Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

BBPPMPV BMTI Gelar Webinar Model Pembelajaran Kreativitas, Inovasi, Kewirausahaan dan Pengembangan Proyek Early Warning System Berbasis IoT

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Cimahi-Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyelenggarakan Webinar Model Pembelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan serta Pengembangan Model Pembelajaran melalui Proyek Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things (IoT) pada Kamis, 27 November 2025, pukul 14.00–16.15 WIB melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Wandi Herpiandi, S.Pd., M.Si., Widyaiswara Ahli Madya, serta Heri Cahyadi S., S.ST., M.T., Widyaiswara Ahli Muda, dengan moderator Muhammad Shiddiq, S.PT., Pengolah Data dan Informasi BBPPMPV BMTI.

Webinar ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan SMK dalam merancang pembelajaran berbasis kreativitas, kewirausahaan, dan teknologi modern. Peserta berasal dari berbagai SMK dan instansi pendidikan vokasi di seluruh Indonesia. Menurut panitia, kegiatan ini menjadi penting karena perkembangan industri dan teknologi menuntut lulusan SMK yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. “Kami ingin memberikan ruang bagi pendidik untuk memperbarui pendekatan pembelajaran agar sesuai kebutuhan zaman,” ujar moderator Muhammad Shiddiq dalam sesi pembukaan.

Narasumber pertama, Wandi Herpiandi, memaparkan konsep dasar dan paradigma kewirausahaan yang harus dikuatkan di SMK. Ia menjelaskan bahwa kewirausahaan memiliki dua peran penting dalam pendidikan vokasi. “Pertama, sebagai tujuan pendidikan untuk mempersiapkan siswa bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha. Kedua, sebagai pemberdayaan aset melalui pemanfaatan potensi lokal dan kreativitas siswa,” jelas Wandi. Ia menegaskan bahwa Mata Pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK) bukan sekadar mengajarkan cara membuat produk, melainkan menanamkan pola pikir holistik, terbuka, inovatif, dan solutif.

Lebih jauh, Wandi menguraikan bahwa pembelajaran KIK harus berpusat pada siswa dengan prinsip mindful, meaningful, dan joyful. Ia memperkenalkan berbagai model pembelajaran seperti Design Thinking, Project Based Learning, Problem Based Learning, dan Collaborative Learning yang dapat diadaptasi guru sesuai konteks. “Yang terpenting, siswa diberi ruang untuk bereksplorasi, berkreasi, dan mengembangkan ide yang relevan dengan kebutuhan lingkungan mereka,” katanya. Ia juga memaparkan contoh proyek yang dapat dibuat siswa SMK, mulai dari modifikasi kendaraan, pemanfaatan bahan bekas, instalasi smart home, hingga jasa perawatan instalasi listrik gedung. Menurutnya, aspek peluang usaha, pemasaran, HAKI, hingga layanan purna jual harus menjadi bagian integral dalam proses belajar.

Sesi berikutnya dipaparkan oleh Heri Cahyadi S., yang memperkenalkan Model Pembelajaran D.E.E.P (Discovery–Exploration–Execution–Presentation). Model ini dikembangkan BBPPMPV BMTI khusus untuk proyek berbasis Elektronika dan IoT, termasuk implementasi sistem Early Warning System di lingkungan SMK. “Model D.E.E.P kami rancang untuk membantu guru menerapkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi benar-benar kontekstual dan menyentuh persoalan nyata di lapangan,” ujar Heri.

Ia menjelaskan empat tahap utama dalam model tersebut, mulai dari Discovery yang berfokus pada identifikasi masalah di lingkungan sekitar, Exploration yang menekankan perancangan solusi seperti diagram blok dan simulasi, Execution untuk perakitan perangkat keras dan pemrograman mikrokontroler, hingga Presentation yang mengajak siswa menyusun laporan dan mempresentasikan hasil proyek. Heri menegaskan bahwa model ini juga mendorong siswa bekerja kolaboratif, berpikir kritis, serta terbiasa dengan teknologi Industri 4.0. “Proyek yang mereka hasilkan bahkan dapat dikembangkan menjadi produk usaha nyata, seperti EWS kebakaran, banjir, atau gas berbahaya,” tambahnya.

Menurut Heri, model D.E.E.P sangat mudah diintegrasikan dengan rancangan Inovasi Pembelajaran (Inobel) dan Projek Kreatif Kewirausahaan (PKK). Kolaborasi keduanya memungkinkan siswa menciptakan produk berbasis teknologi yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial. “Kita ingin siswa tidak hanya mampu membuat sesuatu yang canggih, tetapi juga bermanfaat dan bernilai jual,” tuturnya.

Webinar ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar implementasi projek, pemilihan komponen IoT, hingga strategi mengembangkan unit usaha siswa. Panitia menyampaikan bahwa materi webinar akan disebarkan kepada peserta dan kegiatan serupa akan terus digelar untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di SMK. Dengan berlangsungnya webinar ini, BBPPMPV BMTI berharap para pendidik mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan industri serta masa depan dunia kerja.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar