SEMARANG-SMA Pangudi Luhur Don Bosko Semarang melaksanakan In House Training (IHT) bertema Pembelajaran Lintas Mata Pelajaran pada Kokurikuler pada Jumat, 14 November 2025. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut menghadirkan Ardan Sirodjuddin, M.Pd., Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Provinsi Jawa Tengah sekaligus Kepala SMK Negeri 10 Semarang, sebagai narasumber utama. IHT ini diikuti oleh seluruh guru SMA PL Don Bosko sebagai langkah penguatan pemahaman dan keterampilan merancang kegiatan kokurikuler yang kolaboratif dan berdampak bagi peserta didik.
Kegiatan dibuka oleh Kepala SMA Pangudi Luhur Don Bosko, Heni Widiastuti, M.M., M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran narasumber. “Kami berterima kasih kepada Bapak Ardan yang sudah berkenan hadir dan berbagi wawasan. Saya mengajak seluruh Bapak Ibu Guru untuk membuka diri dan belajar bersama agar layanan pembelajaran yang kita berikan semakin berkualitas bagi anak-anak,” ujar Heni. Ia menegaskan bahwa penguatan kokurikuler merupakan kebutuhan penting agar pendidikan karakter dan kompetensi peserta didik dapat berkembang optimal sesuai tuntutan kurikulum dan tantangan zaman.
Dalam paparan interaktifnya, Ardan menjelaskan pengertian kokurikuler sebagai kegiatan edukatif yang bertujuan memperkuat, mendalami, atau memperkaya intrakurikuler. Menurutnya, kokurikuler berfungsi untuk memastikan tercapainya Delapan Dimensi Profil Lulusan (8 DPL) melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna. “Kokurikuler bukan sekadar tambahan, tetapi ruang bagi peserta didik untuk mengalami pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter secara utuh,” jelas Ardan.
Ardan memaparkan bahwa kokurikuler memiliki sifat fleksibel dan kontekstual sehingga dapat memanfaatkan kegiatan yang sudah ada atau dirancang baru sesuai kebutuhan sekolah. Ia mencontohkan bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema. Selain itu, ia juga menyinggung Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai salah satu program yang dapat memperkuat pembiasaan positif, mulai dari bangun pagi, berdoa, berolahraga, hingga memiliki kebiasaan belajar dan berkontribusi dalam masyarakat.
Dalam sesi lanjutan, Ardan menguraikan kriteria kokurikuler yang baik, mencakup relevansi dengan 8 DPL, kesesuaian konteks sosial budaya, serta perencanaan rinci yang memuat tujuan, langkah pelaksanaan, dan asesmen. Ia menegaskan pentingnya kerangka kuat yang terdiri dari praktik pedagogis aktif, lingkungan inklusif, kemitraan dengan keluarga dan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi. “Kuncinya adalah membuat pembelajaran lebih hidup dan lebih dekat dengan realitas peserta didik,” tuturnya.
Sesi perencanaan menjadi bagian paling dinamis, ketika Ardan mengajak guru menyusun rancangan kegiatan kokurikuler mulai dari tahap memahami–mengaplikasi–merefleksi, hingga asesmen formatif dan sumatif. Ia mengingatkan bahwa hasil pelaksanaan kokurikuler harus dilaporkan dalam kolom khusus pada rapor melalui deskripsi capaian 8 DPL. “Deskripsi rapor harus menggambarkan kekuatan peserta didik sekaligus area yang masih perlu penguatan tanpa memberi label negatif,” kata Ardan. Ia menutup paparan dengan komitmen untuk terus mendampingi guru melalui grup WhatsApp IHT.
Pada sesi ini, para guru juga diajak memahami karakteristik murid melalui teori Multiple Intelligences. Salah satu guru SMA PL Don Bosko, Anna Sri Palupi, mengungkapkan kembali pesan narasumber mengenai keberagaman gaya belajar murid. “Ardan mengingatkan bahwa setiap anak itu unik. Mereka punya gaya belajar visual, audio, audio-visual, atau kinestetik, dan guru harus mampu menyesuaikan pembelajaran agar semua terlayani,” ujar Anna. Ia menambahkan bahwa Ardan bercerita pengalaman siswa yang bergaya belajar kinestetik dan sempat ditegur guru karena berjalan-jalan ketika berhitung. “Itu contoh bahwa guru perlu memahami bagaimana murid menyerap informasi,” tambahnya.
Tidak hanya membahas perancangan kokurikuler, Ardan juga memberi motivasi kepada para guru untuk lebih gemar menulis. Menurutnya, menulis merupakan sarana refleksi, pengembangan profesional, dan penguatan wawasan pendidik. “Kalau guru bisa membuat skripsi ratusan halaman, mestinya menulis dua atau tiga halaman itu bisa. Yang sering jadi kendala adalah kemauan memulai,” tegasnya. Ia mengibaratkan proses menulis seperti pendakian gunung; meski melelahkan, puncak keindahan yang dicapai akan membayar seluruh usaha. Ardan bahkan mengaku tidak segan menegur guru-guru di sekolahnya yang enggan menulis sebagai bagian dari pengembangan diri.
Selama pelaksanaan IHT, banyak peserta mengajukan pertanyaan, terutama tentang penyusunan asesmen dan integrasi nilai karakter dalam pembelajaran lintas mapel. Para guru juga mendapat kesempatan mempraktikkan penyusunan rencana kokurikuler secara langsung dalam diskusi kelompok. Anna mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan tersebut. “IHT kali ini memberi banyak pencerahan. Penjelasan narasumber sangat konkret dan aplikatif, sehingga kami bisa langsung memahami bagaimana menerapkan kokurikuler di kelas,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung selama beberapa jam tersebut diharapkan dapat memperkuat implementasi pembelajaran lintas mata pelajaran di SMA Pangudi Luhur Don Bosko. Pihak sekolah menargetkan agar kegiatan kokurikuler lebih terarah, menyenangkan, dan berdampak bagi peserta didik. Selain itu, IHT ini menjadi langkah strategis dalam mengokohkan komitmen sekolah menghadirkan pendidikan yang relevan, bermakna, dan berorientasi pada pengembangan profil lulusan secara menyeluruh. Dengan demikian, sekolah berharap seluruh guru dapat berkolaborasi lebih erat dan konsisten menerapkan pembelajaran yang kreatif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.






Users Today : 769
Users Yesterday : 1122
This Month : 769
This Year : 45248
Total Users : 696330
Views Today : 1939
Total views : 3707106
Who's Online : 40





Beri Komentar