Semarang – Komitmen memperkuat kesehatan mental remaja terus diperkuat melalui jalur pendidikan. Hal itu diwujudkan lewat kegiatan Mental Health Awareness bertema “Winning Within: The Power of Mental Health Resilience” yang digelar di SMK Negeri 10 Semarang, Rabu, 7 Januari 2026. Kegiatan bertajuk RISE UP Mental Health Awareness ini menjadi wadah diseminasi guru kepada guru sebagai upaya membangun ketahanan mental dari lingkungan sekolah, hasil kolaborasi SMK Negeri 10 Semarang dengan Rotary International District 3420 Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh para guru SMK Negeri 10 Semarang. Fokus utama kegiatan adalah memperkuat peran pendidik sebagai garda terdepan dalam mendeteksi, mendampingi, dan menciptakan ekosistem sekolah yang aman bagi kesehatan mental siswa di tengah tantangan sosial, digital, dan keluarga yang semakin kompleks.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd., dalam sambutan pembuka menegaskan bahwa isu kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan. Menurutnya, guru tidak hanya dituntut mentransfer pengetahuan, tetapi juga hadir sebagai pendamping emosional bagi siswa. “Kami senang SMK Negeri 10 Semarang ditunjuk sebagai mitra Rotary. Ini adalah sebuah kesempatan bagi kami untuk membantu anak-anak dalam menjaga kesehatan mental mereka, agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional dan sosial,” ujar Ardan. Ia menambahkan, tantangan zaman yang dihadapi siswa menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi, termasuk dalam memahami dinamika psikologis remaja.
Dukungan penuh terhadap kegiatan ini juga disampaikan District Governor Rotary District 3420, Dyah Anggraeni, yang hadir langsung di lokasi. Ia menekankan bahwa kesehatan mental remaja merupakan fondasi penting bagi masa depan bangsa. “Isu kesehatan mental bukan lagi isu pinggiran. Ini adalah fondasi masa depan generasi muda. Melalui program Winning Within, kami ingin memperkuat ketahanan mental dari dalam, dimulai dari para pendidik,” katanya. Menurut Dyah, Rotary berkomitmen menjalankan program kemanusiaan berbasis pendidikan dan kesejahteraan psikologis, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.
Memasuki sesi pertama bertajuk Branding & Pemahaman Diri – “Siapa Aku, Siapa Kita?”, suasana kegiatan dibuat cair dan partisipatif. Para guru dibagi ke dalam kelompok kecil untuk membangun keakraban melalui aktivitas pembuatan yel-yel, unjuk bakat, hingga branding kelompok. Interaksi ini tidak hanya memecah kekakuan, tetapi juga menjadi media refleksi peran diri sebagai pendidik. Sesi ini ditutup dengan penayangan video inspiratif “Sebatang Pensil” yang mengajak peserta merenungkan makna kebermanfaatan diri, sekaligus menyentuh sisi emosional para guru.
Sesi kedua bertema “Tantanganku: Sudut Pandangku vs Dunia Mereka” menjadi ruang refleksi mendalam terkait realitas yang dihadapi remaja masa kini. Dalam sesi ini, para guru mengidentifikasi berbagai persoalan kesehatan mental siswa, mulai dari perundungan, kekerasan seksual, adiksi gawai, paparan pornografi, keluarga disfungsional, tekanan orang tua, hingga relasi yang tidak sehat. Melalui alat bantu Kartu Diri, peserta saling berbagi pengalaman dan sudut pandang. Fasilitator kemudian memandu penyusunan Deklarasi Komitmen Bersama yang ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih, sebagai simbol tanggung jawab nasional dalam melindungi generasi muda.
Pada sesi ketiga, Regulasi Emosi – Menjaga Keseimbangan Diri Sebagai Pendidik, peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya pengelolaan emosi dalam interaksi sehari-hari dengan siswa. Pemateri dari Media Mitra Keluarga, Dr. Hastaning Sakti, MKes., Psikolog, menekankan bahwa kesehatan mental guru adalah prasyarat utama terciptanya lingkungan belajar yang aman dan suportif. “Guru yang mampu meregulasi emosinya dengan baik akan lebih hadir secara utuh bagi siswanya. Ketenangan guru menular pada ketenangan anak,” jelasnya. Para guru juga mempraktikkan teknik relaksasi dan strategi pengelolaan emosi yang aplikatif untuk diterapkan di kelas.
Sesi keempat mengangkat tema Kemampuan Mendengarkan – Dari Menasihati ke Memahami. Melalui metode role play, para guru dilatih untuk mendengarkan secara empatik, memvalidasi perasaan siswa, dan memahami tanpa menghakimi. Refleksi peserta menunjukkan perubahan sudut pandang yang signifikan terhadap pola komunikasi dengan siswa. Salah satu peserta menyimpulkan, “Mendengar adalah bentuk kasih sayang yang paling sederhana namun paling bermakna bagi siswa.”
Kegiatan ditutup dengan sesi inspirasi melalui aktivitas menggambar Lambang Diri yang merepresentasikan peran guru sebagai pendamping siswa. Presentasi kelompok dan penayangan video “Tukang Kayu” memperkuat pesan bahwa setiap interaksi guru dengan siswa adalah pahatan yang membentuk masa depan. Acara diakhiri dengan pengisian kuesioner evaluasi dan pesan moral bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan pencerah yang mengangkat martabat siswa.
Sejumlah peserta mengaku mendapatkan perspektif baru dari kegiatan ini. Mungky Satya RA menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah progresif di dunia pendidikan vokasi. “Di dunia SMK, kita sering terlalu fokus pada hard skills dan kesiapan kerja fisik, namun lupa bahwa mesin utama seorang taruna dan pengajar adalah mentalnya. Guru yang sehat mentalnya akan melahirkan siswa yang tangguh jiwanya,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini menyadarkannya akan pentingnya self-care. “Memahami kesehatan mental membantu kita membedakan kritik yang membangun dan manipulasi. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tapi juga tempat penyembuhan dan pertumbuhan karakter,” katanya.
Elmina, guru BK SMK Negeri 10 Semarang, menilai pembekalan kesehatan mental bagi guru memiliki dampak signifikan. Menurutnya, pemahaman ini dapat meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, memperkuat kemampuan mengelola emosi, serta membantu guru memberikan dukungan dan rujukan yang tepat bagi siswa. “Guru yang sehat mentalnya akan menciptakan kualitas pengajaran dan lingkungan belajar yang lebih baik,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Beni Legowo, Guru Pendidikan Agama Islam. Ia mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru terkait pemahaman karakter peserta didik. “Penanganan masalah siswa tidak bisa disamaratakan. Kegiatan ini membantu saya menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan psikologis siswa,” katanya.
Sementara itu, Febtiyaningsih, guru Produktif Manajemen Logistik, menilai kegiatan ini penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan empatik. “Bagi guru, ini memperkuat peran dalam mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik. Bagi siswa, dampaknya pada peningkatan kesadaran diri, pengelolaan emosi, dan kepercayaan diri,” ujarnya.
Anis Indri Hastuti, Guru Matematika, menekankan relevansi pelatihan ini dengan kebutuhan sekolah saat ini. “Pelatihan mental health oleh The Rotary Foundation sangat positif karena membekali guru dengan sikap empatik, tidak menghakimi, serta keterampilan mendengar dan merespons secara aman, sehingga mampu menjadi sistem pendukung awal bagi murid dan mencegah masalah kesehatan mental sejak dini,” katanya.
Suwarni, Guru PKWU SMK Negeri 10 Semarang, juga menilai kegiatan ini memudahkan guru dalam menangani siswa bermasalah. “Dengan pemahaman kesehatan mental, guru lebih siap mendampingi siswa agar bisa menjalani pembelajaran yang sesuai dengan kondisinya,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Rotary International District 3420 kembali menegaskan perannya sebagai organisasi pengabdian masyarakat berbasis sukarela dengan tujuh area fokus, termasuk kesehatan mental, pemberdayaan perempuan, dan pencegahan polio. Di Indonesia, Rotary aktif menjalankan berbagai program sosial, mulai dari edukasi kesehatan, pengobatan gratis, hingga kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menangani isu stunting, pendidikan, dan pernikahan dini.
Kegiatan Mental Health Awareness di SMK Negeri 10 Semarang ini diharapkan mampu mencetak guru-guru yang siap menjadi fasilitator kesehatan mental di lingkungan sekolah. Dengan meningkatnya kesadaran, pengetahuan, dan jejaring dukungan, para pendidik diharapkan dapat menjadi benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental siswa, sekaligus menumbuhkan generasi yang tangguh, berdaya, dan berkarakter.







Users Today : 456
Users Yesterday : 1001
This Month : 1457
This Year : 45936
Total Users : 697018
Views Today : 1354
Total views : 3709533
Who's Online : 13





Terima kasih untuk kegiatan hari ini. Salam rotary
Kegiatan yang sangat bermanfaat,
Kegiatan yang sangat bermanfaat..
Guru yang peduli kesehatan mental merupakan benteng pertama sekolah dalam membangun siswa yang tangguh, sehat, dan berkarakter.
Semarang utara luar biasa
Smk 10 semarang yess
Rotary ok
Membangun ketahanan mental remaja dimulai dari kesiapan mental para gurunya. Artikel ini mengingatkan kita bahwa peran guru lebih dari sekadar mengajar, melainkan menjadi tempat berteduh bagi siswa. Semoga dengan kegiatan ini, kita di SMKN 10 Semarang semakin kompak untuk saling menguatkan, baik sesama guru maupun kepada siswa.
Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa 👍
Kegiatan yang sangat penting dalam mendampingi para siswa.
Rotary keren…tks ilmunya
Guru tidak hanya dituntut mentransfer pengetahuan, tetapi juga hadir sebagai pendamping emosional dengan menjaga anak didiknya sehat secara emosional.
Perlunya pendampingan sejak dini untuk menyehatkan mental para remaja yang bermasa depan,
Mwmbangun mental siswa yg kuat dalam menghadapi dunia yg semakin hebat, perlu pembinaan mental siswa yg tangguh.
Semoga siswa – siswi SMK N 10 SEMARANG tahan terhadap kerasnya dunia
Amin…
Melalui kegiatan ini, menjadi langkah strategis dalam mendukung proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan ketahanan mental seluruh warga sekolah.
Terimakasih rotary , sangat bermanfaat bagi pendidik dalam membimbing dan mengarahkan anak anak yg bermasalah .
Kegiatan yang semakin melengkapi ketahanan mental murid SMK N 10 Semarang, dimana guru diingatkan bagaimana sejatinya masalah-masalah murid dan cara yang baik menangani murid yang bermasalah secara mental. Lebih lanjut, semua guru akan siap memberikan pendampingan penyelesaian masalah-masalah murid. Harapan lebih lanjut, tidak hanya di SMK N 10 saja guru bisa memberi pendampingan ,tapi juga di lingkungan masyarakat sekitar.
Kegiatan yang ‘mencerahkan’, dan menumbuhkan kesadaran pentingnya kesehatan mental pendidik sebelum ‘mendidik’ anak didiknya.
Kegiatan yang luar biasa, bagus banget. Ini merupakan kegiatan untuk membekali diri kita sebagai Pendidik tentang pemahaman pentingnya pengelolaan emosi dalam interaksi sehari-hari dengan siswa, dimana kesehatan mental guru adalah prasyarat utama terciptanya lingkungan belajar yang aman dan suportif. SMK N 10 Semarang TOP banget
Beri Komentar