Dalam upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, Komunitas Belajar SMK Negeri 10 Semarang kembali menunjukkan komitmennya terhadap inovasi pendidikan. Pada 12 November 2025 mendatang, komunitas ini akan menggelar Pelatihan Multiple Intelligence (MI) dengan menghadirkan seorang expert yang berpengalaman dalam penerapan teori tersebut di dunia pendidikan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkaya wawasan guru dalam memahami potensi peserta didik secara lebih mendalam dan menyeluruh.
Multiple Intelligence atau kecerdasan jamak pertama kali diperkenalkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dari Harvard University. Ia berpendapat bahwa kecerdasan tidak dapat diukur hanya melalui kemampuan logika dan bahasa seperti yang selama ini menjadi tolok ukur utama pendidikan tradisional. Gardner mengidentifikasi sedikitnya delapan jenis kecerdasan manusia, di antaranya kecerdasan linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik, spasial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Dengan memahami variasi kecerdasan tersebut, guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih adaptif, menghargai keunikan setiap peserta didik, dan menciptakan suasana belajar yang inklusif.
Pelatihan ini dirancang bukan hanya untuk menambah pengetahuan teoretis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung bagi guru dalam merancang pembelajaran berbasis MI. Melalui simulasi, refleksi, dan coaching, para peserta akan diajak mengenali potensi diri sekaligus menggali cara mengintegrasikan kecerdasan jamak ke dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuannya agar pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan pada kebutuhan dan kekuatan unik setiap peserta didik.
Sebagai tindak lanjut, pada Januari 2026 SMK Negeri 10 Semarang akan mulai memadukan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dengan pendekatan Multiple Intelligence. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem belajar yang tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga pengembangan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran mendalam yang berpijak pada kekuatan kecerdasan jamak akan membantu peserta didik menemukan makna belajar yang sejati—belajar tidak sekadar untuk lulus, melainkan untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan berdaya.