SEMARANG-Upaya memperkuat keterserapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus dilakukan pemerintah daerah. Senin, 1 Desember 2025, pukul 09.30 WIB, Disnakertrans Kota Semarang bersama sejumlah kepala SMK dan pengawas Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I menggelar kegiatan review draft Memorandum of Understanding (MOU) di SMK LPI Semarang. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Pra-MOU antara beberapa SMK dan PT SAMI, sekaligus persiapan penandatanganan MOU resmi dalam waktu dekat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan Disnakertrans Kota Semarang, Sapto Cahyadi; pengawas Cabdin I Saiful Arifin, S.Pd., M.Pd. dan Refi Roes, S.PdI., M.Pd.; serta para kepala sekolah dari SMK Negeri 9, SMK Negeri 10, SMK LPI, SMK Dr. Cipto, SMK Cinde, SMK 10 Nopember, dan SMK Cut Nyak Dien. Pertemuan ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam mempersiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang profesional, mendukung program ketenagakerjaan nasional, dan mengurangi angka pengangguran di Kota Semarang.
Dalam kesempatan tersebut, Sapto Cahyadi dari Disnakertrans Kota Semarang menjelaskan berbagai persoalan yang menjadi penghambat utama lulusan SMK dalam memasuki dunia kerja. “Masalah terbesar yang sering dikeluhkan perusahaan adalah ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Kurikulum sekolah belum sepenuhnya sejalan dengan standar kompetensi dunia usaha,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kemampuan teknis dan soft skill peserta didik seperti disiplin, komunikasi, dan kerja tim masih perlu diperkuat.
Selain itu, Sapto menyoroti minimnya kolaborasi berkelanjutan antara SMK dan industri. “Sering kali hubungan sekolah dan perusahaan hanya sesaat. Padahal, program magang dan pelatihan yang relevan membutuhkan kerja sama yang intensif dan terstruktur,” jelasnya. Ia menekankan bahwa persoalan etos kerja lulusan juga menjadi perhatian perusahaan. “Banyak perusahaan mengeluhkan lulusan yang kurang disiplin atau mudah menyerah. Artinya, pembekalan karakter kerja harus diperkuat sejak di sekolah,” tambahnya.
Sapto juga mengungkapkan bahwa keterbatasan akses informasi lowongan turut memperburuk penyerapan lulusan SMK. Menurutnya, sistem Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah masih belum optimal. “Banyak lulusan belum tahu cara melamar kerja yang efektif atau bahkan tidak terdaftar di sistem ketenagakerjaan formal,” ujarnya.
Melalui MOU dengan PT SAMI, Disnakertrans Kota Semarang ingin menciptakan pola kerja sama yang lebih terstruktur antara sekolah dan industri. MOU ini diharapkan dapat membuka peluang pelatihan, rekrutmen, dan pendampingan karier yang lebih jelas bagi lulusan SMK.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang yang turut hadir memberikan apresiasi atas langkah proaktif Disnakertrans. Ia menyebutkan bahwa inisiatif kerja sama ini merupakan terobosan penting dalam memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. “Kami sangat mengapresiasi upaya Disnakertrans Kota Semarang. Perjanjian kerja sama antara sekolah dan PT SAMI merupakan langkah nyata dalam mengurangi pengangguran lulusan SMK. Ini bentuk sinergi yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, program tersebut bukan hanya memperluas peluang kerja, tetapi juga membantu sekolah menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. “Ketika industri terlibat langsung, sekolah bisa mendapatkan umpan balik yang tepat mengenai kompetensi yang dibutuhkan. Ini sangat membantu kami untuk mempersiapkan peserta didik agar lebih siap kerja,” tambahnya.
Kegiatan review draft MOU ini diharapkan memperkuat peran dunia usaha dalam pendidikan sekaligus mendorong lahirnya tenaga kerja profesional tingkat menengah. Dengan kolaborasi yang lebih erat, pemerintah berharap keterserapan lulusan SMK di Kota Semarang meningkat signifikan dan mampu menjawab kebutuhan industri secara berkelanjutan.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar