Semarang – SMK Negeri 10 Semarang kembali membuat terobosan inspiratif melalui program pengumpulan botol plastik bekas yang melibatkan siswa, guru, dan karyawan sekolah. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah plastik, tetapi juga mendorong daur ulang, meningkatkan kesadaran ekologis, serta mendukung kegiatan sosial dan pembangunan masjid sekolah.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMK Negeri 10 Semarang, Helmi Yuhdana, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai bagian dari upaya edukatif dan pembentukan karakter peserta didik. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga peka terhadap persoalan lingkungan. Sampah plastik adalah salah satu masalah besar yang harus kita hadapi bersama. Lewat kegiatan ini, kami mengajak anak-anak untuk bertanggung jawab dan berkontribusi nyata,” ungkap Helmi saat ditemui di sela kegiatan pengumpulan sampah plastik di halaman sekolah, Jumat (1/8).
Botol plastik merupakan salah satu jenis sampah yang sulit terurai secara alami dan kerap mencemari lingkungan. Dengan mengumpulkan botol plastik bekas, para siswa belajar langsung mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Botol-botol yang berhasil dikumpulkan kemudian disetorkan ke bank sampah atau pengepul, untuk selanjutnya didaur ulang menjadi barang yang lebih berguna.
Selain manfaat ekologis, program ini juga memberikan dampak positif dalam dunia pendidikan. Kegiatan pengumpulan botol plastik bisa dikaitkan dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekitar (IPAS). Melalui pendekatan kontekstual ini, siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mengalami proses pembelajaran langsung melalui aksi nyata.
Di sisi lain, program ini turut mendorong pengembangan karakter siswa. Anak-anak dilatih untuk bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan, bekerja sama dalam tim, serta mengedepankan nilai solidaritas. “Setiap kelas memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan botol plastik, dan hasilnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh seluruh warga sekolah,” tambah Helmi.
Menariknya, hasil dari pengumpulan botol plastik ini juga dimanfaatkan untuk mendukung program sosial sekolah. Salah satunya adalah pembangunan Masjid Baitul Iman yang terletak di dalam lingkungan SMK Negeri 10 Semarang. Ketua Takmir Masjid Baitul Iman, Muslim Anwar, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif tersebut. “Donasi dari penjualan botol plastik sangat berarti bagi kami. Setiap rupiah yang terkumpul dari hasil daur ulang itu menjadi sumbangsih nyata dari siswa dan guru untuk pembangunan masjid. Ini bukan sekadar kegiatan lingkungan, tapi juga bentuk ibadah dan solidaritas,” ujar Muslim.
Salah satu siswa kelas XI, Zahra Ainnur Rahma, mengaku senang bisa ikut terlibat dalam program ini. “Awalnya saya tidak terlalu peduli soal sampah plastik, tapi sekarang saya jadi sadar ternyata botol plastik yang dibuang sembarangan itu bisa berbahaya bagi lingkungan. Sekarang saya jadi lebih peduli, bahkan di rumah juga mulai memilah sampah,” katanya.
Program ini juga mendapat dukungan dari guru-guru dan staf sekolah. Mereka ikut mengumpulkan botol plastik dan mengedukasi siswa di kelas tentang pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, pihak sekolah juga tengah menjajaki kerja sama lebih lanjut dengan dinas lingkungan hidup dan komunitas pecinta alam di Semarang untuk memperluas dampak program.
Tak hanya sekadar mengumpulkan sampah, SMK Negeri 10 Semarang ingin membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan. “Kami berharap kegiatan ini bukan berhenti sebagai proyek sesaat, tapi menjadi kebiasaan baik yang melekat dalam kehidupan anak-anak. Jika mereka sudah terbiasa memilah sampah sejak dini, kelak saat dewasa mereka akan menjadi warga negara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tutur Helmi.
Dengan menggabungkan aspek pendidikan, lingkungan, sosial, dan spiritual, program pengumpulan botol plastik ini menjadi salah satu contoh nyata pembelajaran holistik di lingkungan sekolah. SMK Negeri 10 Semarang menunjukkan bahwa kepedulian terhadap isu global seperti sampah plastik bisa dimulai dari langkah kecil di sekolah, dan memberikan manfaat besar bagi banyak pihak.
Langkah SMK Negeri 10 Semarang ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong sekolah untuk menerapkan pendidikan berbasis lingkungan. Kegiatan serupa diharapkan bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain di Jawa Tengah dan bahkan secara nasional, untuk tidak hanya mendidik dengan teori, tetapi juga dengan aksi nyata yang berdampak.
Hingga kini, jumlah botol plastik yang berhasil dikumpulkan sudah mencapai ribuan. Dana yang terkumpul dari hasil penjualan akan terus dialokasikan untuk mendukung pembangunan masjid. SMK Negeri 10 Semarang telah membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi pusat perubahan, tempat belajar sekaligus tempat menumbuhkan nilai-nilai kebaikan yang berdampak luas bagi masyarakat.
Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Ketua Pokja Pusat Keungggulan SMK Negeri 10 Semarang

Semangat bp ib karyawan lapangan
👍👍👍
Sangat memberikan inspirasi
Beri Komentar