SEMARANG-Workshop sesi kedua Strategic Session Kepala Sekolah SMK untuk Program SMK Go Global dilaksanakan hari ini, Kamis 04 Desember 2025, di Ballroom Hotel Tentrem Semarang mulai pukul 13.00 WIB. Kegiatan yang dihadiri ratusan kepala SMK dari berbagai daerah di Jawa Tengah ini menjadi forum penting untuk memperkuat strategi internasionalisasi pendidikan vokasi dan membuka wawasan baru mengenai peluang kerja lulusan SMK Indonesia di Jepang.
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Motoyuki Nishida, JICA Expert yang menjabat sebagai Advisor for Promotion of Accepting and Sending Foreign Human Resource pada Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia; Hendra, Ketua Asosiasi Standar Pelatihan Bahasa dan Kompetensi untuk Program Pemagangan ke Jepang sekaligus perwakilan APPI; serta Ainur Rojik, M.Eng., Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
Dalam paparannya, Motoyuki Nishida menegaskan bahwa kegiatan SMK Go Global yang telah diselenggarakan di Bandung, Makassar, dan Semarang pada 1, 3, dan 4 Desember 2025 ini bertujuan memperkuat peluang kerja lulusan SMK Indonesia di Jepang melalui skema yang legal, aman, dan sesuai kebutuhan industri. “Ada tiga hambatan utama yang membuat banyak warga Indonesia gagal bekerja di Jepang, yaitu kesulitan mengakses informasi yang benar, tidak memenuhi persyaratan teknis, dan terbentur biaya keberangkatan,” ujarnya.
Nishida kemudian menjelaskan ragam skema resmi bekerja di Jepang, mulai dari Technical Intern Training Program (TITP) dengan durasi 3–5 tahun, hingga skema Specified Skilled Worker (SSW) yang memungkinkan pekerja bertahan hingga 10 tahun di 16 sektor industri. “SSW membuka peluang besar bagi lulusan SMK Indonesia. Gajinya rata-rata ¥208.505 per bulan untuk lulusan SMA/SMK,” tutur Nishida. Ia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Jepang melalui ujian resmi seperti JLPT, JFT-Basic, J.TEST, atau NAT-TEST.
Sementara itu, Hendra dari APPI menyoroti kesiapan kompetensi para calon tenaga kerja Indonesia agar selaras dengan standar industri Jepang. Ia memaparkan bahwa per Desember 2024 terdapat 121.507 pekerja migran Indonesia di Jepang. “Kebutuhan Jepang hingga 2029 mencapai 820.000 pekerja terampil. Ini peluang besar, tetapi tidak bisa diambil jika lulusan kita belum siap pakai,” katanya. Menurutnya, calon tenaga kerja harus memenuhi kompetensi bahasa Jepang minimal N4, memahami budaya kerja Jepang, serta memiliki keterampilan teknis sesuai SKKNI.
Hendra juga menjelaskan alur penempatan tenaga kerja ke Jepang, mulai dari pendaftaran online, pelatihan bahasa dan budaya selama tiga bulan, validasi data, hingga keberangkatan setelah keluarnya Certificate of Eligibility. “Transparansi dan perlindungan peserta adalah komitmen kami. Visi kami jelas: Indonesian Qualified Workforce, Go Global,” tegasnya.
Dari perspektif kebijakan daerah, Ainur Rojik menegaskan bahwa transformasi SMK menuju standar global merupakan mandat yang harus diwujudkan bersama. Dengan jumlah 1.559 SMK di Jawa Tengah, ia menilai kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan. “Kepala sekolah bukan hanya manajer administratif, tetapi agen transformasi,” katanya.
Ainur menekankan delapan peran penting kepala sekolah, mulai dari penyelarasan kurikulum dengan industri global, peningkatan kompetensi guru, perluasan kerja sama internasional, hingga penguatan budaya sekolah yang profesional. “Kalau mau Go Global, maka standar kita juga harus global. Siswa harus memiliki minimal satu sertifikat kompetensi internasional sebelum lulus,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan 4C—critical thinking, communication, collaboration, dan creativity—serta literasi teknologi dan life skills dalam mempersiapkan lulusan menghadapi kompetisi global. “Jepang, Korea, hingga Jerman menuntut bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga etos kerja dan karakter,” tambahnya.
Workshop yang berlangsung interaktif ini memberikan gambaran komprehensif tentang peluang dan tantangan penempatan tenaga kerja Indonesia ke Jepang. Selain itu, kegiatan ini memperkuat komitmen pemerintah provinsi dan sekolah dalam mendukung Program SMK Go Global.
Pada akhir sesi, semua narasumber sepakat bahwa sinergi antara sekolah, pemerintah, lembaga pelatihan, dan industri menjadi kunci keberhasilan. Nishida menutup dengan pesan kuat, “Lulusan SMK Indonesia punya potensi besar. Dengan informasi yang benar, pelatihan yang tepat, dan komitmen kuat, mereka bisa berkarier dan bersaing di Jepang.”
Workshop di Hotel Tentrem ini diharapkan menjadi momentum bagi kepala sekolah SMK di Jawa Tengah untuk mempercepat transformasi menuju SMK berstandar global, memastikan lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu bersaing pada pasar tenaga kerja internasional.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar