SEMARANG – Pentingnya pembelajaran mendalam dalam pendidikan vokasi kembali ditegaskan dalam sebuah rapat koordinasi yang digelar di ruang meeting SMK Negeri 10 Semarang. Rapat ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi Kepala Sekolah SMK Gelombang II dan Guru SMK Gelombang III yang berlangsung di Jawa Tengah.
Pembelajaran mendalam dinilai menjadi salah satu kunci transformasi pendidikan vokasi, terutama dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan berkarakter. Oleh karena itu, hasil dari pelatihan perlu segera diimplementasikan di satuan pendidikan agar memberi dampak nyata bagi siswa.
Rapat koordinasi tersebut dilaksanakan pada Selasa pagi, 11 September 2025 di ruang meeting SMK Negeri 10 Semarang. Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Sumber Daya Manusia. Hadir pula para guru yang baru saja mengikuti pelatihan, di antaranya Mohammad Yunan S., S.Pd., Anis Indri H., S.Pd., Susanti, S.Pd., serta Dian Primayanto, S.Pd. Suasana rapat berlangsung hangat dan partisipatif, dengan semangat kolaborasi untuk mencari strategi terbaik dalam menguatkan implementasi pembelajaran mendalam.
Dalam sambutannya, Kepala SMK Negeri 10 Semarang menekankan bahwa rapat ini tidak hanya sekadar menindaklanjuti pelatihan, tetapi juga menjadi forum untuk menyelaraskan arah pengembangan sekolah. “Kami ingin memastikan bahwa apa yang diperoleh para guru dari pelatihan benar-benar bisa diadaptasi dalam konteks sekolah kita. Bukan hanya teori, tetapi harus menjadi praktik nyata yang memberi manfaat langsung bagi siswa,” ujarnya.
Agenda pertama yang dibahas adalah review dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari pelatihan. Para guru menyoroti pentingnya merancang strategi konkret agar praktik pembelajaran mendalam tidak berhenti pada tataran wacana. Mohammad Yunan, salah satu guru peserta pelatihan, menyampaikan, “RTL ini penting untuk menjembatani antara pelatihan dan kenyataan di kelas. Kami perlu menyesuaikan metode, bahan ajar, hingga penilaian agar siswa benar-benar merasakan pengalaman belajar yang bermakna.”
Selain RTL, rapat juga membahas peninjauan visi, misi, dan tujuan sekolah. Hal ini dilakukan agar arah pendidikan di SMK Negeri 10 Semarang selaras dengan konsep pembelajaran mendalam dan mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurut Wakil Kepala Sekolah bidang SDM, Hikma Nurul Izza, S.Pd, penyelarasan visi dan misi bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari strategi jangka panjang. “Visi dan misi sekolah harus terus dikontekstualisasikan dengan tantangan zaman. Dengan begitu, SMK Negeri 10 Semarang bisa melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri sekaligus berdaya saing global,” katanya.
Rapat juga memutuskan perlunya In House Training (IHT) pengimbasan. Kegiatan ini dirancang agar pengetahuan dan praktik baik dari pelatihan dapat ditularkan kepada guru lain di lingkungan sekolah. Dengan demikian, implementasi pembelajaran mendalam tidak hanya menjadi tanggung jawab segelintir guru, tetapi menjadi budaya kolektif di SMK Negeri 10 Semarang. “Kami berharap melalui IHT, seluruh guru bisa bergerak bersama. Semakin banyak guru yang memahami konsep ini, semakin besar dampaknya bagi siswa,” ungkap Anis Indri H., salah satu peserta rapat.
Agenda terakhir yang cukup strategis adalah penyusunan Learning Management System (LMS) versi SMKN 10 Semarang. LMS ini diharapkan menjadi inovasi digital yang mampu mendukung pembelajaran interaktif, terukur, dan terdokumentasi dengan baik. Menurut Susanti, guru yang ikut terlibat dalam tim penyusunan LMS, kehadiran platform digital akan memudahkan siswa dan guru berinteraksi dalam proses belajar. “Dengan LMS, siswa bisa mengakses materi kapan saja, sedangkan guru bisa memantau perkembangan belajar lebih sistematis. Ini langkah maju untuk digitalisasi pembelajaran di SMK,” jelasnya.
Harapan dari rapat koordinasi ini cukup jelas. Dalam jangka pendek, sekolah ingin memastikan konsistensi penerapan hasil pelatihan dalam kegiatan belajar mengajar. Sementara dalam jangka panjang, SMK Negeri 10 Semarang menargetkan diri menjadi role model pengimbasan pembelajaran mendalam bagi SMK lain di Jawa Tengah. Dampaknya diharapkan terasa langsung bagi siswa, yaitu pembelajaran yang lebih bermakna, sesuai kebutuhan dunia kerja, serta mampu membentuk profil pelajar Pancasila.
Dian Primayanto menambahkan, “Pada akhirnya, tujuan kita adalah memberikan pengalaman belajar terbaik bagi siswa. Dengan pembelajaran mendalam, mereka tidak hanya pintar di kelas, tetapi juga siap menghadapi tantangan kehidupan dan dunia kerja.”
Rapat ditutup dengan penegasan komitmen bersama antara kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan para guru untuk terus mengawal implementasi hasil pelatihan. Semangat kolaborasi yang ditunjukkan dalam rapat ini menjadi modal penting bagi SMKN 10 Semarang untuk bergerak maju.
Rapat koordinasi di SMKN 10 Semarang ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada rutinitas, melainkan harus terus berinovasi. Dengan menyatukan visi, strategi, dan semangat kebersamaan, sekolah diharapkan mampu menjadi motor penggerak transformasi pendidikan yang berkelanjutan di Jawa Tengah.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, S.Pd, Peserta Pelatihan Pembelajaran Kepala Sekolah SMK Gelombang II Kota Semarang.

Beri Komentar