Semarang – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar Seminar Nasional Festival Pajak bertema “Transformasi Sistem Perpajakan Menuju Regulasi yang Efektif dan Berkelanjutan di Era Ekonomi Digital”. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 24 September 2025 pukul 08.30 hingga 12.00 WIB di kampus setempat dan dihadiri lebih dari 200 peserta yang terdiri atas mahasiswa jurusan Akuntansi Syariah serta masyarakat umum.
Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo, Dr. H. Ahmad Furqon, Lc., M.A. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada panitia khususnya Jurusan Akuntansi Syariah yang telah menggagas kegiatan yang dinilai mampu meningkatkan literasi pajak di kalangan mahasiswa.
“Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia yang telah menyelenggarakan Festival Pajak. Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu mengembangkan kreativitas dengan menghadirkan diskusi yang bermanfaat tidak hanya bagi kampus tetapi juga bagi masyarakat,” ujar Ahmad Furqon.
Ia menekankan bahwa pajak memiliki peran vital dalam pembangunan nasional. “Lebih dari 80 persen pendapatan negara bersumber dari pajak. Karena itu, pajak harus berasas adil dan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Pajak juga berfungsi mendorong sektor ekonomi, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” jelasnya sembari secara resmi membuka kegiatan seminar.
Seminar menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidang perpajakan. Pemateri pertama, Liafatra Nur Laily, M.Acc, menyoroti hak dan kewajiban masyarakat dalam pajak serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan berbagai program pemerintah yang dibiayai dari pajak, seperti BPJS, Program Indonesia Pintar, sekolah gratis, Program Keluarga Harapan, hingga bantuan makan gratis.
“Pajak adalah sumber utama pendapatan negara dengan fungsi distribusi dan regulasi. Namun tantangan kita saat ini adalah rendahnya tax ratio di Indonesia yang hanya sekitar 10 persen, jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga yang rata-rata mencapai 15 hingga 18 persen. Hal ini diperparah dengan rendahnya kepercayaan masyarakat akibat kasus penyalahgunaan dana pajak oleh oknum pejabat,” tutur Liafatra.
Sementara itu, pemateri kedua, Aldion Soeprijono, S.Pd., S.H., M.Ak., Ak., CA., CGAA., BKP, menekankan peran strategis akuntan dalam mendukung basis pajak untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Ia menyebutkan akuntan berperan dalam menyusun kebijakan, mengidentifikasi risiko, serta menghadirkan solusi berbasis data.
“Di era digital, teknologi mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun perubahan perilaku wajib pajak dan sistem administrasi juga membawa tantangan tersendiri. Tingkat kepatuhan pajak masih rendah, baik dari sisi kesadaran maupun pengetahuan. Keterbatasan sumber daya manusia juga berpengaruh pada efektivitas administrasi perpajakan,” papar Aldion.
Ia menambahkan bahwa regulasi yang efektif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk mendongkrak pendapatan negara. “Tanpa regulasi yang tepat, negara akan kesulitan mencapai target penerimaan, apalagi menghadapi persaingan ekonomi digital yang makin ketat,” katanya.
Kegiatan ini mendapat antusiasme peserta, salah satunya Febti, guru SMK Negeri 10 Semarang. Ia mengaku seminar memberi banyak wawasan baru terkait urgensi pajak. “Saya jadi lebih memahami pentingnya kepatuhan pajak dan alasan pemerintah menaikkan tarif di beberapa sektor. Kesempatan berdiskusi langsung dengan narasumber juga membuka ruang untuk bertanya tentang persoalan yang sering dihadapi masyarakat,” ungkapnya.
Selain menyajikan materi seminar, acara juga menghasilkan rencana kerja sama antara UIN Walisongo Semarang dengan SMK Negeri 10 Semarang. Ketua Program Studi S1 Akuntansi Syariah, Warno, S.E., M.Si., menyebut kerja sama tersebut akan difokuskan pada pengembangan Tax Center yang bermitra dengan Direktorat Jenderal Pajak.
“Melalui MoU ini, kami ingin memperluas peran perguruan tinggi dalam mendukung literasi perpajakan di sekolah. Tax Center diharapkan bisa menjadi wadah pembelajaran dan konsultasi, sekaligus mendekatkan pajak pada masyarakat sejak dini,” kata Warno.
Dengan berakhirnya seminar nasional tersebut, para peserta pulang membawa pengetahuan baru mengenai strategi transformasi perpajakan. Panitia berharap Festival Pajak ini menjadi agenda rutin untuk memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya pajak sebagai instrumen pembangunan bangsa.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, S.Pd, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Alhamdulillah .semoga berrmanfaat
Hebat👍
Keren 🔥
Mantaaabb’s . . .
SMKN 10 Sekarang terus berkembang dengan banyak ilmu yang bermanfaat
Semoga dengaranya festival ini dapat memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya pajak sebagai instrumen pembangunan bangsa
Terbaik
The best
Alhamdulillah…
Mantab sekali…
Alhamdulillah .semoga berrmanfaat
Terbaik👍💯
Terbaik👍 josss
Mantaaap👍👍
Bermanfaat 👍
Joooss
Keren .
Maju terus SMK 10…
Program kerja sama yang bagus
SMKN 10 Semarang Jaya👍
Membuka sudut pandang baru terkait perpajakan di Indonesia. Semoga ilmu yang didapat bermanfaat. 👍
Mantap
Luar biasa 👍
Beri Komentar