Semarang, 20 Februari 2026 — Suasana khusyuk menyelimuti Aula SMK Negeri 10 Semarang pada Jumat pagi ketika guru dan tenaga kependidikan mengikuti kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah. Kegiatan rutin keagamaan tersebut digelar sebagai bagian dari pembinaan karakter spiritual warga sekolah menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Sholat dipimpin oleh Muhammad Yunan sebagai imam, sementara tausiyah singkat atau kultum disampaikan oleh Muhammad Suparjo yang mengangkat tema perbedaan penentuan awal Ramadan.
Sejak pukul 07.30 WIB, peserta telah memadati aula sekolah dengan mengenakan pakaian muslim rapi. Barisan saf tersusun tertib, mencerminkan kesiapan batin untuk menjalankan ibadah sunnah tersebut secara berjamaah. Kegiatan diawali dengan pembukaan singkat oleh panitia, kemudian dilanjutkan pelaksanaan Sholat Dhuha yang berlangsung dengan penuh ketenangan.
Usai sholat, Muhammad Suparjo menyampaikan kultum yang menyoroti fenomena tahunan perbedaan awal puasa Ramadan di kalangan umat Islam. Dalam ceramahnya, ia mengajak para siswa untuk memahami persoalan tersebut secara ilmiah dan bijaksana, bukan dengan emosi atau fanatisme.
“Setiap tahun kita hampir selalu menyaksikan adanya perbedaan awal Ramadan. Di satu tempat sudah mulai puasa, di tempat lain belum. Bahkan dalam satu negara pun bisa berbeda. Ini bukan hal baru dan tidak perlu disikapi sebagai perpecahan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut berakar pada metode penentuan awal bulan hijriah, yakni rukyatul hilal dan hisab astronomis. Rukyatul hilal merupakan pengamatan langsung terhadap bulan sabit, sementara hisab adalah perhitungan matematis posisi bulan dan matahari.
“Keduanya memiliki dasar yang kuat. Rukyat bersandar pada hadits Nabi, sedangkan hisab didukung perkembangan ilmu pengetahuan. Tujuannya sama, yaitu memastikan ibadah kita sesuai syariat,” kata Suparjo.
Menurutnya, variasi kriteria visibilitas hilal di berbagai negara dan organisasi Islam juga turut menyebabkan perbedaan hasil penetapan. Ia mencontohkan kriteria di Asia Tenggara yang mensyaratkan tinggi hilal tertentu agar dapat dianggap terlihat, sementara sebagian organisasi menggunakan pendekatan keberadaan hilal di atas ufuk meski belum tampak secara kasat mata.
“Perbedaan ini bukan pertentangan antara benar dan salah, melainkan perbedaan cara memahami dalil. Dalam fikih, hal seperti ini termasuk wilayah ijtihad,” jelasnya.
Selain faktor metode, Suparjo juga menyinggung pengaruh kondisi geografis dan cuaca. Posisi bulan yang berbeda di tiap wilayah serta faktor awan atau polusi dapat memengaruhi hasil pengamatan hilal. Karena itu, menurutnya, perbedaan penentuan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dalam konteks ilmiah maupun keagamaan.
Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah keragaman pandangan. “Yang terpenting bukan seragam tanggalnya, tetapi kesatuan hati. Jangan sampai perbedaan teknis justru merusak ukhuwah,” tegasnya.
Suparjo juga mengimbau agar masyarakat mengikuti otoritas keagamaan yang diakui di wilayah masing-masing demi ketertiban dan kemaslahatan bersama. Sikap saling menghormati terhadap kelompok lain yang berbeda pilihan dinilai sebagai wujud akhlak Islam yang sejati.
“Ramadan seharusnya menjadi momentum penyucian hati, bukan ajang perdebatan. Kita sambut dengan lapang dada dan saling menghargai,” ujarnya.
Kepala sekolah yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas antusiasme Guru dan Tenaga Kependidikan mengikuti Sholat Dhuha berjamaah. Ia berharap kegiatan ini dapat membentuk karakter religius sekaligus memperkuat nilai toleransi.
“Kami ingin GTK matang secara spiritual dan sosial. Pemahaman seperti yang disampaikan dalam kultum tadi sangat penting untuk membangun sikap dewasa dalam beragama,” katanya.
Kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah di SMK Negeri 10 Semarang rencananya akan terus dilaksanakan secara rutin, khususnya menjelang momen keagamaan besar. Selain meningkatkan ketakwaan, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai persatuan di tengah keberagaman.
Menutup kultumnya, Muhammad Suparjo mengajak seluruh jamaah menyambut Ramadan dengan hati bersih dan niat yang tulus. “Semoga Allah mempersatukan hati kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan Ramadan sebagai jalan menuju keberkahan,” ucapnya.
Dengan berlangsungnya kegiatan tersebut, sekolah berharap warga sekolah tidak hanya siap secara fisik menyambut bulan suci, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang makna persaudaraan dalam Islam. Sholat Dhuha pagi itu pun berakhir dengan doa bersama, meninggalkan suasana tenang dan harapan akan datangnya Ramadan yang penuh kedamaian.
Penulis : Muhammad Yunan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar