Info Sekolah
Senin, 02 Feb 2026
  • SMK Negeri 10 Semarang menjadi Terbaik I Kelembagaan dengan Prestasi Terbanyak Jenjang SMK Cabdin I

Hari Kedua Pelatihan Pembelajaran Mendalam Berjalan Lancar, Peserta Antusias Dalami Konsep dan Kerangka Pembelajaran

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang – Suasana Pelatihan Pembelajaran di Semarang pada Kamis, 31 Juli 2025, terasa begitu hidup. Hari kedua rangkaian pelatihan ini berjalan lancar dan penuh semangat dari para peserta yang datang dari berbagai jenjang dan latar belakang sekolah. Modul 2 bertajuk Konsep dan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam sukses dituntaskan dengan apik, menghadirkan ruang refleksi yang kuat tentang esensi pendidikan yang sesungguhnya.

Modul yang terbagi dalam empat Kegiatan Pembelajaran (KP)—yakni KP1 Konsep Pembelajaran Mendalam, KP2 Dimensi Profil Lulusan, KP3 Prinsip Pembelajaran dan Pengalaman Belajar, serta KP4 Kerangka Pembelajaran—disampaikan secara bergantian oleh tiga fasilitator dengan pendekatan partisipatif. Peserta tidak hanya diajak mendengar, tetapi juga berpikir kritis, mendiskusikan gagasan, dan merancang pengalaman belajar yang kontekstual dan berpihak pada murid.

Sigit Priyatno, guru SMA Negeri 1 Semarang, menyampaikan kesan positifnya terhadap pelatihan ini. Ia menilai pendekatan pembelajaran mendalam mampu membuka ruang lebih luas bagi pengembangan potensi murid secara utuh. “Pembelajaran mendalam diharapkan dapat menginspirasi murid dalam mengembangkan bakat, minat, dan kemampuannya secara maksimal. Tidak hanya sekadar menguasai materi, tetapi juga memahami dan menerapkannya dalam kehidupan nyata,” ujar Sigit saat sesi istirahat.

Pernyataan tak kalah menggugah datang dari Asma’ Hanifah, guru SMA Islam Terpadu Harapan Bunda. Dalam pandangannya, pembelajaran mendalam adalah bentuk tertinggi dari proses memanusiakan manusia dalam pendidikan. “Pada Konsep dan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam, murid dimuliakan. Diasah segala kemampuannya sehingga olah rasa, olah raga, olah hati, dan olah pikir dapat benar-benar dioptimalkan,” ungkapnya.

Asma’ menambahkan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya menyasar kognisi, tetapi juga membentuk pribadi murid yang paripurna. “Dalam Delapan Dimensi Profil Lulusan, murid diharapkan mampu mencapai profil lulusan yang baik. Sehingga murid memiliki kompetensi yang paripurna saat lulus dari jenjang pendidikan,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya keselarasan antara nalar, rasa, dan akhlak dalam proses belajar.

Refleksi dari para peserta menunjukkan bahwa pelatihan ini lebih dari sekadar transfer pengetahuan. Ia menjadi ruang tumbuh bersama para guru, memaknai ulang peran mereka sebagai pendidik, sekaligus menguatkan kembali komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan murid. Fasilitator pun menyambut baik keterlibatan aktif peserta yang hadir dengan semangat belajar yang tinggi.

“Salah satu kekuatan utama pembelajaran mendalam adalah kemampuannya membangkitkan kesadaran guru untuk melihat murid sebagai manusia utuh, bukan objek pembelajaran semata,” ungkap salah satu fasilitator. Ia juga menekankan bahwa dalam model ini, guru menjadi arsitek pengalaman belajar yang menyentuh tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kehadiran tiga fasilitator dengan latar belakang berbeda memberi warna tersendiri. Mereka mengupas materi dari berbagai perspektif: filosofis, pedagogis, dan praktis. Hal ini membuat sesi pelatihan terasa dinamis dan inspiratif. Tak hanya itu, peserta juga diajak mengevaluasi praktik pembelajaran lama yang terlalu menekankan hafalan dan pencapaian akademik semata, lalu didorong untuk merancang skenario pembelajaran yang lebih bermakna dan menyentuh kehidupan nyata murid.

Diskusi mendalam tentang Delapan Dimensi Profil Lulusan di sesi KP2 menjadi sorotan tersendiri. Guru-guru diajak menautkan nilai-nilai seperti gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif ke dalam praktik sehari-hari di kelas. Sesi ini menghidupkan kesadaran kolektif bahwa membentuk karakter bukanlah wacana, melainkan proses berkelanjutan yang dimulai dari cara guru merancang pengalaman belajar.

Sesi KP3 dan KP4 menjadi penutup yang memperkuat kesatuan gagasan. Di sana, peserta merancang prinsip-prinsip pembelajaran yang menggembirakan dan menyentuh hati murid. Mereka menyadari bahwa guru bukan sekadar pengantar kurikulum, tetapi penjaga nyala semangat belajar dalam diri setiap anak.

Pelatihan hari kedua ini meninggalkan kesan mendalam. Banyak guru yang mengaku mulai menyusun ulang rencana pembelajaran mereka. Ada yang ingin mengintegrasikan proyek kehidupan nyata ke dalam pembelajaran, ada pula yang tergerak membuat ruang refleksi mingguan di kelas. Meski sadar akan tantangan implementasi di lapangan, semangat perubahan begitu terasa.

Dengan selesainya Modul 2, para peserta memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan ke modul berikutnya. Fasilitator menutup sesi dengan pesan sederhana namun kuat: perubahan dalam pendidikan bukan soal cepat atau lambat, tapi soal keberanian dan ketulusan untuk berpihak pada murid.

Pelatihan ini akan berlanjut ke tahapan berikutnya, dan para peserta pun menyatakan kesiapan mereka untuk terus belajar, berbagi praktik baik, dan menjadi bagian dari gerakan pembelajaran yang lebih manusiawi, membebaskan, dan memuliakan.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, Fasilitator Pembelajaran Mendalam BBGTK Jawa Tengah.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar