Semarang — Suasana penuh semangat belajar terasa di ruang kelas SMA Daniel Creative Semarang, Rabu (30/9/2025) pagi. Tepat pukul 09.00 WIB, pelaksanaan Open Class Kelas F dalam rangka Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi guru SMA Kota Semarang resmi dimulai. Kegiatan ini menjadi ajang refleksi bersama bagi para pendidik untuk memperkaya wawasan dan memperkuat komitmen dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid.
Sebanyak empat sekolah berpartisipasi dalam Open Class kedua ini, yakni SMA Negeri 13 Semarang, SMA Negeri 16 Semarang, SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang, serta tuan rumah SMA Daniel Creative Semarang. Para guru dari berbagai sekolah tersebut hadir tidak hanya untuk mengamati, tetapi juga berdiskusi, berefleksi, dan berbagi pengalaman nyata dalam proses mengajar yang berkesadaran dan bermakna.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., yang turut menjadi fasilitator dalam pelatihan. Dalam keterangannya, Ardan menegaskan pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang hidup dan menggembirakan. “Guru harus menjadi pembelajar sejati. Dengan berbagi praktik baik dan terbuka terhadap refleksi, kualitas pendidikan kita akan terus meningkat. Open Class seperti ini adalah ruang tumbuh bersama, bukan sekadar ajang penilaian,” ujarnya.
Kepala SMA Daniel Creative Semarang, Rina Candrawati, M.Pd. dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang melihat praktik mengajar, melainkan juga tentang membangun kesadaran kolektif di kalangan guru. “Kita semua memiliki tujuan yang mulia, yaitu meningkatkan kesadaran dan komitmen untuk terus belajar dan dibentuk. Refleksi yang terus-menerus dan semangat ketulusan dalam mengajar akan berdampak besar bagi perkembangan murid-murid kita,” tutur Rina.
Dalam pelaksanaan Open Class kali ini, Putri Permatasari, guru Matematika SMA Daniel Creative, dipercaya sebagai guru model. Ia menampilkan pembelajaran dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) pada materi “Sistem Pertidaksamaan Linear Dua Variabel (SPtLDV)” untuk siswa kelas X semester ganjil. Dengan alokasi waktu dua kali 40 menit, Putri mengajak siswa untuk berpikir kritis melalui konteks nyata kehidupan sehari-hari.
Pada sesi awal, pembelajaran dibuka dengan salam, doa, dan pemantik berupa video tentang gizi seimbang. Pertanyaan sederhana namun bermakna dilontarkan: “Bagaimana hubungan antara makanan dan energi tubuh kita?” Pertanyaan ini menjadi jembatan menuju studi kasus utama, yakni permasalahan Andi yang ingin mengatur pola makan sehat dengan anggaran Rp50.000. Melalui kasus tersebut, siswa diajak mengidentifikasi variabel, menyusun pertidaksamaan linear, hingga menggambar grafik SPtLDV untuk menemukan solusi optimal.
Diskusi kelompok berjalan dinamis. Setiap kelompok beranggotakan empat hingga lima siswa bekerja sama untuk menyusun model matematika dari persoalan yang diberikan. Dengan bantuan digital tools seperti GeoGebra untuk visualisasi grafik dan Wayground untuk asesmen, pembelajaran terasa kontekstual sekaligus modern. “Kami ingin menunjukkan bahwa matematika tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang kehidupan nyata dan pengambilan keputusan,” jelas Putri setelah sesi selesai.
Selama proses pembelajaran, suasana kelas terasa hidup dan inklusif. Siswa terlihat antusias mempresentasikan hasil diskusinya, sementara rekan-rekan guru peserta Open Class memperhatikan dengan saksama setiap langkah pembelajaran. Pada bagian refleksi, siswa diajak merenungkan kembali pentingnya memperhitungkan kendala dalam kehidupan sehari-hari, baik dari segi kesehatan, anggaran, maupun efisiensi waktu.
Kegiatan Open Class ini juga menekankan pentingnya refleksi tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para guru peserta. Melalui sesi umpan balik di akhir kegiatan, peserta memberikan masukan terkait Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang digunakan oleh guru model. Beberapa guru menilai pendekatan kontekstual yang diterapkan sudah sangat baik, namun menyarankan adanya penyesuaian waktu agar eksplorasi siswa lebih maksimal.
“Masukan dari rekan-rekan guru menjadi bahan berharga bagi saya untuk terus memperbaiki RPP ke depannya. Pembelajaran adalah proses tanpa akhir, dan hari ini saya belajar banyak,” ujar Putri dengan senyum hangat.
Selain memperkuat profesionalisme guru, Open Class juga menjadi wadah kolaborasi lintas sekolah. Dalam pelaksanaan kali ini, guru-guru dari berbagai SMA dapat saling belajar tentang strategi pengajaran, integrasi teknologi, hingga penerapan nilai-nilai Dimensi Profil Lulusan seperti kemandirian, kesehatan, dan berpikir kritis.
Kegiatan yang dikembangkan dalam kerangka Pelatihan Pembelajaran Mendalam ini memiliki tujuan besar: membentuk growth mindset di kalangan guru. Melalui observasi langsung terhadap praktik mengajar, pengayaan wawasan, dan refleksi bersama, diharapkan muncul budaya berbagi dan kolaborasi antarguru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Kota Semarang.
Menutup kegiatan, Ardan Sirodjuddin memberikan apresiasi atas antusiasme para peserta. “Semangat belajar para guru hari ini adalah cermin dari komitmen luar biasa terhadap kemajuan pendidikan. Jika guru terus mau belajar, maka masa depan pendidikan kita akan cerah,” pungkasnya.
Dengan terselenggaranya Open Class Kelas F ini, SMA Daniel Creative Semarang kembali menegaskan posisinya sebagai sekolah yang progresif dan berorientasi pada inovasi pembelajaran. Semangat berbagi, refleksi, dan kolaborasi yang tumbuh di ruang kelas hari itu menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan perjalanan membentuk karakter, kesadaran, dan kebahagiaan belajar — baik bagi siswa maupun guru.
Penulis : Susanti, S.Pd, Guru Bahasa Inggris SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar