Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Seminar Internasional Deep Learning Dorong Transformasi Pembelajaran di Indonesia

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SURAKARTA-Seminar internasional tentang Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diselenggarakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Tengah menghadirkan pemikiran baru mengenai arah transformasi pendidikan Indonesia. Kegiatan berlangsung di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (20/11/2025), dengan menghadirkan dua narasumber utama: Dr. Rahmadi Widiharto, Direktur Guru Pendidikan Dasar Kemendikbudristek, dan konsultan pendidikan asal Australia, Robert Randle.

Dalam paparannya, Dr. Rahmadi menegaskan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, tetapi sebuah pendekatan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. “Pembelajaran mendalam itu bukan sekadar mengganti dokumen kurikulum. Ia adalah cara baru melihat belajar yang lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” ujarnya di hadapan ratusan pendidik yang hadir. Menurutnya, keberhasilan deep learning terlihat ketika siswa mampu menerapkan pengetahuan dalam konteks baru (transfer of learning), bukan berhenti pada hafalan.

Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Pengetahuan tidak lagi cukup jika tidak disertai kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berinovasi. “Kita stagnan terlalu lama. Hasil PISA menunjukkan kita tak banyak bergerak dalam puluhan tahun. Pembelajaran mendalam adalah jawaban agar belajar lebih relevan dengan zaman,” tegas Rahmadi.

Di sisi lain, Robert Randle menekankan bahwa perbaikan kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh praktik mengajar di kelas. “Guru adalah jantung perubahan. Fokusnya bukan menambah aturan, tetapi meningkatkan kualitas mengajar,” katanya. Ia menambahkan bahwa perubahan pendidikan membutuhkan waktu lima hingga tujuh tahun untuk menunjukkan dampak nyata. “Hadiah terbesar dari proses itu adalah saat melihat siswa tersenyum karena merasa belajar itu bermakna,” ujarnya.

Rahmadi juga memaparkan hasil riset internasional seperti TIMSS dan World Bank mengenai tipologi guru di Indonesia. Ia menyebut ada tiga tipe utama: transmissionist yang berpusat pada guru; connectionist yang mendorong kolaborasi dan belajar aktif; serta guru fleksibel yang mampu menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan siswa. Tipe terakhir inilah yang terbukti memberikan hasil belajar terbaik. “Budaya kelas kita positif, tetapi dukungan sosial-emosional dan kualitas instruksi perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Para narasumber sepakat bahwa peran guru dan kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan pembelajaran mendalam. Guru bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator yang menyalakan proses berpikir siswa. Sementara kepala sekolah memegang peran sebagai agen perubahan yang menciptakan budaya belajar di sekolah. “Kualitas pembelajaran bukan ditentukan lama pengalaman, tetapi kualitas praktik mengajar,” kata Rahmadi.

Dalam sesi strategi implementasi, peserta mendapatkan penekanan bahwa perubahan harus dilakukan secara realistis dan bertahap. Sekolah didorong membangun pemahaman bersama tentang esensi pembelajaran mendalam, menerapkan praktik mengajar yang berbasis bukti, melibatkan semua pemangku kepentingan, serta merayakan setiap kemajuan kecil. Randle menekankan bahwa tidak diperlukan hukuman bagi guru yang resisten. “Yang kita perlukan adalah pendampingan. Beri mereka ruang untuk memahami manfaat perubahan dan bergerak bersama,” tuturnya.

Sebagai penutup, Rahmadi mengingatkan bahwa pembelajaran mendalam hadir sebagai refleksi atas stagnasi pembelajaran nasional. “Deep learning adalah upaya menjadikan pendidikan lebih manusiawi dan relevan,” katanya. Sementara Randle mengajak para guru terus memperbaiki kualitas pengajaran dengan komitmen jangka panjang. “Transformasi itu proses, bukan acara sehari. Tapi hasilnya selalu layak diperjuangkan,” ujarnya.

Seminar internasional ini menjadi salah satu momentum penting bagi pendidik Indonesia untuk memperkuat strategi pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan masa depan, sekaligus memastikan bahwa setiap siswa mengalami proses belajar yang bermakna dan berkelanjutan.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar