemacetan juga meningkatkan tingkat stres pengguna jalan. Perjalanan yang seharusnya menjadi bagian dari rutinitas harian berubah menjadi sumber emosi negatif.

Situasi ini menuntut adanya solusi. Salah satu solusi yang sering kali luput dari perhatian adalah kesadaran kolektif para pengguna jalan untuk saling menghargai waktu. Kesadaran ini dapat diwujudkan, misalnya, dengan tidak keluar secara bersamaan pada jam yang sama. Jika sebagian orang dapat menggeser waktu keberangkatan, kepadatan lalu lintas dapat sedikit terurai. Namun, solusi ini bukanlah zona nyaman bagi semua orang. Pergi terlalu pagi sering kali dirasakan berat karena harus bangun lebih awal, melawan rasa malas, dan meninggalkan kenyamanan tempat tidur. Di sinilah tantangan psikologis mulai muncul.

Menurut pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya From Comfort Zone to Performance Management, zona nyaman adalah keadaan ketika seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam kondisi ini, seseorang jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang berujung pada stres. Zona nyaman membuat kita merasa aman, tetapi sekaligus membatasi ruang gerak. Apa pun yang membuat saya merasa enggan beranjak, takut mencoba hal baru, atau khawatir akan terjadi sesuatu jika meninggalkan kebiasaan lama, sejatinya adalah bagian dari zona nyaman saya. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kondisi terjebak di zona nyaman.

Pertanyaannya kemudian, apakah zona nyaman selalu membuat kita benar-benar nyaman? Saya pikir tidak. Sebagai manusia, kita memiliki dorongan alami untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kenyamanan yang bersifat semu sering kali terasa menyenangkan di awal, tetapi dapat menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Terlalu lama berada di zona nyaman justru dapat membuat kita stagnan, kehilangan daya juang, dan tertinggal dari perubahan yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk meninggalkan zona nyaman dan memasuki apa yang saya sebut sebagai zona belajar.

Zona belajar adalah ruang di mana kita berani keluar dari kondisi diam menuju kondisi bergerak dan berkembang. Di zona ini, kita membuka diri terhadap hal-hal baru, belajar dari pengalaman, dan berani menghadapi ketidaknyamanan demi pertumbuhan. Perpindahan dari not moving zone ke learning zone memang tidak selalu mudah. Dibutuhkan komitmen, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar. Namun melalui proses inilah kreativitas dapat diasah dan inovasi dapat dilahirkan. Belajar bukan hanya tentang menyerap informasi, tetapi juga tentang mengubah cara berpikir dan bertindak.

Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan peradaban manusia lahir dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Ketika revolusi industri mulai berlangsung di Inggris, banyak orang mulai berpikir bahwa hidup dapat dibuat lebih mudah melalui mekanisasi dan teknologi. Para pencetus ide revolusi industri jelas bukan orang-orang yang puas dengan kemapanan. Mereka adalah individu-individu yang menggunakan kemampuan olah pikirnya untuk menjawab persoalan masyarakat. Dari mesin uap yang dikembangkan oleh James Watt hingga teknologi mesin dua tak yang menggerakkan kendaraan, semua lahir dari keinginan untuk menciptakan solusi yang lebih baik.

Para penemu tersebut ingin membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Bayangkan jika teknologi komunikasi seperti telepon atau sistem pengiriman surat tidak pernah ditemukan. Komunikasi jarak jauh tentu akan menjadi sangat sulit, bahkan hampir mustahil. Dunia tidak akan berkembang secepat sekarang tanpa keberanian mereka untuk bereksperimen dan mengambil risiko. Inovasi yang mereka lakukan bukan hanya mengubah cara hidup manusia pada masanya, tetapi juga mewariskan fondasi bagi kemajuan generasi berikutnya.

Sebagai generasi penerus, kita patut berterima kasih kepada para penemu tersebut. Rasa terima kasih itu tidak cukup diwujudkan dalam bentuk ucapan semata, melainkan dengan mewarisi semangat pantang menyerah dalam berinovasi. Ide dan gagasan harus menjadi menu wajib yang terus dikembangkan. Melalui inovasi dan pengembangan gagasan, akan tercipta penemuan-penemuan baru yang relevan dengan tantangan zaman. Dunia pendidikan, sebagai ruang pembentukan sumber daya manusia, memiliki peran strategis dalam menumbuhkan semangat ini.

Pengalaman pribadi saya dalam melakukan inovasi pembelajaran menjadi bukti nyata bahwa keberanian keluar dari zona nyaman membuahkan hasil luar biasa. Ketika saya masih menjadi guru, saya mencoba menerapkan pembelajaran dengan membuat Kelas Online. Pada awalnya, langkah ini terasa menantang karena berbeda dari pola pembelajaran konvensional. Namun hasilnya sungguh di luar bayangan saya. Dalam kurun waktu kurang dari satu hari, separuh materi pada bab pertama berhasil diselesaikan oleh peserta didik.

Pembelajaran menjadi lebih cepat, mudah, dan menyenangkan. Ketika kelas lain baru memulai pembahasan, anak didik saya sudah menguasai separuh materi. Saat yang lain baru beranjak memahami konsep, anak-anak sudah mampu menerapkan dan bahkan menghasilkan produk dari materi yang dipelajari. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kecepatan belajar, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian peserta didik. Kami ingin setiap anak didik menjadi leader dan rujukan bagi teman-temannya dalam proses belajar.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa inovasi adalah kunci kemajuan pendidikan. Ketika saya berada di tempat yang baru, segudang pemikiran mulai bermunculan. Lingkungan baru menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menerapkan gagasan-gagasan segar. Setiap tantangan saya pandang sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, bukan sebagai hambatan yang harus dihindari.

Selaku Kepala Sekolah, saya menginginkan kondisi pembelajaran yang inovatif dan adaptif dapat diterapkan di SMK Negeri 10 Semarang. Saya membayangkan sebuah ekosistem pendidikan yang memanfaatkan teknologi secara optimal, mendorong kreativitas, serta menyiapkan peserta didik untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan nyata. Inilah alasan mengapa saya ingin menerapkan konsep Smart School di SMK Negeri 10 Semarang. Bagi saya, Smart School bukan sekadar tentang penggunaan perangkat digital, melainkan tentang perubahan pola pikir dari zona nyaman menuju zona belajar yang berkelanjutan.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar