SEMARANG-Minggu, 31 Agustus 2025, pelatihan Pembelajaran Mendalam memasuki hari kedua dengan materi mengenai Konsep dan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam. Kegiatan yang diikuti puluhan guru dari berbagai sekolah ini menghadirkan Fanny Firman Syah, fasilitator dari SMA Negeri 1 Semarang, sebagai pemateri utama. Suasana pelatihan yang berlangsung interaktif sejak pagi hingga siang itu memperlihatkan antusiasme tinggi dari para peserta yang ingin mendalami pendekatan baru dalam pembelajaran.
Dalam pemaparannya, Fanny Firman Syah menekankan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah sekadar metode pengajaran biasa. Ia menyebut bahwa pendekatan ini menekankan pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. “Pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang memuliakan, di mana murid didorong untuk mengolah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Tujuannya agar proses belajar tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memerdekakan dan membentuk karakter,” ujarnya.
Peserta pelatihan diajak memahami konsep dasar pembelajaran mendalam, menganalisis dimensi profil lulusan, serta mengidentifikasi prinsip dan pengalaman belajar yang relevan. Tak hanya teori, kegiatan ini juga dilengkapi dengan diskusi kelompok beranggotakan empat hingga enam orang. Mereka diminta membuat peta pikiran yang menghubungkan konsep memuliakan dengan prinsip pembelajaran mendalam. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan dan mendapatkan umpan balik dari peserta lain, menciptakan suasana belajar yang kolaboratif.
Konsep pembelajaran mendalam ini sejalan dengan amanat konstitusi dan undang-undang pendidikan. Dalam UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu ditegaskan pula dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan pentingnya suasana belajar agar murid aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual, kepribadian, kecerdasan, serta keterampilan. Pasal 3 undang-undang tersebut juga menegaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia beriman, bertakwa, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.
Fanny menambahkan, kerangka pembelajaran mendalam dirancang untuk membantu guru dalam mengelola pembelajaran yang terarah. Kerangka ini mencakup praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, hingga pemanfaatan digital. “Guru perlu melihat pembelajaran sebagai ekosistem, bukan sekadar kegiatan di kelas. Dengan memahami kerangka ini, guru bisa memetakan kebutuhan murid, menentukan strategi yang tepat, sekaligus menyiapkan asesmen yang sesuai,” jelasnya.
Pendekatan pembelajaran mendalam juga relevan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Menurutnya, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan, dengan demikian, tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi menjadi instrumen transformasi sosial yang membentuk manusia merdeka, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Salah satu peserta, Faridah Eriyaningsih dari SMA Negeri 12 Semarang, mengaku mendapatkan pencerahan dari materi hari kedua ini. Ia menilai pembelajaran mendalam mampu memberikan arah baru bagi guru dalam merancang proses belajar. “Materi konsep dan kerangka kerja pembelajaran mendalam sangat menarik. Dari sini saya jadi mengetahui bahwa PM bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses yang mendorong murid berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Kerangka pembelajaran ini juga membantu guru untuk menyusun pembelajaran yang holistik, mulai dari pemetaan kebutuhan murid, penerapan strategi belajar, hingga asesmen. Dengan begitu, pembelajaran bisa lebih terstruktur dan berdampak,” tutur Faridah.
Pelatihan ini tidak hanya menambah wawasan peserta, tetapi juga menguatkan pemahaman bahwa pendidikan di Indonesia harus berpijak pada semangat memerdekakan murid. Melalui pembelajaran mendalam, guru diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna sekaligus menyenangkan. Dengan cara ini, tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam konstitusi dan undang-undang dapat diwujudkan secara nyata.
Hari kedua pelatihan pun ditutup dengan refleksi bersama, di mana peserta diminta merangkum pemahaman baru yang diperoleh. Dari suasana yang terlihat, para guru menyadari bahwa pembelajaran mendalam bukan hanya tren pendidikan, melainkan kebutuhan yang harus diimplementasikan agar murid benar-benar tumbuh sebagai insan cerdas, berkarakter, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang dan Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Provinsi Jawa Tengah

Setuju sekali, luar biasa artikelnya sangat menginspirasi sekali
Luar biasa Pak Ardan,sangat menginspirasi sekali
Beri Komentar