Info Sekolah
Sabtu, 28 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Menulis Jejak, Merawat Harapan, Sebuah Narasi untuk SMK Negeri 10 Semarang

Diterbitkan :

Waktu adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Ia melintas tanpa menoleh, membawa serpihan kenangan sekaligus ancaman lupa yang sunyi. Di tepian sungai itulah manusia berdiri, mencoba menandai batu, menancapkan tonggak, atau sekadar menuliskan nama agar tidak seluruh kisahnya hanyut tanpa sisa. Demikian pula sebuah sekolah. Hari-hari di dalamnya tampak biasa: bel berbunyi, langkah kaki bergegas di koridor, tawa remaja memantul di dinding kelas, guru-guru mengulang pelajaran yang sama dengan kesabaran yang tak selalu terlihat. Namun di balik rutinitas itu, sesungguhnya sedang tumbuh ratusan mimpi, rencana hidup, dan tekad untuk mengubah nasib. SMK Negeri 10 Semarang bukan sekadar bangunan dari bata dan semen; ia adalah rumah bagi mimpi-mimpi yang sedang bertunas, tempat harapan ditanam dengan tangan yang kadang lelah namun tak pernah benar-benar menyerah.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah pertanyaan yang sederhana sekaligus menggugah: bagaimana agar mimpi, kerja keras, dan dedikasi seluruh warga sekolah tidak hilang ditelan zaman? Bagaimana memastikan bahwa peluh yang jatuh di bengkel, ide-ide yang lahir di ruang rapat, serta perjuangan siswa yang belajar sungguh-sungguh tidak menguap begitu saja seperti embun pagi? Jawabannya bukan pada kemegahan bangunan atau gemuruh perayaan sesaat, melainkan pada sesuatu yang sering dianggap sepele: rekam jejak. Dokumentasi, catatan, arsip, laporan kegiatan, foto, dan tulisan-tulisan kecil yang mungkin tampak sederhana, sesungguhnya adalah upaya mengabadikan denyut nadi kehidupan sekolah. Ia seperti tangan yang menahan waktu sejenak, memintanya untuk tidak terlalu cepat membawa pergi semua yang berharga.

Rekam jejak adalah monumen tak kasat mata. Ia tidak menjulang seperti tugu, tidak pula berkilau seperti prasasti, namun kekuatannya justru terletak pada keheningannya. Dokumentasi bukan sekadar pekerjaan administratif yang harus diselesaikan demi kelengkapan berkas; ia adalah usaha suci untuk menjaga sejarah agar tetap bernapas. Setiap berita kegiatan, setiap foto kebersamaan, setiap laporan program kerja adalah bata-bata kecil yang disusun perlahan untuk membangun tembok ingatan. Tanpa bata-bata itu, sejarah akan runtuh menjadi cerita lisan yang mudah berubah bentuk, mudah dilupakan, bahkan mudah dipelintir.

Arsip digital, yang kini semakin akrab dengan kehidupan modern, menjadi cermin masa lalu yang jernih. Kelak, ketika para siswa telah menjelma menjadi alumni yang sibuk dengan kehidupan masing-masing, mereka dapat membuka kembali rekaman itu dan melihat wajah-wajah yang pernah mengisi hari-hari mereka. Mereka akan menemukan kembali perjuangan yang dulu terasa berat namun kini dikenang dengan senyum. Mereka akan mengingat guru yang pernah menegur dengan tegas namun sebenarnya menyimpan kepedulian yang mendalam. Dalam arsip itu, kebersamaan tidak benar-benar hilang; ia hanya menunggu untuk dipanggil kembali.

Lebih dari itu, rekam jejak memberi rasa dihargai. Ketika sebuah kegiatan didokumentasikan, ketika nama-nama dicatat, ketika usaha diakui dalam bentuk tulisan atau gambar, ada pesan halus yang tersampaikan: bahwa apa yang dilakukan tidak sia-sia, bahwa keberadaan setiap individu berarti. Di dunia yang sering bergerak terlalu cepat hingga manusia merasa mudah tergantikan, pengakuan semacam ini menjadi sangat penting. Ia menumbuhkan kebanggaan, memperkuat identitas, dan menegaskan bahwa setiap orang adalah bagian dari cerita besar yang sedang ditulis bersama.

Di tengah upaya menjaga rekam jejak itu, hadir pula Catatan CEO. Sebutan ini bukan sekadar label modern yang terdengar gagah, melainkan metafora tentang tanggung jawab besar untuk memastikan kapal pendidikan tetap berlayar di jalur yang benar. Catatan CEO bukan laporan kinerja yang kaku atau pidato resmi yang penuh jargon, melainkan ruang bagi renungan, kegelisahan, dan harapan tentang mutu pendidikan yang ingin diwujudkan.

Di dalam catatan tersebut, kebijakan yang biasanya terasa dingin dan formal berubah menjadi narasi yang hangat dan manusiawi. Angka-angka target kurikulum tidak lagi sekadar statistik, melainkan cermin dari upaya membimbing jiwa-jiwa muda menuju masa depan yang lebih baik. Catatan CEO menjadi semacam dialog dengan masa depan, seolah-olah penulisnya sedang berbicara kepada generasi yang belum hadir, menyampaikan pesan bahwa segala keputusan hari ini dibuat dengan pertimbangan yang mendalam dan kepedulian yang tulus.

Fungsinya pun melampaui sekadar dokumentasi pemikiran. Ia menjadi kompas moral dan intelektual bagi warga sekolah. Dalam situasi ketika arah terasa kabur atau semangat mulai meredup, catatan itu dapat dibaca kembali sebagai pengingat tentang tujuan awal. Ia menghidupkan kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya tentang kelulusan atau angka keberhasilan, melainkan tentang membentuk manusia yang utuh. Di balik setiap standar kompetensi, ada hati yang perlu disentuh, ada karakter yang perlu dibangun, dan ada mimpi yang perlu dirawat dengan kasih sayang.

Ketika berita kegiatan dan catatan CEO berjalan berdampingan, terciptalah sebuah harmoni yang indah. Berita kegiatan adalah tubuh yang bergerak, menunjukkan dinamika, kerja nyata, dan capaian yang dapat dilihat. Ia memperlihatkan bahwa sekolah hidup, aktif, dan terus berusaha berkembang. Sementara itu, Catatan CEO adalah jiwa yang menghidupkan tubuh tersebut, memberikan makna, arah, dan kedalaman pada setiap gerak. Tanpa tubuh, jiwa tidak memiliki wadah; tanpa jiwa, tubuh hanya bergerak tanpa tujuan. Keduanya saling melengkapi, menenun mozaik identitas SMK Negeri 10 Semarang menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Mozaik itu pada akhirnya membentuk sejarah yang kokoh. Ia melindungi sekolah dari bahaya lupa, sekaligus dari stagnasi. Sekolah yang memiliki ingatan akan masa lalunya cenderung lebih bijaksana dalam melangkah, karena ia tahu dari mana berasal dan ke mana hendak menuju. Rekam jejak menjadi cermin sekaligus peta: cermin untuk melihat diri sendiri dengan jujur, dan peta untuk menentukan arah perjalanan berikutnya.

Namun membangun rekam jejak bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan ketelatenan yang mirip dengan merawat benih. Setiap hari harus ada perhatian, kesabaran, dan kesadaran bahwa hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Guru, staf, dan siswa memegang peran penting dalam proses ini. Mereka perlu menyadari bahwa setiap aktivitas, sekecil apa pun, adalah tinta sejarah yang kelak akan membentuk narasi besar sekolah. Sebuah lomba kecil, sebuah diskusi kelas, bahkan kerja bakti yang tampak sederhana, semuanya memiliki nilai ketika dicatat dengan baik.

Komitmen kolektif menjadi kunci. Dokumentasi yang dilakukan hanya karena kewajiban administratif cenderung kehilangan ruhnya. Ia mungkin lengkap secara teknis, tetapi terasa kering dan tidak menyentuh. Sebaliknya, ketika ditulis dengan hati, rekam jejak dapat memancarkan emosi, semangat, dan makna yang lebih dalam. Ia tidak hanya menceritakan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu penting. Di situlah peran kesadaran bersama: bahwa menulis dan merekam adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap masa depan.

Bagi generasi mendatang, arsip-arsip ini akan menjadi bisikan sejarah yang lembut namun kuat. Ia seolah berkata, “Di sini pernah ada orang-orang yang bekerja keras, bermimpi besar, dan mencintai pendidikan dengan sepenuh hati.” Pesan semacam itu memiliki daya inspirasi yang luar biasa. Seorang siswa baru yang membaca rekam jejak sekolahnya dapat merasakan bahwa ia sedang melanjutkan estafet, bukan memulai dari nol. Ia menjadi bagian dari cerita panjang yang telah ditulis oleh banyak orang sebelum dirinya.

Dengan cara itu, SMK Negeri 10 Semarang menjelma menjadi kanvas peradaban kecil. Di atasnya, generasi demi generasi melukis warna masing-masing, menambahkan detail baru tanpa menghapus yang lama. Dokumentasi menjadi monumen tak kasat mata yang dibangun bukan dari batu, melainkan dari kenangan, dedikasi, dan harapan. Monumen ini tidak tergerus hujan atau lapuk oleh usia, karena ia hidup di dalam ingatan kolektif dan dapat diwariskan tanpa batas.

Pada akhirnya, rekam jejak bukan sekadar kumpulan data, melainkan warisan emosional. Ia adalah bentuk cinta yang diterjemahkan ke dalam tulisan dan gambar, agar tidak hilang oleh waktu. Ia menjaga agar setiap usaha yang pernah dilakukan tetap memiliki arti, bahkan ketika para pelakunya telah melangkah jauh ke tempat lain.

Maka ajakan yang patut digaungkan adalah ajakan yang sederhana namun mendalam: teruslah menulis, teruslah merekam. Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa jejak, karena jejak hari ini adalah pijakan bagi langkah generasi masa depan. Apa yang tampak biasa sekarang bisa menjadi luar biasa kelak, ketika dilihat dari jarak waktu yang panjang. Rekam jejak bukan hanya catatan tentang apa yang pernah terjadi, melainkan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Di sanalah letak keindahannya. Sebuah sekolah tidak hanya diingat karena gedungnya, prestasinya, atau jumlah lulusannya, tetapi karena cerita yang ditinggalkannya. Cerita tentang orang-orang yang percaya bahwa pendidikan adalah cahaya, bahwa kerja keras adalah doa yang diwujudkan, dan bahwa kebersamaan adalah kekuatan yang tak tergantikan. Rekam jejak adalah cara untuk memastikan bahwa cerita itu tidak pernah benar-benar berakhir. Ia akan terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi warisan cinta pada almamater yang tak lekang oleh waktu.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

9 Komentar

Prawidana
Sabtu, 28 Feb 2026

pentingnya dokumentasi untuk mengetahui rekam jejak yang pernah dilakukan, guna terus menghargai proses yang dilakukan pada masa sebelumnya.

Balas
Nasi'in Samsul Huda
Sabtu, 28 Feb 2026

Seorang leader
itu seperti bertani, dimulai dengan pengolahan tanah, pembibitan, penyiraman,dan pemupukan..pada hakikatnya bertani adalah bicara bagaimana caranya untuk memperoleh hasil panen yang melimpah, dia harus mempunyai strategi, cara metode, mengayomi,memelihara apa yang ditanam supaya hasilnya maksimal begitu pula seorang leader, yg harus punya visi, misi dan arah kebijakan yang jelas dan terukur, ia tahu kapan harus berpikir, dan kapan harus bertindak, sehingga tim yang dipimpinnya memiliki kekuatan yang solid, yang dapat diwariskan untuk leader yang akan datang

Balas
Afidatin
Sabtu, 28 Feb 2026

Rekam jejak adalah cara untuk memastikan bahwa cerita itu tidak pernah benar-benar berakhir. Ia akan terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi warisan cinta pada almamater yang tak lekang oleh waktu.

Balas
Dra.Warni
Sabtu, 28 Feb 2026

Rekam.jejak tdk hanya kumpulan data,namun merupakan warisan emosional yg diterjemahkan kedalam tulisan dan gambar

Balas
Kholifah martha
Sabtu, 28 Feb 2026

bahwa yang membuat sekolah bermakna adalah kisah perjuangan, nilai pendidikan, kerja keras, dan kebersamaan yang menjadi warisan abadi bagi setiap generasi.

Balas
ELMINA
Sabtu, 28 Feb 2026

Tetep semangat Bp Ardan, walau ombak menerjang tetaplah pada arah dan tujuan kedepan untuk SMKN10 SEMARANG TERCINTA

Balas
Andhen Priyono
Sabtu, 28 Feb 2026

Sebuah sekolah tidak hanya diingat karena gedungnya, prestasinya, atau jumlah lulusannya, tetapi karena cerita yang ditinggalkannya. Cerita tentang orang-orang yang percaya bahwa pendidikan adalah cahaya, bahwa kerja keras adalah doa yang diwujudkan, dan bahwa kebersamaan adalah kekuatan yang tak tergantikan. Rekam jejak adalah cara untuk memastikan bahwa cerita itu tidak pernah benar-benar berakhir.

Balas
Yusuf Trisnawan, S.Pd.
Sabtu, 28 Feb 2026

Pada akhirnya, rekam jejak bukan sekadar kumpulan data, melainkan warisan emosional. Ia adalah bentuk cinta yang diterjemahkan ke dalam tulisan dan gambar yang akan selalu dikenang

Balas
arimurti asmoro
Sabtu, 28 Feb 2026

Mengubah sekolah dari sekedar gedung untuk tempat bekerja dan belajar, menjadi pusat kolaborasi untuk pertumbuhan dan pengembangan prestasi seluruh warga sekolah yang meninggalkan warisan yang unggul dan bermanfaat.

Balas

Beri Komentar