SEMARANG – Alhamdulillah, Kamis pagi, 26 Februari 2026, gerimis tipis yang menyelimuti Kota Semarang justru menambah kekhusyukan kegiatan Sholat Dhuha civitas akademik SMK Negeri 10 Semarang. Bertempat di lingkungan SMK Negeri 10 Semarang, para guru, tenaga kependidikan, dan siswa mengikuti ibadah sunnah tersebut dengan penuh ketenangan dan semangat kebersamaan.
Kegiatan yang rutin digelar sebagai bagian dari penguatan karakter religius ini dipimpin oleh Imam Agung Nuril Hijaz, S.Pd. Sementara itu, kultum atau kuliah tujuh menit disampaikan oleh Andhen Priyono, S.Pd., M.Si dengan mengangkat tema “Khaifiyah Sholat Dhuha dan Fadhilahnya” atau kefadholan sholat dhuha.
Sejak pukul 07.30 WIB, para siswa telah berkumpul di area yang telah disiapkan. Meski langit mendung dan gerimis turun perlahan, tidak satu pun peserta beranjak. Justru suasana pagi yang sejuk membuat rangkaian ibadah terasa lebih syahdu. Lantunan doa dan bacaan ayat suci Al-Qur’an terdengar khidmat, menyatu dengan rintik hujan yang membasahi halaman sekolah.
Dalam kultumnya, Bapak Andhen Priyono menjelaskan bahwa sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu pagi hari setelah matahari terbit hingga menjelang waktu dzuhur. “Waktunya dimulai sekitar 15 menit setelah matahari terbit sampai sebelum masuk waktu dzuhur. Waktu terbaiknya adalah ketika matahari mulai terasa panas, sekitar pukul 08.00 hingga 10.00 pagi. Di waktu itulah keutamaan dhuha begitu besar,” jelasnya di hadapan para peserta.
Ia menambahkan, kefadholan sholat dhuha bukan hanya soal pahala, tetapi juga keberkahan hidup dan kelapangan rezeki. “Rasulullah SAW sangat menganjurkan sholat dhuha. Di antara keutamaannya adalah sebagai bentuk sedekah bagi seluruh persendian tubuh dan sebagai pembuka pintu rezeki. Jika kita istiqamah melaksanakannya, insyaallah Allah akan mencukupkan kebutuhan kita,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan sholat dhuha secara berjamaah di lingkungan sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari pembiasaan nilai spiritual yang membentuk karakter peserta didik. “Kita ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual. Dengan dhuha, kita belajar disiplin waktu, belajar bersyukur, dan belajar menggantungkan harapan hanya kepada Allah,” tegasnya.
Sementara itu, Imam sholat dhuha, Bapak Agung Nuril Hijaz, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas antusiasme seluruh civitas akademik. Ia menilai, semangat kebersamaan dalam ibadah mencerminkan budaya sekolah yang religius dan harmonis. “Alhamdulillah, meskipun gerimis turun, semangat tetap menyala. Ini bukti bahwa kebersamaan dalam kebaikan tidak mudah goyah oleh cuaca,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh siswa untuk menjadikan sholat dhuha sebagai kebiasaan pribadi, tidak hanya saat kegiatan bersama di sekolah. “Jangan hanya ketika ada program sekolah. Jadikan dhuha sebagai kebutuhan ruhani kita. Karena dari situlah kita mendapatkan ketenangan hati dan kemudahan dalam belajar,” ujarnya memberi pesan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen SMK Negeri 10 Semarang dalam membangun budaya sekolah yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi kejuruan, tetapi juga pembentukan akhlak dan spiritualitas. Melalui pembiasaan ibadah sunnah seperti sholat dhuha, sekolah berharap lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga memiliki integritas dan keteguhan iman.
Gerimis yang turun perlahan di pagi itu seakan menjadi simbol kesejukan hati yang dirasakan seluruh peserta. Tidak ada keluhan, tidak ada raut wajah muram. Yang tampak justru senyum dan semangat untuk terus melangkah dalam kebaikan.
“Tema kita hari ini adalah kefadholan sholat dhuha. Semoga kita semua bisa merasakan manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Tetap semangat, tetap berhikmat,” pungkas Bapak Andhen menutup kultumnya.
Dengan semangat “Tetap Semangat, Tetap Berhikmat”, kegiatan sholat dhuha pagi itu tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga momentum refleksi diri bagi seluruh civitas akademik. Di tengah rintik hujan yang membasahi bumi, doa-doa dipanjatkan, harapan digantungkan, dan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik kembali diteguhkan.
Penulis : Muhammad Suparjo, Guru PAI SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar