Semarang-Museum Ronggowarsito Semarang menjadi pusat perhatian dunia pendidikan Jawa Tengah pada Kamis pagi, 20 November 2025, ketika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah menggelar Talk Show Hari Guru Nasional 2025 bertema “Guru Keren Berintegritas Menuju GTK Hebat, Indonesia Kuat”. Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB dan disiarkan melalui live streaming ini menghadirkan ratusan peserta, termasuk guru, kepala sekolah, pengawas, serta pemerhati pendidikan dari berbagai daerah.
Talk show menghadirkan tiga narasumber utama: Kepala Disdikbud Jawa Tengah Dr. Sadimin, S.Pd., S.IP., M.Eng.; Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Dr. Andes H. Joko Wiono, M.Si.; dan praktisi pendidikan sekaligus Founder TPC Corporation Semarang, Edi Darmono, S.Pd., M.T. Ketiganya membahas tantangan baru dunia pendidikan sekaligus menegaskan kembali peran strategis guru dalam membangun generasi Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutan pembuka, Dr. Sadimin mengapresiasi seluruh tamu undangan yang hadir. Ia menekankan bahwa guru keren bukan sekadar soal gaya, tetapi menyangkut kualitas personal dan profesional. “Guru keren itu bukan soal penampilan, tetapi tentang kompetensi, integritas, dan dampak nyata bagi siswa,” ujarnya. Ia kemudian memaparkan akronim KEREN, yang menjadi roh tema utama peringatan HGN tahun ini: Kreatif, Empatik, Reflektif, Elaboratif, dan Nasionalis.
Sadimin juga menggarisbawahi pentingnya integritas dalam profesi guru. “Integritas itu sederhana: ucapan dan tindakan harus selaras,” tegasnya. Ia juga mengumumkan penandatanganan MoU Sekolah Berintegritas antara Disdikbud Jawa Tengah dan KOMPAK API sebagai komitmen bersama membangun budaya pendidikan yang jujur, terbuka, dan berkarakter. “Kami berharap seluruh ekosistem pendidikan — guru, kepala sekolah, pengawas hingga kepala dinas — menjadi panutan integritas,” tambahnya.
Memperkuat diskusi, Dr. Andes H. Joko Wiono dari Banyumas memaparkan tantangan dunia pendidikan di era teknosfer, ketika teknologi menguasai banyak aspek kehidupan. Menurutnya, guru kini harus berani hadir lebih dekat dengan siswa dan menjawab perubahan karakter remaja masa kini. “Teknologi membuat anak-anak cenderung mager, kurang interaksi sosial, dan semakin individualis. Guru harus menjadi penggerak yang membangun kembali ikatan sosial di kelas,” tuturnya.
Ia kemudian menjelaskan berbagai inovasi yang dilakukan Dinas Pendidikan Banyumas, termasuk Ngopi Cantik Bersama Bang Jack sebagai forum curhat guru, wajib Pramuka untuk menekan kenakalan remaja, layanan Bekalku di HP untuk sinergi dengan aparat hukum, serta kebijakan outing class yang diizinkan secara selektif. Capaian Banyumas dalam PMM yang naik dari peringkat 33 ke peringkat 1 Jawa Tengah menjadi bukti konkret transformasi tersebut. “Guru itu aktor utama pembelajaran. Tidak cukup absen digital—hadir tepat waktu di kelas adalah kuncinya,” tegasnya.
Sementara itu, Edi Darmono membawa perspektif humanistik melalui konsep Genetic Teaching dan Quantum Teaching. Ia mengajak guru memahami potensi setiap anak secara mendalam. “Setiap siswa itu resourceful. Tugas kitalah membangkitkan potensinya,” ungkapnya. Ia memperkenalkan lima kata kunci untuk memantik semangat belajar: buktikan, pikirkan gimana caranya, bayangkan, rasakan dengan hatimu, dan ayo cepat kerjakan.
Dalam paparannya, Edi juga mengingatkan pentingnya kesehatan mental guru. “Mengajar adalah panggilan menuju kemuliaan. Guru harus mengelola emosi, menjaga energi, dan hadir sebagai mentor seumur hidup, bukan hanya pengajar di kelas,” ujarnya. Dengan generasi yang kini hyper-connected, guru menurutnya harus menjadi figur yang dipercaya siswa.
Ketiga narasumber sepakat bahwa guru masa depan harus berkompeten, berintegritas, dan berdampak nyata. Adaptasi teknologi, pendekatan humanistik, kolaborasi, serta komitmen menjadi teladan menjadi kunci membangun kekuatan pendidikan Indonesia di masa depan.
Salah satu peserta, Sofiatul Nadziyah dari SMK Negeri 10 Semarang, mengungkapkan kesannya setelah mengikuti talk show tersebut. “Banyak hal baru yang saya dapatkan dari acara ini. Sebagai guru, saya siap belajar dan memberikan layanan terbaik bagi siswa,” ujarnya.
Talk Show Hari Guru Nasional 2025 ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen bagi seluruh pendidik Jawa Tengah. Melalui pesan para narasumber, guru diingatkan kembali pada esensi profesinya: membangun manusia dengan ilmu, hati, dan integritas.
Penulis : Dini Riyani, Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar