SEMARANG-Kurikulum Kewirausahaan yang digagas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah terus didorong implementasinya di satuan pendidikan, khususnya jenjang pendidikan menengah dan kejuruan. Kurikulum ini merupakan bagian dari panduan penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dengan tujuan menanamkan nilai-nilai serta keterampilan kewirausahaan kepada peserta didik agar siap menghadapi tantangan dunia kerja dan dunia usaha.
Kurikulum kewirausahaan dirancang tidak semata-mata menekankan aspek pengetahuan teoretis, tetapi juga pembentukan sikap dan keterampilan praktis yang relevan dengan potensi lokal. Salah satu ciri khas implementasinya adalah fleksibilitas pelaksanaan, di mana kurikulum ini dapat dimasukkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler dan dilaksanakan di luar jam pelajaran inti, sepanjang tetap didokumentasikan dengan baik sebagai bagian dari proses pembelajaran formal.
Tujuan utama dari kurikulum ini adalah mendorong peserta didik mengembangkan potensi kreatif, inovatif, dan produktif sehingga mampu menciptakan produk bernilai ekonomi serta membuka peluang usaha secara mandiri. Dalam pelaksanaannya, kurikulum kewirausahaan juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Koperasi dan UMKM hingga dunia usaha dan dunia industri, guna memastikan kesesuaian antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan pasar.
Dalam rangka mewujudkan implementasi kurikulum kewirausahaan tersebut, SMK Negeri 10 Semarang menerima kunjungan pengawas pembina, Dr. Ahlis Qoidah Noor, M.Pd, pada Senin, 5 Januari 2026. Kegiatan tersebut berlangsung dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, serta para Ketua Kompetensi Keahlian di lingkungan SMK Negeri 10 Semarang.
Dalam arahannya, Ahlis menjelaskan bahwa kurikulum yang dikembangkan menekankan pada produktivitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi. “Kurikulum Kewirausahaan Produktif, Inovatif, dan Berbasis Teknologi dirancang sebagai kurikulum yang mendorong peserta didik untuk menghasilkan produk nyata, memiliki daya inovasi, serta memanfaatkan perkembangan teknologi sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri,” ujar Ahlis.
Ia menegaskan bahwa kewirausahaan dalam konteks ini tidak diposisikan hanya sebagai mata pelajaran semata, melainkan sebagai sebuah ekosistem pembelajaran. “Kurikulum ini menempatkan kewirausahaan bukan hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai ekosistem pembelajaran yang menumbuhkan karakter mandiri, kreatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ahlis menjelaskan bahwa kurikulum kewirausahaan disusun agar bersesuaian dengan kompetensi keahlian pada masing-masing program studi. Setiap produk yang dihasilkan peserta didik harus relevan dengan bidang keahlian yang dipelajari, sehingga kompetensi kejuruan dan jiwa kewirausahaan dapat tumbuh secara selaras. “Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu membaca peluang usaha di bidang keahliannya masing-masing,” jelasnya.
Salah satu prinsip utama yang diusung dalam kurikulum tersebut adalah satu produk dalam satu semester. Selama enam semester masa belajar di SMK, peserta didik ditargetkan mampu menghasilkan enam produk kewirausahaan yang berbeda dengan tingkat kompleksitas yang berjenjang. Produk tersebut dapat berupa barang maupun jasa, baik dalam bentuk fisik maupun digital, yang dirancang, diproduksi, dipasarkan, dan dievaluasi secara sistematis.
Kurikulum ini diberi nama “Kurikulum Kewirausahaan Berbasis Produk dan Industri”, yang menegaskan orientasinya pada hasil karya nyata serta keterkaitannya dengan dunia industri. Tujuan akhirnya adalah membentuk lulusan yang memiliki kompetensi kewirausahaan, mampu menyebutkan, menjelaskan, dan mempresentasikan produk yang dihasilkan, sekaligus memahami proses bisnis dari hulu hingga hilir.
Ahlis juga menyampaikan bahwa Capaian Pembelajaran dalam kurikulum ini disusun melalui kerja sama dengan KIK dan Normada. Kolaborasi tersebut bertujuan agar standar kompetensi, materi, dan asesmen selaras dengan kebutuhan industri serta perkembangan kewirausahaan terkini. “Kerja sama ini memastikan produk yang dihasilkan peserta didik memiliki nilai jual, kualitas, dan relevansi pasar,” ungkapnya.
Dari sisi implementasi, strategi pelaksanaan kurikulum kewirausahaan dapat dilakukan secara ko-kurikuler maupun intra-kurikuler. Pembelajaran diperluas melalui penyusunan modul ajar kewirausahaan yang terintegrasi dengan mata pelajaran produktif. Produk yang dihasilkan peserta didik akan ditampilkan melalui display produk di lingkungan sekolah sebagai sarana pembelajaran, apresiasi, dan promosi. Selain itu, sekolah juga didorong untuk menyelenggarakan pameran produk pada saat class meeting atau jam efektif tertentu, serta membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dan mitra industri.
Pelaksanaan kurikulum ini mencapai puncaknya di kelas XII, di mana peserta didik yang memenuhi kriteria akan memperoleh sertifikat kewirausahaan sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi yang telah dicapai. Sertifikat tersebut diharapkan menjadi nilai tambah bagi lulusan, baik untuk memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun berwirausaha secara mandiri.
Evaluasi terhadap kurikulum kewirausahaan dilakukan setiap semester, meliputi evaluasi proses pembelajaran, kualitas produk, ketercapaian capaian pembelajaran, serta dampaknya terhadap sikap dan kompetensi peserta didik. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum agar tetap relevan, adaptif, dan berkelanjutan.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd, menyambut positif arahan dan pendampingan dari pengawas pembina tersebut. “Kami menyambut baik arahan dari pengawas pembina dan siap berdiskusi lebih lanjut terkait draft kurikulum kewirausahaan ini. Masing-masing jurusan akan memetakan jenis wirausaha yang akan dilaksanakan sesuai dengan kompetensi keahliannya,” ujarnya. Dengan langkah ini, SMK Negeri 10 Semarang optimistis dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menjadi wirausahawan muda yang berdaya saing.
Penulis : Suhermawan, S.Pd, Waka Kurikulum SMK Negeri 10 Semarang

“Kurikulum Kewirausahaan Berbasis Produk dan Industri”, yang orientasinya pada hasil karya nyata serta keterkaitannya dengan dunia industri di SMKN 10 Semarang semoga sukses.👍
Peserta didik SMK memang dibidik melahirkan murid yang mampu berwirausaha dengan kompetensi masing-masing yang relevan.
Mantaaabb’s….
Berkompetisi dalam menghasilkan produk adalah jiwa dan naluri proses pembelajaran pada SMK, Ayo semangat berkreatif sesuai kompetensinya masing masing ………. 💪💪💪
Jiwa wirausaha mulai ditanamkan dibangku sekolah agar setelah lulus murid mempunyai kompetensi tambahan sebagai bekal.di dunia kerja
Semoga dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menjadi wirausahawan yang tangguh. 👍🏻
Bismillah
Beri Komentar