Semarang – Upaya memperkuat pendidikan vokasi berbasis pembelajaran mendalam kembali digelorakan melalui kegiatan pendampingan On Job Training (OJT) yang digelar di SMK Negeri 6 Semarang, Kamis, 18 September 2025. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari program Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi Kepala Sekolah SMK Gelombang II dan Guru SMK Gelombang III di Jawa Tengah, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mengimplementasikan hasil pelatihan ke dalam satuan pendidikan.
Pembelajaran mendalam atau deep learning dianggap sebagai salah satu kunci dalam mempersiapkan lulusan SMK yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta berkarakter. Oleh sebab itu, kegiatan pendampingan OJT dipandang penting agar praktik baik dari pelatihan tidak berhenti sebatas teori, melainkan benar-benar terwujud dalam visi, misi, dan tujuan (VMT) sekolah serta strategi pembelajaran di kelas.
Pendampingan ini menghadirkan dua fasilitator berpengalaman, yakni Dr. Ahlis dan Maryati, MT. Keduanya mengarahkan jalannya kegiatan dengan pendekatan interaktif dan dialogis. Sejak pagi, ruang pertemuan SMKN 6 Semarang dipenuhi semangat kolaborasi, di mana para kepala sekolah dan guru peserta tampak antusias menyampaikan pemikiran sekaligus menyimak masukan dari fasilitator.
Rangkaian acara dimulai dengan sesi pemaparan Visi, Misi, dan Tujuan (VMT) masing-masing kepala sekolah. Pada sesi ini, para peserta berbagi proses perumusan VMT yang telah mereka susun pasca pelatihan. Diskusi berlangsung hangat, terutama ketika fasilitator mengaitkan relevansi VMT dengan prinsip pembelajaran mendalam serta kebutuhan pendidikan vokasi di era industri 4.0. “Visi dan misi sekolah tidak boleh hanya sebatas kalimat indah, tetapi harus menjadi arah yang memandu strategi nyata di kelas. Dengan demikian, siswa akan merasakan dampaknya secara langsung,” ujar Dr. Ahlis dalam salah satu penekanan materinya.
Sesi berikutnya berfokus pada pemaparan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah disepakati bersama fasilitator. RTL ini dipandang sebagai panduan praktis agar pembelajaran mendalam benar-benar terimplementasi di sekolah masing-masing. Dalam diskusi, Maryati menegaskan pentingnya RTL yang realistis dan aplikatif. “RTL harus bisa dijalankan, tidak muluk-muluk, tetapi relevan dengan kondisi sekolah. Dari RTL ini kita bisa menilai konsistensi dan keberlanjutan penerapan pembelajaran mendalam,” katanya.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memberikan ruang refleksi bagi para peserta. Salah satunya diungkapkan oleh Mohammad Yunan, guru SMK Negeri 10 Semarang, yang menyatakan bahwa kegiatan ini membuka cakrawala berpikirnya. “Saya merasa tercerahkan dan semakin terbuka wawasannya dalam menyusun visi, misi, dan tujuan sekolah. Kegiatan ini membantu saya melihat arah pengembangan sekolah dengan perspektif baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan,” ungkapnya saat dimintai tanggapan usai sesi diskusi.
Harapan besar pun muncul dari jalannya pendampingan ini. Para peserta berharap visi misi sekolah tidak hanya sekadar dokumen administratif, tetapi benar-benar kontekstual dan aplikatif sesuai tantangan zaman. Dengan pendampingan yang terarah, implementasi pembelajaran mendalam diyakini akan lebih konsisten dan memberi manfaat nyata bagi siswa. Dampaknya, pembelajaran di SMK diharapkan lebih bermakna, selaras dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus mampu menumbuhkan profil pelajar Pancasila yang mandiri, berintegritas, dan berdaya saing.
Peran OJT dianggap sangat vital sebagai penguat hasil pelatihan. Tanpa pendampingan, ada risiko bahwa pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan akan terhenti di ruang seminar. Melalui OJT, para kepala sekolah dan guru mendapat kesempatan untuk diuji, dikritisi, sekaligus diarahkan dalam mengadaptasi hasil pelatihan sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing.
Kegiatan ini ditutup dengan kesepakatan bersama bahwa setiap peserta harus membawa pulang hasil pendampingan untuk diimplementasikan, baik dalam konteks penyusunan dokumen sekolah maupun praktik pembelajaran. Semangat kolaborasi antara fasilitator, kepala sekolah, dan guru menjadi energi baru bagi upaya transformasi pendidikan vokasi di Jawa Tengah.
Pendampingan OJT di SMKN 6 Semarang ini membuktikan bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan langkah-langkah terukur, konsisten, dan kolaboratif. Dengan visi yang jelas, strategi yang terarah, dan semangat kebersamaan, pendidikan vokasi di Jawa Tengah diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang unggul dan siap bersaing di era global.
Penulis : Anis Indri Hastuti, S.Pd, Guru Matematika SMK Negeri 10 Semarang

Luar biasa. Semangat selalu SMK n 10 smg
Beri Komentar