SMK Negeri 10 Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggelar In House Training (IHT) bertema Multiple Intelligence pada Selasa, 11 November 2025. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB di ruang Baita Adiguna dan diikuti oleh seluruh guru sebagai upaya memperkuat kapabilitas pendidik dalam memahami pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk. Pelaksanaan IHT ini menjadi langkah strategis sekolah dalam mempersiapkan guru menghadapi tantangan pembelajaran modern yang semakin menuntut kreativitas, diferensiasi, dan pemahaman mendalam terhadap potensi peserta didik.
Dalam sambutan pembukaan, Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd., menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi guru. Ia menyebutkan bahwa guru memiliki peran fundamental dalam keberhasilan proses pembelajaran. “Guru adalah garda terdepan pembelajaran di sekolah. Untuk itu peningkatan kapabilitas guru sangat penting,” ujarnya. Ardan juga menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memperdalam pemahaman guru terhadap konsep Multiple Intelligence agar mampu menerapkannya dalam praktik pembelajaran. “Ke depan, SMK Negeri 10 Semarang akan menggabungkan Multiple Intelligence dan pembelajaran mendalam terpadu yang akan kita laksanakan bersama,” tambahnya optimistis.
IHT kali ini menghadirkan narasumber berpengalaman, Drs. Suratno, MM.GCP., atau yang dikenal dengan nama Ratno Ohara. Dalam pemaparannya, Suratno menguraikan secara rinci teori dasar kecerdasan majemuk yang dikembangkan oleh Howard Gardner. Ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki beragam kecerdasan yang perlu diidentifikasi dan dikembangkan. Menurutnya, kecerdasan linguistik, logis-matematis, spasial, dan kinestetik-jasmani merupakan empat kecerdasan utama yang sering tampak dalam dunia pendidikan. “Pada dasarnya setiap siswa memiliki kombinasi kecerdasan yang berbeda-beda. Guru harus mampu memahami dan menyesuaikan metode pembelajaran agar semua potensi itu bisa tumbuh,” jelasnya.
Selain kecerdasan dasar tersebut, Suratno juga membahas kecerdasan musikal, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis sebagai lanjutan jenis kecerdasan yang tidak boleh diabaikan dalam proses pembelajaran holistik. Kecerdasan musikal, misalnya, menunjukkan kemampuan siswa memahami irama, nada, dan melodi. Sedangkan kecerdasan intrapersonal berkaitan dengan kemampuan memahami diri sendiri secara mendalam. “Kecerdasan interpersonal sangat penting untuk siswa yang mudah berkomunikasi dan suka bekerja sama, sementara kecerdasan naturalis banyak ditemukan pada siswa yang cinta alam,” papar Suratno.
Narasumber juga menekankan bahwa penerapan Multiple Intelligence dalam pembelajaran membawa banyak manfaat. Konsep ini mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam, meningkatkan motivasi, mengembangkan bakat, dan pada akhirnya meningkatkan hasil belajar. Untuk itu, guru perlu mengidentifikasi kecerdasan dominan pada siswa, merancang aktivitas sesuai karakteristik kecerdasan tersebut, dan menggunakan media yang mendukung proses pembelajaran. “Gunakan teknik bertanya yang memicu berbagai kecerdasan, agar proses belajar tidak monoton dan siswa merasa dihargai potensinya,” saran Suratno kepada peserta IHT.
Dalam sesi akhir, Suratno memberikan strategi praktis pembelajaran berdasarkan jenis kecerdasan. Untuk siswa visual-spasial, guru dianjurkan menggunakan gambar, peta konsep, warna, video, dan diagram. Sementara bagi pembelajar auditori, pendekatan ceramah, diskusi, musik, dan podcast lebih efektif. Untuk siswa kinestetik yang cenderung berpikir sambil bergerak, guru perlu memasukkan aktivitas fisik, simulasi, eksperimen, serta permainan peran sebagai bagian dari pembelajaran. Pendekatan ini memungkinkan guru menciptakan suasana belajar yang lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan.
Kegiatan IHT berakhir dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama yang menunjukkan antusiasme tinggi dari para guru. Mereka menyampaikan apresiasi atas materi yang diberikan karena sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran di SMK. IHT ini diharapkan menjadi pemicu semangat baru bagi guru SMK Negeri 10 Semarang dalam mengembangkan strategi mengajar yang lebih adaptif, kreatif, dan berbasis potensi siswa. Dengan pemahaman Multiple Intelligence, sekolah optimistis pembelajaran akan semakin berkualitas dan mampu menjawab tuntutan pendidikan abad 21.
Penulis : Hikma Nurul Izza, S.Pd, Waka Pengembangan SDM SMK Negeri 10 Semarang

Terimakasih atas ilmu yang dibagikan, Pak Suratno 🙏
Belajar kali ini sungguh terasa ‘berbeda’.
Multipel intelelegence pd diri seorang guru
Mantaaabb’s…….
Terimakasih pak Suratno atas ilmunya 🙏
Beri Komentar