Orang bisa meniru produk atau teknologi, tapi sulit meniru kualitas manusia dan budaya kerja yang kami bangun selama puluhan tahun. Kalimat itu meluncur tenang namun penuh makna dari Jahja Setiaatmadja, sosok yang dikenal sebagai nahkoda sukses PT Bank Central Asia Tbk (BCA) selama hampir dua dekade. Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan persaingan perbankan yang kian ketat, BCA bukan hanya bertahan—ia justru tumbuh menjadi bank paling profitabel di Indonesia sekaligus dikenal sebagai pabrik talenta di industri keuangan nasional. BCA hari ini bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan institusi yang menghasilkan insan-insan profesional dengan kualitas luar biasa. Banyak dari mereka kini menempati posisi strategis di berbagai bank besar dan perusahaan fintech terkemuka. Fenomena ini bukan kebetulan. Di balik reputasi itu berdiri filosofi kepemimpinan Jahja yang sederhana tapi kuat: manusia adalah aset paling berharga, dan budaya kerja unggul tidak bisa dibangun dalam semalam.
Gaya kepemimpinan Jahja dikenal visioner namun membumi. Ia tidak hanya fokus pada pertumbuhan laba, melainkan juga pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh. “Teknologi bisa dibeli, strategi bisa disalin, tapi manusia yang berintegritas dan terlatih hanya bisa dibentuk lewat proses panjang,” ujarnya dalam suatu kesempatan. Prinsip itu menjadi fondasi BCA dalam membangun ekosistem pembelajaran yang berkesinambungan bagi seluruh karyawannya. Transformasi BCA di bawah kepemimpinan Jahja bukan sekadar soal digitalisasi layanan atau peningkatan profitabilitas, tetapi perubahan paradigma: dari sekadar bank menjadi semacam “sekolah perbankan nasional.” Filosofi bahwa SDM adalah aset utama diwujudkan secara nyata dalam sistem pengembangan talenta yang terstruktur, modern, dan berkelanjutan. Tak heran, banyak alumni BCA kini menjadi pemimpin di bank-bank nasional, perusahaan asuransi, hingga start-up finansial yang sedang naik daun.
Kunci sukses itu terletak pada sistem pembelajaran BCA yang dirancang menyeluruh. Melalui BCA Learning Institute, setiap tahun lebih dari 200 program pelatihan digelar, mencakup technical skills, soft skills, hingga leadership development. Dari pegawai baru hingga calon pemimpin puncak, semua mendapat ruang untuk bertumbuh. Di tahap awal, proses onboarding di BCA terkenal ketat. Karyawan baru mengikuti pelatihan dasar selama satu hingga tiga bulan, yang mencakup simulasi kerja nyata, studi kasus, dan uji kompetensi. Tujuannya jelas: membentuk mindset dan perilaku kerja yang selaras dengan nilai-nilai BCA sejak hari pertama. Namun proses belajar tidak berhenti di situ. Budaya pembelajaran berkelanjutan menjadi DNA BCA. Setiap karyawan diwajibkan mengikuti pelatihan minimal lima hingga sepuluh hari per tahun, baik secara daring maupun tatap muka. Melalui sistem Individual Development Plan (IDP) dan performance appraisal yang terintegrasi, pengembangan setiap individu dipantau dan diarahkan sesuai potensi serta kebutuhan organisasi.
Untuk menyiapkan pemimpin masa depan, BCA juga memiliki program kepemimpinan bertahap yang dirancang secara sistematis. Jalur karier diatur dengan jelas, dan di setiap transisi jenjang terdapat program pembinaan khusus—dari supervisory program, managerial readiness, hingga executive leadership program. Dengan demikian, proses regenerasi kepemimpinan berjalan mulus tanpa kehilangan jati diri organisasi. BCA tidak berjalan sendiri dalam membangun kapasitas SDM-nya. Bank ini menjalin kemitraan global dengan lembaga pendidikan bergengsi seperti Harvard Business School, INSEAD, dan Singapore Institute of Management (SIM). Melalui kolaborasi tersebut, para eksekutif BCA mendapatkan paparan terhadap praktik terbaik di tingkat internasional. Selain itu, berbagai sertifikasi profesional seperti Credit Risk Professional (CRP) dan Certified Treasury Professional (CTP) menjadi standar kompetensi yang diakui secara global bagi insan BCA.
Investasi besar dalam pengembangan manusia ini membuahkan hasil nyata. Tingkat retensi karyawan BCA termasuk yang tertinggi di industri perbankan, mencerminkan kepuasan dan loyalitas yang kuat. Budaya kerja yang disiplin dan kolaboratif menghasilkan kualitas layanan yang konsisten unggul—sebuah keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi. Tidak heran, indeks kepuasan nasabah BCA terus berada di puncak, bahkan di tengah era digitalisasi yang menuntut kecepatan dan personalisasi layanan. Lebih jauh, dampak investasi SDM ini melampaui dinding kantor BCA. Banyak alumninya kini menjadi penggerak transformasi di industri keuangan Indonesia. Mereka membawa serta nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan semangat belajar yang telah terpatri kuat. Dengan kata lain, BCA tidak hanya mencetak bankir, tetapi juga menyiapkan pemimpin masa depan bangsa.
Dari BCA kita menukik ke SMK Negeri 10 Semarang. Bagaimana mengembangkan kapabilitas guru di SMK Negeri 10 Semarang? Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya memerlukan visi panjang, keberanian untuk berubah, dan sistem yang menopang. Di tengah tantangan dunia pendidikan kejuruan yang bergerak cepat, sekolah ini memilih jalan yang tidak biasa: membangun kekuatan dari dalam melalui penguatan kapabilitas guru secara sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Seperti halnya BCA yang menanamkan filosofi bahwa sumber daya manusia adalah aset utama, SMK Negeri 10 Semarang percaya bahwa guru adalah inti dari seluruh proses transformasi. Kepala sekolah menjadikan pengembangan guru bukan sekadar program tambahan, melainkan jantung dari perubahan itu sendiri. Fondasi dari transformasi itu lahir melalui komunitas belajar (KomBel). KomBel bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang eksplorasi di mana para guru berani bereksperimen, berbagi pengalaman, dan merefleksikan praktik mengajar mereka. Di dalamnya, guru menjadi pembelajar sejati—bukan karena diwajibkan, melainkan karena mereka ingin terus tumbuh. KomBel berfungsi sebagai ruang dialog reflektif, laboratorium metode pembelajaran, dan inkubator kepemimpinan pedagogis. Di ruang-ruang diskusi yang hidup ini, para guru belajar menumbuhkan growth mindset, rasa percaya diri, dan kepemilikan terhadap perubahan. Mereka saling menantang ide, mencoba pendekatan baru di kelas, lalu merefleksikannya bersama. Filosofi yang dulu hanya terdengar di dunia industri kini menemukan wujud nyata di dunia pendidikan: bahwa kualitas organisasi hanya bisa tumbuh jika manusia di dalamnya terus belajar.
Untuk menjaga agar semangat belajar itu tetap terarah, SMK Negeri 10 Semarang membangun empat pilar aksi dalam komunitas belajar mereka. Pilar pertama adalah Gerakan Guru Menulis. Di sini, refleksi menjadi kekuatan utama. Guru-guru dilatih menulis, bukan hanya untuk menuangkan pengalaman, tetapi juga untuk mendokumentasikan praktik baik dan membangun identitas profesional mereka. Melalui mentoring dan fasilitasi rutin, tulisan-tulisan guru dipublikasikan di Rubrik Guru Menulis di laman resmi sekolah. Dampaknya luar biasa—guru merasa dihargai, ide mereka menyebar ke sekolah lain, dan beberapa bahkan menjadi inspirasi guru lain. Pilar kedua adalah Menulis Buku: Dari Kelas ke Rak Perpustakaan. Artikel-artikel hasil refleksi para guru kemudian dihimpun menjadi buku nyata, diterbitkan dan disebarluaskan. Buku-buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi simbol perubahan paradigma: bahwa guru bukan hanya konsumen ilmu, melainkan produsen pengetahuan. Buku menjadi alat motivasi—baik bagi penulisnya sendiri maupun bagi rekan guru lainnya yang mulai percaya bahwa karya mereka bermakna.
Pilar ketiga lahir dari kepemimpinan yang inspiratif, yaitu Rubrik Catatan CEO SMK Negeri 10 Semarang. Dalam rubrik ini, kepala sekolah menulis secara rutin mengenai nilai-nilai sekolah, strategi pembelajaran, dan refleksi atas perjalanan organisasi. Posisi kepala sekolah tidak hanya sebagai manajer administratif, tetapi sebagai pemimpin pembelajaran yang menyalakan arah dan semangat timnya. Rubrik ini memperkuat budaya belajar dari atas ke bawah, di mana pimpinan memberi teladan bahwa refleksi dan pembelajaran adalah bagian dari tanggung jawab kepemimpinan. Pilar keempat adalah Program Guru Mengajar. Program ini mengubah guru dari sekadar peserta pelatihan menjadi narasumber yang berbagi keahlian. Di tahap awal, para guru mengajar di lingkungan internal sekolah; namun seiring waktu, mereka mulai tampil di forum eksternal, menjadi pembicara dalam seminar dan pelatihan di sekolah lain. Filosofinya sederhana: kompetensi tumbuh saat dibagikan. Ketika guru berani tampil dan berbagi, mereka tidak hanya menguatkan orang lain, tapi juga memperkaya diri sendiri.
Namun, SMK Negeri 10 Semarang tidak berhenti di dalam pagar sekolah. Seperti BCA yang menjalin kemitraan global untuk memperkuat kompetensi SDM-nya, sekolah ini membangun jembatan kolaborasi dengan dunia industri dan lembaga pelatihan profesional. Prinsipnya jelas: pendidikan kejuruan harus selaras dengan kebutuhan industri. Beragam mitra strategis terlibat, mulai dari BBPPMPV BMTI, KPTK, BOE, Seni Budaya dan BBGTK Jateng, hingga perusahaan. Bentuk kerja samanya mencakup magang guru di industri, workshop teknis, hingga sertifikasi kompetensi. Guru-guru yang kembali dari diklat dan magang membawa perspektif baru—mereka mengajarkan bukan lagi teori usang, tetapi pengalaman nyata yang langsung relevan bagi siswa.
Transformasi ini tidak berhenti di dalam ruang kelas. Filosofi utama SMK Negeri 10 Semarang adalah menyebar, bukan menutup diri. Sekolah ini sadar bahwa transformasi sejati adalah yang menular. Karena itu, mereka membuka diri sebagai destinasi studi tiru bagi sekolah dari seluruh Indonesia—dari SD hingga SMK. Melalui workshop, guru-guru luar diundang untuk belajar bersama, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai rekan sejawat. Guru-guru SMK Negeri 10 Semarang juga aktif menjadi narasumber eksternal, membawakan materi di sekolah-sekolah lain.
Perubahan besar ini berakar pada satu keyakinan sederhana: guru adalah kunci dari kualitas pendidikan. Ketika guru diberi ruang untuk tumbuh, mereka akan menciptakan kelas yang hidup, relevan, dan penuh makna. Investasi pada guru adalah investasi pada masa depan bangsa. SMK Negeri 10 Semarang telah membuktikan bahwa transformasi tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau dana besar. Yang dibutuhkan adalah niat, sistem yang mendukung, dan budaya belajar yang konsisten. Dari ruang refleksi kecil hingga jejaring kolaborasi nasional, sekolah ini telah menyalakan api perubahan yang menular. Dan seperti halnya BCA yang membangun kejayaan melalui kualitas manusianya, SMK Negeri 10 Semarang menunjukkan bahwa dunia pendidikan pun bisa menjadi “pabrik talenta”—untuk mencetak guru-guru pembelajar yang menyalakan masa depan bangsa.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang.

4 Pilar yang sudah dijalankan dan bisa menginspirasi sekolah lain dalam pengembangan ekosistem masing-masing
Mantaaabb’s…..
Growth mindset dalam diri Guru membuka peluang untuk kolaborasi yang sehat dalam lingkungan belajar yang bermanfaat untuk pengembangan diri
Semoga bisa menginspirasi dan mengembangkan inisiatif yang membangun SDM …..
Beri Komentar